Showing posts with label pendidikan. Show all posts

Ide Membuat Superstart Education Training Sebagai Materi OSPEK Siswa Baru

1 comment
the secret in education lies in respecting the students

Hari Senin depan, sudah terbuka gerbang sekolah setelah liburan panjang. Berkaitan dengan penerimaan siswa atau mahasiswa baru, maka isu lama kembali berkembang. Yaitu isu tentang OSPEK atau LOS atau MOS. Ketiganya memberikan makna yang sama, yaitu suatu kegiatan untuk Orientasi Siswa baru, agar siap masuk ke jenjang pendidikan baru. 

OSPEK yang "kejam", aneh, nggak masuk akal, penuh "bullying" dan menciutkan nyali siswa baru, sudah saya alami beberapa kali. Jaman dulu, semakin "kejam", panitia semakin yakin itu adalah cara paling baik dan elegan untuk mempersiapkan adik-adik kelasnya. Biar mereka kuat mental, kuat fisik dan siap belajar adalah alasan yang diambil dibalik hidden agenda sebagai "balas dendam" terhadap perlakuan tak enak dari senior senior sebelumnya. Hal ini terus saja berputar putar seperti lingkaran pemain Roda Setan yang ada di acara Pasar Malam. Serem, bikin deg-degan namun asik jadi "tontonan".

Menyadari resiko besar dan berat dari konsep ospek kejam ini, maka para pemerhati pendidikan dan pemangku kebijakan pendidikan melakukan segala cara agar kita bisa memberikan masa orientasi siswa baru lebih akademis dan elegan. 

Siswa baru perlu disiapkan untuk siap memasuki kelas belajar. Maka perlu diberikan pengenalan secara akademis, kreatif dan masuk akal. 

Jangan ada lagi tugas menghitung jumlah beras, kacang hijau atau bicara pada spion. Itu tidak masuk akal. Lebih baik, mereka diberikan training cara membaca cepat, mencatat dengan mind map, dll. 

[Bpk. Anis Baswedan. Good Morning Net TV, 14 Juli 2016]

Kebetulan, konsep memberikan materi pendidikan di masa penerimaan siswa baru itu, pernah saya buat sewaktu kuliah pascasarjana Teknologi Pendidikan di Unesa. Tugas yang diberikan oleh dosen materi Teori Pembelajaran ini, saya beri nama SUPERSTART EDUTRAINING. Konsepnya silahkan dibaca dari 3 gambar slide dibawah ini:

superstart education training
Superstart Edutraining meliputi konsep :
Super Learning, Learning Style, Brainbased Learning dan Smart Spirit



Superstart Edutraining adalah konsep pelatihan singkat untuk siswa atau mahasiswa baru, dengan dasar mempelajari dan menguasai bagaimana cara belajar yang tepat dan efektif ( Learning How To Learn). 

Di sekolah formal, kebanyakan kelas belajar atau proses belajar dilakukan secara klasikal (bersamaan). Salah satu kendala dengan cara ini adalah adanya perbedaan gaya belajar tiap siswanya. Ada yang suka belajar dengan gambar, suara atau dengan jumpalitan dan bergerak. Yang disebut dengan gaya belajar visual, audiotorial dan kinestetik. 

Jenis dan tipe gaya belajar ini sudah bawaan tiap anak. Secara biologis, setelah diteliti, ternyata di bagian otak mereka ada perbedaan. Yang bergaya belajar visual, ada bagian otak yang lebih aktif dan banyak sel neuronnya. Begitu juga dengan lainnya. 

Kalau mengingat jaman saya sekolah dulu. Duduk manis, nggak boleh banyak gerak, membaca buku, mengerjakan soal, maju ke depan untuk mengerjakan soal atau menghafal perkalian dan selesai pulang. Nah, cara itu seyogyangya tidak lagi diterapkan sekarang. Kasihan dengan anak audiotorial yang butuh musik dan lagi untuk belajar, terlebih untuk anak kinestetik yang harus bergerak agar memahami materi belajar.

Begitu juga dengan cara mencatat. Saya masih sedih melihat teman anak saya atau "siswa" saya yang masih berusaha keras mencatat dengan tulisan yang rapii jali, pakai garis sana-sini. 
Haduuhh itu soo yesterday.

Sekarang jamannya bikin MIND MAP. Mencatat dengan banyak alur, coretan, gambar, warna yang kalau dilihat jadi kayak benang kusut atau spider web (jaring laba-laba). 

Mind Map tentang Gaya dibuat oleh anak saya waktu kelas 6 SD

Namun, jika dilakukan dengan tekun, mencatat ala mind map ini bisa mengoptimalkan cara belajar. Karena tiap KATA KUNCI bisa sambung-menyambung. 

Selain BELAJAR CARA BELAJAR, dalam konsep Superstart Edutraining juga saya masukkan ESQ (Emotional Spiritual Quotient). Yaitu mengembangkan konsep citra diri positif untuk emosi positif serta mental spiritual untuk kembali menguatkan mental anak-anak bahwa semua ini porosnya adalah DARI TUHAN DAN UNTUK TUHAN. Jadi, belajar juga bagian dari ibadah. Maka itu, harus dilakukan dengan sungguh-sungguh.  

Silahkan mengadopsi konsep Superstart Edutraining ini dalam lembaga belajar yang teman-teman kelola. Atau bisa diusulkan sebagai training reguler. Jika ada hal yang ingin didiskusikan, silahkan mengontak saya secara pribadi. Jika saya belum bisa memberikan solusi, nanti saya panggilkan guru-guru saya yang banyak tersebar di jagad raya ini. Mari kita tumbuhkan semangat belajar itu menyenangkan dan bagian dari ibadah. 

Semoga bermanfaat.
-Heni Prasetyorini-

Untuk ngobrol langsung, silahkan mention saya di twitter @HeniPR atau facebook Heni Prasetyorini

Guru, Coba Sampaikan Penghargaan Atas Prestasi Muridmu Dengan Secarik Kartu

No comments
Send to your students a postcard, they will received your heart

Sebuah kartu pos yang diterima oleh keponakan saya, Jasmin, dari gurunya ini membuat saya senang sekaligus tak tenang. 

Kartu yang diterima keponakan saya, Jasmin, dari gurunya
Jasmin sekarang masih tinggal di Jerman bersama ibu dan ayahnya, kakak tertua saya. Jika mereka menceritakan kondisi sekolah dan proses pembelajaran disana, saya begitu iri dan rindu hal itu juga terjadi di sini, di Indonesia. Begitu sederhana namun bisa kena di hati.


                               Status facebook ayah Jasmin, kakak tertua saya


Saya ulangi lagi, sebuah kartu pos yang diterima oleh keponakan saya, Jasmin, dari gurunya ini membuat saya senang sekaligus tak tenang.

Senang, karena dua hal.
Pertama, senang karena teringat surat cinta serupa dari murid saya ketika saya pernah mencicipi masa sebagai guru. Sekitar tahun 2004.
Kedua, senang karena di jaman serba digital ini, 12 tahun kemudian, 2016, keponakan saya masih merasakan manisnya menerima tulisan dalam bentuk kartu Pos.

Surat dari murid saya bernama Dea.
"Hallo bu Heni. Ini aku Dea. Aku hanya mau mengucapkan
Selamat Hari Kasih Sayang.
Semoga bu Heni Tambah sayang pada kami semua."

Tak tenang karena satu hal.
Bahwa dengan beberapa pengalaman, penghargaan kepada murid "biasanya" masih diberikan dari HASIL bukan PROSES mereka belajar. Hanya dari angka akhir di rapor, bukan dari usahanya belajar berulang-ulang setiap hari. Dan kemajuan demi kemajuan yang mereka ciptakan.

Namun saya tidak pernah pesimis akan perubahan pendidikan dan pola pendidikan di negeri ini. Saya selalu optimis, ke depan akan ada kemajuan dan menjadi lebih membumi, lebih baik, lebih kena di hati.

Mengirim Kartu Pos Untuk Generasi Digital, Masuk Akal?
Tentu saja masuk akal.
Betapapun digitalnya kita, takkan mau hanya dipeluk oleh ibu berbentuk hologram kan?
Ya, kita masih butuh bentuk fisik.
Butuh sesuatu yang bisa disentuh, dirasakan oleh panca indera kita.

Bahkan sebagai pegiat digital, saya merindukan lagi menerima kiriman surat dan kartu dalam bentuk fisik. Sempat kemarin saya menerima surat dan kiriman majalah dari mbak Hanny Von Gillern, teman pena saya dari Amerika. Namun belakangan kami hanya berkomunikasi via email.

Kartu pos yang diberikan oleh guru Perancis keponakan saya itu, memberikan kesadaran baru. Bahwa cara ini bisa jadi efektif untuk mengungkapkan penghargaan kita atas USAHA murid kita dalam belajar.

Perlu dicatat ya, USAHA, bukan hasil.


Saya sendiri membayangkan. Seandainya di suatu sore yang sejuk, mendadak datang pak Pos mengantarkan Kartu Pos dari guru saya. Dengan nada yang sama seperti kartunya Jasmin, pasti sangat membanggakan.

Begitu juga dengan anak kita, murid kita.

Mungkin dengan menyempatkan diri mengatakan hal kecil yang kita banggakan atau kita hargai dari usaha murid kita itu, akan sangat berharga bagi mereka.

Kita bisa menulisnya di sebuah Kartu Pos dan mengirimkan ke alamat rumahnya. Jangan hanya kiriman teks digital. Karena surat fisik atau Kartu Pos, bisa mereka sentuh, mereka simpan dan mereka baca ulang.

Iya memang, mereka sekarang adalah generasi Millenial. Mencoba melakukannya baik juga kan?
Siapa tahu dengan cara ini, mereka semakin terpacu semangatnya belajar karena merasa dicintai, diterima dan dihargai oleh gurunya.

Jika murid senang, akan mudah dia belajar. Jika dia mudah belajar, akan berprestasi.  Jika murid bisa berprestasi, guru juga pasti senang.

Wahai Guru, silahkan mencoba, kirimkan Kartu Pos tanda cinta pada muridmu :)

-Semoga Menginspirasi-
      Heni Prasetyorini

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter:@HeniPR atau di Facebook

Seru banget! Ada Kartu Baca Animasi Seperti Kartu Coki-Coki

3 comments
Ma, lihat kartu Boboi Boy - nya bergerak. 
Panggilan anak saya itu menarik perhatian. Lalu saya mengikuti permintaannya, meletakkan kartu Boboi Boy ke bawah tablet androidnya. Dan voila...terlihat animasi gerakan kartun Boboi Boy sedang bertempur dengan musuhnya. Wah, amazing. Saya pun merekamnya. 



Anak saya bilang kartu animasi ini hadiah dari jajan merk coklat Coki-Cok*. Wah, super. Teknologi canggih, Augmented Reality sudah menyebar dengan mudahnya di masyarakat. Masa depan era digital untuk pembelajaran bisa terbuka lebar nih, itu pikir saya. 

Kenapa?
Saya sebenarnya sudah lama mendengar konsep teknologi AR atau Augmented Reality ini. Saya melihatnya di acara talkshow televisi yang membicarakan tentang kartu animasi atau kartu 4 dimensi buatan Octagon Studio. Kartu karya anak-anak dari Bandung itu cukup menyita perhatian saya. 

Bagaimana tidak. Kartu biasa kemudian menjadi gambar animasi dengan menyorotkan kamera dari ponsel pintar. Wah, jenius. 

Terbayang kan, jika anak kita yang masih kecil-kecil, belajar mengenal huruf dan membaca melalui kartu ini? Saya kemudian menulisnya di blog, tentang kartu 4 dimensi. Seperti inilah tampilannya. 


Ketika kartu bergambar lebah didekatkan kartu bergambar bunga, maka akan tampak animasi lebah terbang ke arah bunga untuk menghisap madunya. Dua kartu ini untuk pembelajaran mengenal huruf, bentuk hewan sekaligus jenis makanannya. Ada suaranya juga loh. Menarik bukan?
Setelah booming kartu coki-coki (nulis merk gapapa kali ya? siapa tau diberi job sama coki-coki, hehehe), saya mulai penasaran lagi dengan teknologi AR dan kartu buatan Octagon Studio ini.

Eh ternyata sekarang makin banyak kartunya loh. Dari tulisan saya di blog juga, saya akhirnya kenalan sama teman yang berjualan kartu ini. Lebih mudah deh dapatnya.

Di bawah ini video cara menggunakan kartu 4 animasi dan jenis kartu yang bisa dibeli dari saya.

Ini video dari Octagon Studio


Kartu Animal 4d (untuk belajar baca dan mengenal binatang)

Contoh tampilan kartu animal 4D


Kartu Octaland 4D (pengenalan profesi)

Tampilan kartu Octaland 4D


Tampilan kartu Octaland 4D

Kartu Animal 4D

Kartu Space 4D (tentang luar angkasa)


Kartu Hijaiyah 4d



Kartu Octaland 4D

Kartu Dinosaurus 4D 

Kartu Transportasi 4D


HARGA KARTU BELAJAR 4 DIMENSI
  1. ANIMAL 4D CARD OCTAGON STUDIO 55.000
  2. OCTALAND 4D CARD OCTAGON STUDIO 55.000
  3. SPACE 4D CARD OCTAGON STUDIO 75.000
  4. DINOSAURUS 4D CARD OCTAGON STUDIO 55.000
  5. TRANSPOR ABC KUASAR STUDIO 65.000
  6. HIJAIYAH 4D ORIONS STUDIO 55.000
Note: harga belum termasuk ongkoa kirim dan bisa berubah sewaktu-waktu.

Tahap sebelum membeli kartu belajar animasi:

1. Baca artikel ini sampai paham.
2. Unduh aplikasi di playstore, keyword : octagon studio (pilih salah satu aplikasi, bisa animal, space,octaland)
3. Jika salah satu aplikasi bisa diunduh di perangkat anda, maka bisa menggunakan kartu ini.
4. Pesanlah kartu sesuai keinginan. Ingat satu kartu belajar animasi harus mengunduh satu jenis aplikasi yang sesuai.
5. Hubungi kontak dibawah ini untuk info dan pemesanan.

INFO DAN PEMESANAN (pilih salah satu):
  1. LINE / TELEGRAM = heniprasetyorini
  2. Whatsapp 087851781356
  3. pin BB 5842E4CD
  4. Facebook messenger ke Heni Prasetyorini
  5. Email: heni.prasetyorini@gmail.com
Note:
Awas kartu tiruan. Sekarang banyak yang beredar dengan harga sangat murah atau ukuran lebih kecil. Kartu saya berasal dari official distributor.

Bagaimana?
Apakah tertarik menggunakan kartu baca animasi ini?
Konon katanya, belajar membaca akan kurang optimal jika hanya sekedar mengajarkan membaca. Menggunakan kartu ini, tentu akan memberikan pengalaman belajar baru dan menyenangkan buat anak. Selain anak mengenal teknologi canggih sesuai jamannya. Anak pun bisa belajar mandiri serta terbiasa menggunakan gadget untuk belajar.

Didiklah anak-anakmu sesuai jamannya. Karena mereka hidup bukan di jamanmu.  (Ali bin Abi Thalib)
Ditunggu ordernya ya :-D 





Tetap Sekolah Atau Homeschooling? Apakah Anda juga Mengalami Kegelisahan Ini?

9 comments

Education is a weapon to change the world (Nelson Mandela).

heni prasetyorini

Tetap sekolah atau homeschooling? Apakah ini sudah saatnya memilih yang lebih baik dan terbaik untuk pendidikan anak-anak saya? Bagaimana sebaiknya? Saya mencoba menelusuri kegelisahan saya ini. Jika anda mengalami hal yang sama, marilah kita berbagi cerita.

Saya adalah saksi nyata betapa pendidikan bisa mengubah kehidupan. Keluarga kami dulu dalam kondisi ekonomi, sosial dan pendidikan yang di bawah rata-rata. Ibu tidak sempat ikut ujian kelulusan SD, bapak hanya mengenal calistung di Sekolah Angka Loro (2 SD). Yang mengagumkan adalah, ibu dan bapak kami mempunyai komitmen yang sama yaitu memperjuangkan pendidikan anak-anaknya. Ibarat kata, makan seadanya, baju ala kadarnya,  asal bisa sekolah.

Dan alhamdulillah berkat kerjasama keluarga, pendidikan dari sekolah bisa meningkatkan kehidupan kami baik secara ekonomi, sosial maupun intelektual. Dalam keluarga kami yang terdiri dari 9 anak, sudah ada yang sampai menjadi professor, doktor, master, sarjana dan diploma. Sebuah pencapaian di luar batas imajinasi rakyat jelata biasa, dikarenakan pendidikan yang baik.

Sekolah, dalam hal ini sekolah formal, adalah institusi penting bagi keluarga kami. Tidak ada opsi lain mendapatkan pendidikan kecuali dari sana. Namun dalam perkembangan jaman, pandangan ini ternyata berubah. Di jaman kreatif ini, belajar atau mendapatkan pendidikan tidak lagi hanya bersandar pada sekolah formal. Belajar tidak hanya dicapai dengan berangkat pagi ke sekolah. Bahkan di rumah saja pun bisa. Seperti halnya konsep belajar di rumah atau di tempat non formal lainnya. Konsep ini dikenal dengan beberapa istilah: home based education, homeschooling, flexi school, mobile school, traveling school dan penamaan lainnya yang mengikuti cara para praktisi pendidikan di luar sekolah.

Saya sudah lama mengenal konsep homeschooling (HS) dan berinteraksi dengan beberapa ibu yang mempraktekkannya di rumah. Sungguh menarik konsep yang diusung, antara lain:
1. Belajar adalah hak anak, bukan sekedar kewajiban.
2. Setiap anak unik, tidak bisa belajar dengan cara yang harus sama dan kecepatan belajar yang sama.
3. Pentingnya kemerdekaan belajar.
4. Belajar dengan alam.
5. Mengarahkan anak sesuai minat, bakat, passion dan kompetensinya.

Walau sudah tertarik dengan konsep HS ini, saya masih mengirimkan anak-anak saya ke sekolah formal. Bukan karena tidak percaya kebaikan HS, melainkan belum punya nyali. Saya tidak punya nyali sebagai guru tunggal untuk anak-anak saya. Saya cemas tidak akan bisa konsisten atau istiqomah mengajari anak-anak belajar seperti di sekolah formal. Terlebih pelajaran agama islam. Saya yang berlatar belakang belajar di sekolah negeri sejak kecil sampai besar, sedikit sekali berkesempatan belajar ilmu agama. Mengirimkan anak ke sekolah swasta berbasis islam, adalah pilihan terbaik saya dan suami.

Kami mencoba bertahan dengan segala kekurangan dan ketidakcocokan yang terjadi di sekolah. Dan sebisa mungkin meng-cover-nya di rumah. Dengan tetap berpandangan seperti ini:
1. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Sebagus apapun sekolah, pasti ada kekurangannya.
2. Guru juga manusia, wajar jika ada yang salah.
3. Namanya sekolah ya begitu. Tertekan, di-bully teman, capek, bosan. Itulah fakta hidup. Nanti jika sudah bekerja ya begitu ritmenya sama. Capek, bosan, tertekan.


Akan tetapi semakin hari pandangan saya itu seperti bertanya pada diri saya sendiri. Benarkah begitu? Benarkah ketika kerja nanti kita bakal capek, bosan, tertekan? jadi harus dibiasakan sejak kecil. Sejak di jaman sekolah untuk bisa mengatasi dan bertahan pada keadaan capek, bosan, tertekan di sekolah?

Bisakah kita kelak bekerja dengan senang, bersemangat walau sedang capek dan menghadapi deadline? . Bisakah kita belajar dengan gembira, penuh rasa ingin tahu, ringan, terus menarik, terus menimbulkan rasa penasaran dan kemudian EUREKA!!! berteriak girang karena menemukan jawabannya dari belajar?

Bisakah saya mengubah pandangan ini demi anak-anak saya, supaya bisa hidup lebih baik, bahagia dan bermakna?

Ketika sekolah punya ritme : belajar di sekolah - pulang bebas main game - libur bebas menganggur.
Ketika bekerja punya ritme : bekerja di kantor - pulang nonton TV - liburan tidur sepuasnya.
apakah kedua ritme hidup seperti diatas, adalah yang terbaik?

Bagaimana jika dibalik?
Belajar dan bekerja sesuai minat dan bakat. Sehingga sepanjang hari seperti melakukan hobi?
Tidak ada hari libur, kurang tidur itu semuanya masih terasa menghibur.

Pertanyaan semakin banyak yang bermunculan, "benarkah yang kulakukan ini?".
Apakah mengirimkan (memaksa) anak ke sekolah itu terbaik buat mereka?. Apakah beberapa kali mereka menangis minta sekolah di rumah saja itu berasal dari sanubari anak saya yang paling dalam? Bukan hanya karena kecewa dengan teman atau gurunya? Apakah selama ini anak-anak saya merasa dan memendam rasa tertekan di sekolahnya? Sehingga ketika bangun pagi di hari biasa begitu susahnya. Tetapi ketika bangun pagi di hari libur begitu cepat dan cerianya?. Apakah mereka sebenarnya kewalahan? sehingga setiap akan berangkat sekolah dan dijemput pulang sekolah, selalu berkata, "aku capek,ma."

Saya banyak merenung belakangan ini. Ada rasa cemas bahwa sistim belajar di sekolah anak saya sekarang malah kontraproduktif. Tanpa terasa memadamkan potensi dan passion mereka. Karena harus berjuang susah payah memenuhi nilai KKM hasil ujian sekolah. Walau saya berusaha menerapkan ke anak, " yang penting kamu suka belajar, ingin tahu, mencari tahu dan berbagi tahu. Tidak penting nilai berapa". Namun tuntutan sekolah dan respon guru terhadap nilai ujian anak saya, cukup menambah pikiran juga.

Apakah anda mengalami hal yang sama? Ataukah saya pribadi yang bergulat dengan pikiran ini sendiri? Ah entahlah. Saya sedang tidak bertujuan membandingkan Sekolah vs Homeschool secara umum. Lalu menganggap buruk salah satunya. Saya percaya Sekolah itu penting. Namun mungkin, dengan karakter anak-anak saya, dan bakatnya yang mulai terlihat, mereka kurang pas jika harus belajar secara klasikal dan seragam di sekolah formal.

Untuk mendapatkan jawaban dari kegelisahan ini, saya memilih untuk lebih aktif melakukan riset. Saya pun membuat status di facebook tentang hal tersebut, karena bertanya di sosial media masih menjadi cara paling efektif untuk mencari link networking. Dan itu benar.


 Alhamdulillah respon cepat dari teman-teman saya di facebook. Beberapa teman menge-tag nama temannya yang mempraktekkan HS. Dalam hitungan jam, saya bisa berkomunikasi dengan mereka, praktisi HS di Surabaya. Saya bertanya dan meminta dimasukkan dalam grup di whastapp. Saya ingin berkumpul, bertemu, bicara dan melihat keseharian mereka. Saya ingin mengumpulkan data sebanyak mungkin dengan melibatkan anak dan suami juga. Untuk kemudian memutuskan mana yang terbaik untuk pendidikan anak-anak saya. Bagaimana dengan anda?




Masih Perlukah Anak Menghafal Tabel Perkalian?

8 comments
Aku ingin anakku itu otaknya diisi hal yang berguna saja. Ngapain harus menghafal tabel perkalian segitu banyaknya, sih!
Matematika anak sekolah dasar
Perlu dong :)
Seorang wali murid protes kepada guru matematika anaknya. Beliau tidak mau anaknya “dipaksa” untuk menghafalkan tabel perkalian dari 1 sampai 10. Alasannya cara itu hanya akan menjejali otak anaknya dengan hal yang tidak penting. Karena di jaman sekarang ini, perkalian bisa dihitung dengan banyak alat dan ¬gadget canggih, tidak perlu repot-repot dihafalkan. Beliau ingin anaknya mempunyai otak seorang imajinator dan kreator. Yang tidak hanya menghafal namun sanggup berimajinasi dan menciptakan hal baru seperti Einstein atau bahkan pembuat Google dan Microsoft.

Yang jadi pertanyaan adalah benarkah anak tidak perlu menghafal tabel perkalian? Angka adalah hal yang paling abstrak di dunia ini. Itulah sebabnya untuk mempelajari matematika, perlu dikuatkan terlebih dahulu pemahaman terhadap konsep perkalian sebagai penjumlahan yang berulang. Sekedar menghafalkan saja tanpa paham tentu bukan cara efektif untuk belajar. Pemahaman perkalian bisa dikenalkan sejak usia dini sampai kelas 2 SD. Selanjutnya anak diberikan latihan soal sederhana.

Ketika sudah beranjak kelas 3 SD, perkalian menjadi dua digit. Dimana jika dihitung menggunakan konsep penambahan berulang saja, akan menyulitkan anak. Misalnya untuk soal (23x9). Jika anak mengerjakan dengan konsep penjumlahan berulang, dia harus menghitung (23+23) sampai 9 kali. Itu bisa melelahkan dan membuat anak malah jadi frustasi. Apabila dia sudah hafal hasil perkalian untuk angka 9, maka dia akan lebih mudah menyelesaikannya.

Dari sini diambil kesimpulan bahwa Menghafal Tabel Perkalian itu perlu. Apalagi di Indonesia, bahkan sampai ujian nasional tingkat SD-SMA pun dilarang menggunakan kalkulator dan alat bantu (gadget) lainnya Kenapa perlu? Karena menghafal adalah salah satu keterampilan yang akan terus diperlukan anak dalam menghadapi hidupnya. Banyak aspek kehidupan yang memerlukan hafalan. Misalnya menghafal alamat rumah, nomer telepon penting, nomer telepon orang tua dan anak, nomer rekening, pin BB dan sebagainya. Jika tidak terbiasa untuk menghafal sama sekali, tentu manusia harus bergantung pada alat, benda atau catatan yang harus dibawa kemanapun dia pergi. Dan hal ini hampir mustahil dilakukan. Konsep menghafal bisa dipahami sebagai hasil mengkonstruksi teknik mengingat berdasarkan cara yang ditemukan sendiri oleh seseorang.

 “Bruner states that learning the structure of knowledge facilitates comprehension, memory, and transfer of learning”. 

Dalam perspektif teori belajar, Brunner memberikan bahwa mempelajari struktur pengetahuan itu meliputi pemahaman, memori dan transfer belajar. Jadi tahapannya ketika anak sudah paham, perlu mengingatnya hingga masuk dalam memori kemudian menyalurkan kemampuannya itu misalnya dengan mengerjakan soal latihan atau mempraktekkannya. Menghafal tabel perkalian adalah hal yang berguna. Yang perlu menjadi perhatian adalah cara melatih anak atau peserta didik dalam menghafal tabel perkalian. Semua itu harus disesuaikan dengan tingkat kemampuan akademik anak, emosi anak, kondisi anak juga gaya belajar anak.

Anak mempunyai cara belajar yang berbeda-beda. Ada yang suka menghafal sambil berteriak atau menyanyi, jika bergaya belajar audiotorial. Ada yang membuat catatan dengan gambar unik dan ditempel di dinding kamar, untuk yang bergaya visual. Atau menggerakkan jari jemarinya, jika dia bergaya kinestetik. Penyesuaian ini akan lebih efektif daripada cara kuno yaitu memaksa anak maju ke depan satu per satu untuk menghafal perkalian. Dan membentak atau memarahinya, serta melarangnya pulang ke rumah jika belum hafal. Metode kuno ini sebaiknya sangat dihindari. Karena bentakan atau paksaan belajar ketika anak sudah lelah, malah kontra produktif. Otak anak jadi ‘terluka’ dan malah tidak bisa berpikir sama sekali ‘thinking block’.

 Selain itu, bentakan yang membuat anak menjadi takut, marah, sedih, kesal, malah akan memutus syaraf neuron otak anak yang sudah terjalin dengan indah ketika dia sudah menghafal satu demi satu hasil perkalian. Paksaan, amarah dan respon negatif dari pendidik atau orang tualah yang bisa menghambat perkembangan anak sendiri. Jadi menghafal beberapa materi pelajaran perlu dilakukan dengan cara yang sesuai dengan karakter dan gaya belajar masing-masing anak.

Good bye Bookmark, Welcome Evernote Web Clipper

5 comments
Pernahkah anda mengalami kesulitan mengingat judul website yang telah anda bookmark?
Dan ketika membuka bilah bookmark di Google Chrome, pening sendiri dengan daftarnya yang panjang? 
Dan karena frustasi akhirnya anda pun browsing lagi dan mencari informasi baru, yang belum tentu sebaik hasil browsing sebelumnya. Bete kan?

Nah, sekarang nggak perlu bete lagi, ada solusinya. Yaitu aplikasi keren bernama EVERNOTE. 

Saya jatuh cinta pada aplikasi ini sejak rajin mencari informasi tentang e-learning, dan akhirnya menemukannya.

Evernote.com
Evernote adalah aplikasi pengorganisasian catatan, sekilas mirip dengan Google Drive. Kita bisa menyimpan file di aplikasi itu dan membaginya dengan mudah. Fitur lengkap evernote akan dibahas khusus di artikel lain. 

Evernote mempunyai fitur yang bisa mengatasi masalah klasik bookmark, yaitu Evernote Web Clipper. Web clipper ini bisa dipasang widgetnya di chrome extension, jadi lebih mudah untuk diaplikasikan pada laman web yang ingin kita simpan. 

Sebelumnya, anda bisa mencari di Google, "Download Evernote Web Clipper". Lalu ikutilah prosedurnya. Setelah aplikasi terunduh di laptop dan widget chrome anda, maka perlu dilakukan "sign up" akun dulu di Evernote. 

Kenapa ini dilakukan?
Karena Evernote adalah aplikasi yang bisa diakses di semua gadget, di komputer, laptop dan android. Dengan mempunyai akun di Evernote, maka anda bisa mengakses informasi yang sama seperti yang anda simpan dalam akun anda. Termasuk Evernote Web Clipper. 

Jadi, bagaimana cara menyimpan laman penting hasil browsingan kita dengan Evernote Web Clipper?

1. Bukalah website/laman yang ingin disimpan. 
     Contohnya : http://www.theworkathomewoman.com/internet-research/ 

2. Lalu klik icon gambar gajah di sudut kanan atas, sehingga muncullah kotak perintah web clipper,
     seperti di bawah ini:

Web Clip Laman dengan Evernote Web Clipper
 3. Pilihlah jenis clip yang ingin disimpan dan ditampilkan di Evernote. Bisa Artikel, Artikel           Sederhana, Laman Penuh, dll.

4. Lengkapi membuat Folder penyimpanan, contoh: folder BLOGGER. lalu klik SIMPAN.

5. Setelah langkah selesai, maka bukalah kembali laman evernote.com dengan akun anda. Maka akan muncul tampilan seperti berikut di Home evernote anda.

Tampilan Hasil Web Clipper di Desktop Laptop
6. Evernote juga bisa diunduh dan diakses di tablet android atau ponsel android (smartphone). Setelah diunduh dan login, maka akan tampil juga hasil Web Clipper anda di gadget tersebut. Seperti         tampilan di bawah ini:


Tampilan Hasil Web Clipper di Tablet Android
7. Evernote Web Clipper, bisa menampilkan Artikel Sederhana lengkap semua artikelnya bisa dibaca langsung tanpa membuka dulu link sumber aslinya, seperti gambar di bawah ini :

Tampilan Hasil Web Clipper di Tablet Android
*klik gambar untuk memperbesar

Sehingga ketika kita ingin melihat ulang semua laman yang telah disimpan (di web clip), akan lebih mudah. Karena ada lengkap, tampilan gambar, tulisan artikel, dll. Bahkan kita bisa kembali membuka link hidup artikelnya, dengan menge-klik 'OPEN SOURCE' seperti yang ada di garis merah di atas.

Untuk versi gratis (free version), fitur di Evernote ini hanya bisa diakses secara online (ada sambungan internet). Akan tetapi jika kita sudah upgrade ke versi premium dan berbayar, maka webclipper bisa diakses secara offline.

Aplikasi Evernote Web Clipper ini menarik sekali dan bisa membantu pekerjaan anda lebih efektif. Menerapkannya dalam pembelajaran di sekolah/kuliah, bisa membantu guru dan muridnya dalam menggunakan teknologi internet untuk mempermudah kegiatan belajar mengajar. Selamat mencoba.

-HPR-

Mudahnya Membuat Mind Map Digital dengan Mind Maple

5 comments
Mind map (peta pikiran) adalah cara mencatat kreatif yang pertama kali saya kenal dari buku Quantum Teaching. Buku ini adalah hadiah dari kakak pertama saya, Agus Rubiyanto, yang sekarang lagi gemetar kedinginan di negeri seberang. Juga sedang  berjuang dengan segenap jiwa raganya untuk menunjukkan kebaikan dan kehebatan Indonesia di mata dunia.. Moga-moga someday adeknye nyusul bisa ngrasain salju ya mas :-D . Dan bisa melakukan sesuatu yang berguna untuk bumi nusantara ini. Amin.

Kembali ke Mind Map. Inti dari teknik mencatat ini adalah membuat catatan yang saling berhubungan dari kata kunci penting suatu bacaan. Contohnya seperti mind map tentang "Gaya" (pelajaran IPA)  yang ditulis oleh anak saya, Aldo.

Mind Map Manual

Mencatat dengan teknik mind map ini menarik dan mudah untuk dibaca ulang. Sehingga proses belajar anak bisa lebih efektif dan menyenangkan. Cara belajar ini juga sesuai dengan kinerja otak manusia (brainbased learning).

Selain bisa ditulis secara manual dengan pulpen warna warni, mind map juga bisa dibuat secara digital. Ada beberapa aplikasi yang menyediakan program membuat mind map digital, baik yang gratis atau berbayar. Khusus untuk yang gratisan, menurut saya, aplikasi paling mudah digunakan adalah Mind Maple.

Untuk menggunakannya, kita perlu mengunduh dulu program ini ke dalam komputer atau laptop. Buka saja website, www.mindmaple.com lalu klik "download", dan pilihlah produk yang gratisan, Mind Maple Lite. Lanjutkan sampai program terunduh dan terinstall dengan baik di komputer atau laptop kita.



Selanjutnya, akan muncul pilihan theme dan template untuk membuat Mind Map, dengan tampilan sesuai yang kita inginkan. Untuk lebih jelasnya, silahkan simak video tutorial saya berikut ini:


Yang menarik adalah file Mind Map ini bisa disimpan sebagai gambar. Sehingga file-nya akan mudah untuk di copy paste ke slide presentasi kita di Power Point, ms  Word atau dicetak langsung.



Mind Map digital akan memudahkan guru, ortu atau orang yang mau presentasi karena file aslinya mudah untuk dimodifikasi jika ada revisi.

Untuk belajar anak kecil, mereka bisa diajak untuk membuat Mind Map tentang diri mereka sendiri. Misalnya : nama, ciri fisik, cita-cita,hobi disertai gambar yang lucu-lucu. Selamat mencoba.


Belajar Asik Dengan Kartu 4 Dimensi dari Octagon Studio

No comments
Pagi tadi saya melihat berita di televisi, tepatnya di acara Morning Show Net TV. Ada hal yang sangat menarik di segmen talk show. Yaitu tentang kartu 4 dimensi.

Saya tidak mengikuti dari awal, namun sudah tahu kata kuncinya. Jadi, kartu 4 dimensi adalah model kartu flashcard biasa yang jika disorot kamera gadget android/ipad, maka gambar pada flashcard bisa tampak seperti nyata disertai suara.

Misalnya kartu bergambar hewan lebah akan muncul gambar 4 dimensi dari lebah yang bisa bergerak dan bersuara. Di kartu lain jika ada gambar bunga matahari, maka muncul visualisasinya juga. Nah kalau kedua kartu ini didekatkan, maka gambar lebah akan bergerak mendekati gambar bunga matahari.  Bisa jadi pembelajaran rantai makanan.

Sumber gambar disini

Kartu 4 dimensi ini dibuat oleh anak bangsa sendiri loh, Octagon Studio. Kabarnya anak Bandung. Ikutan bangga ah, walau di Bandung cuma 4 tahun hehehe. Postingan ini juga bukan dalam rangka lomba review atau endorse, saya kagum dan ikut senang dengan adanya kartu ini.

Teman-teman yang masih punya balita atau jadi guru PAUD dan TK, kartu 4 dimensi ini bisa jadi alternatif media belajar yang menarik. Perangkat yang dibutuhkan adalah kartu 4 dimensi dan gadget android/ipad. Karena perlu menginstall software di gadget agar bisa melihat kartu secara 4 dimensi.

Materi yang sudah ada adalah hewan, antariksa. Untuk lengkapnya bisa dilihat di www.kartu4dimensi.com

Semoga bermanfaat dan selamat belajar bersama anak-anaknya ya.
*dukung pembelajaran berbasis rumah

Berbagi Tentang Google Drive dan Blog Di Panglungan Wonosalam

2 comments

Tepat di hari pahlawan, 10 November 2014, Senin, saya bersama beberapa teman ada di desa Panglungan, Wonosalam Jombang.

Kami memenuhi tugas mata kuliah PPL di semester 2, S2 Teknologi Pendidikan UNESA. Ini adalah pengalaman pertama saya melakukan PPL  ke desa. Jaman masih S1 di Kimia ITB, tidak ada mata kuliah semacam ini, PPL ataupun KKN. Tugas akhir hanya berkutat di laboratorium dan penelitian.

Menjadi Pemateri Tentang Blog

Sungguh pengalaman yang sangat menarik. Saya bersama teman, didapuk sebagai Penyaji Materi. Teman yang lain, lebih sibuk lagi sebagai fasilitator dan penyambung antara mahasiswa dan pihak sekolah. Mengurus surat menyurat dan keperluan birokrasi untuk laporan akhir.

Tema yang kami pilih setelah survey awal, adalah Optimalisasi Internet Sebagai Sumber Belajar. Yang intinya berisi materi memanfaatkan aneka aplikasi yang diberikan oleh Google secara gratis. Yaitu Gmail, Mailing List,  Google Drive, Google Form, Google Doc dan Blog.

Menyimak dengan Serius

Para Peserta sangat antusias. Terlihat begitu tertarik mencoba sendiri materi yang kami sajikan di laptop.

Kendala utama hanya pada koneksi internet yang sangat lambat. Segala cara kami coba, mulai modem router, tethering dari hp android dan modem biasa. Mulai dari smartfren, indosat, simpati dan XL. Semua sinyal internetnya putus nyambung. Apalagi cuacanya mendung dan kadang hujan deras sekali. Walau begitu kami masih semangat menanti loading demi loading dan menyelesaikan materi semaksimal mungkin.


Guru dan Kru PPL

Dari bincang-bincang ringan, akhirnya ketahuan kalau ada beberapa guru yang juga satu alumni dengan saya, yaitu di SMA Negeri 2 JOmbang. Beliau adalah Kepala Sekolah MTsN Panglungan Wonosalam, ibu Umi Khoiriyah. Dan satu guru perempuan lagi, saya lupa namanya. Dari cerita beliau, sebenarnya kompetensi para guru sudah cukup mumpuni untuk meningkatkan kinerjanya. Semuanya sarjana dan responnya baik secara akademik. Minim fasilitas saja yang masih jadi kendala pemerataan kualitas pendidikan di desa.
Heni - Hay

Saya berharap di pemerintahan pak Jokowi ini, ada peningkatan yang signifikan pada akses internet di Indonesia. Karena internet bisa mempermudah kinerja para guru dan murid. Tentu saja, penggunaan internet sehat pun harus selalu digaungkan dan menjadi tanggung jawab bersama. Keikutsertaan saya di PPL semakin memantapkan niat saya untuk lebih serius mengotak-atik e-learning, agar kelak jika internet di Indonesia sudah bagus, banyak situs berbahasa Indonesia yang berkualitas bagus dan bisa diakses untuk keperluan pendidikan. Semangat :)