Showing posts with label edutek13. Show all posts

BBM Based Learning - Belajar Dengan BBM

8 comments
Ketika belajar di prodi Teknologi Pendidikan Unesa, dua tahun kemarin saya mendapatkan banyak hal. Salah satunya adalah tentang bagaimana cara mengatasi masalah belajar dan bagaimana cara belajar (learning how to learn). Untuk memahami hal ini, banyak bidang ilmu yang diberikan oleh para dosen kami. Mulai teori belajar, pembelajaran mandiri,  belajar jarak jauh (e-learning), cara mendesain suatu pembelajaran, dsb.

Konsep dasar dari belajar tentang Teknologi Pendidikan adalah tentang berbagai cara, proses atau sistim untuk mengatasi masalah belajar anak (peserta didik). Salah satu masalah yang biasanya terjadi adalah, ketika anak sedang asyik belajar secara mandiri, menemui kesulitan, lalu tidak tahu bisa bertanya kepada siapa.

Contohnya si Vivin ,mantan murid bimbel saya. Dia sudah kelas 3 SMA. Anaknya ceria dan rajin belajar walau kalau di kelas bimbel malah sukanya nggambar dan cekikikan. 

Tadi pagi, katanya sih pas jamkos (jam kosong), dia bbm saya. "Mbak, aku nanya soal boleh ta?" tulisnya.

Saya baruu aja sampai di rumah ibu yang jaraknya hampir 11 km dari rumah. Naik si Matic sambil mbonceng adik saya yang lagi hamil trimester dua plus anaknya umur 5 tahun. Mayan berat kan beban roda belakang :)


"Boleh dek" saya jawab sambil mengatur kaki biar enak selonjoran di kamar ibu. 


Dia bertanya tentang reaksi redoks (reduksi oksidasi) di sel volta. Saya ya bukan orang jenius lah, nggak 100% ingat dan hafal rumus atau tahap penyelesaian soal. Hanya saya ingat konsepnya, dan  tau juga apa yang saya lupa. Akhirnya saya penasaran juga coba mengerjakan di kertas, dengan sesekali browsing teori kimia di Google.
Macam trial error juga sama nih anak. Saya jawab, dia nanya. Saya sadar kliru. Browsing ulang. Kerjain ulang soalnya. Fun juga sih, apalagi kalau ketemu jawabannya :). Sudah selesai, kertas jawaban saya foto dan saya kirim deh pake bbm juga. Dia paham, seneng deh.

Eh, malamnya diulang lagi. Saya sedang membaca ulang buku Chicken Soup for College Student. Sambil selonjoran juga nempel tembok dan ada lagi BBM dari Vivin. Lanjutan dari teori redoks, sekarang nanya tentang elektrolisis leburan NaCl. 

Nah, kebetulan saya ingat juga. Jadilah belajar lewat bbm. Asik juga ternyata. Mungkin cara ini cocok dengan gaya anak muda belajar. Pantesan juga waktu saya mbimbel anak SMA, ketika mereka pulang selalu janjian "eh nanti online ya. Twitter sama Line. Aku belum ngerjain tugas yang kemarin". 

Amazing ya untuk generasi tahun (hampir) 80-an kayak sana ginih. Dimana semuanya berbasis paper and pencil. Harus tertulis. Belajar hanya dengan dua pilihan. Ketemu guru atau sendirian dengan buku. 

Berani mengirim BBM ke saya untuk nanya soal, sudah saya hargai banget. Berarti nih anak sedang ingin tahu (karena bukan waktu ujian nanyanya loh..). Dan jika anak sudah ingin tahu, harus segera direspon. Karena momentum belajarnya tepat banget. Nggak harus benar juga sih njawabnya. Tetapi cara berpikir, mengupas maksud soal, mencari dasar teorinya, lalu mencoba mengerjakan soal, itu adalah pembelajaran cara berpikir ilmiah yang runtut dan sistematis. Ini bekal yang cukup baik sebagai 'soft skill' anak, untuk mengatasi segala hal dalam kehidupannya kelak. Nggak akan grusa grusu dan mudah kemakan berita hoax :)

Begitulah kisah " selonjoran-based learning" kali ini, hehehehe. Mari lanjut baca bukunya Chicken Soup lagi. Jadi pingin nulis cerita jaman sekolah juga nih, kayaknya seru (mumpung masih ingat). Oke selamat malam manteman semua. Selamat selonjoran :))

Semoga menginspirasi
-Heni PR- 

(ps. Maaf layout tulisan kok middle terus. HP lagi ngambek, nggak mau ngedit layout nya. Nanti deh diedit pas buka laptop)




WISUDA

4 comments
WISUDA, yo WIS yo SUDAH 😁.
Akhir drama ibu rumah tangga nekad kuliah lagi ini dirayakan secara simbolis di hari Sabtu 17 Oktober 2015, GOR Unesa Kampus Lidah Wetan.

Kiri-kanan: Rafi (Palu), Annisa, Winda, Aku, Firman, Suri
Bersama enam teman sekelas, kulewati momen wisuda S2 ku ini. Karena sesuatu hal,keluargaku tidak bisa hadir di lokasi. Cukup sedih sih, tapi harus berbesar hati dan menikmati waktu bercanda dengan anak-anak muda temanku itu, yang mungkin terakhir kali.

Walau tak ikut masuk ruangan wisuda, sesampainya di rumahku, kami sempatkan berfoto ria. Rona bangga dan bahagia dari ibu, suami, anak, adik dan keponakan cukup menentramkan hati. Momen yang direncanakan dapat disaksikan ibu,anak,suami di dalam ruangan semoga kelak digantikan dengan kebahagiaan yang lebih. Mungkin di wisuda doktorku? Saat pengukuhan professorku? Saat pengangkatanku jadi rektor? Who knows?? 
Insya Alloh, semoga dijinkan dan diridhoi-Nya. Amiin :)


Di momen wisuda, saat melihat jajaran dewan Senat masuk, yang terdiri dari rektor dan para professor, hatiku tergerak. Diiringi bait lagu orkestra, "Vivat Academica, Vivat Professorens", dari lagu Gaudeamus Igitur,

 Hatiku berdegub kencang dan bicara sendiri, " aku ingin jadi professor seperti mereka, aku akan mencari jalan menjadi dosen dan kuliah lagi. Gimana caranya ya? Ah, pokoknya terus belajar aja deh, mau berprofesi apa ntar belakangan.
 Terserah Alloh SWT aja :) 



Hari Senin, kuambil ijazah dan menyelesaikan urusan di kampus pasca Unesa. Sempat bertemu mereka yang berpamitan juga untuk pulang ke Palu dan Palangkaraya.
"Bu, kami pamit ya, sampai jumpa di S3".

Aku tertawa girang mendengarnya. 
" Sampai jumpa!" Pekikku tertahan. 

TEROR TOEFL dan Kuliah ke Luar Negeri

1 comment
Ceritanya nih saya heboh banget mau ikutan tes TOEFL di kampus UNESA, sebagai syarat kelulusan dan wisuda S2 saya. Hebohnya itu campur sutris berat, karena cerita teman-teman yang katanya belum lulus walau sudah tes sepuluh kali. Sedangkan saya baru tes sekali, dengan skor 447.

Untuk syarat wisuda, minimal skor TOEFL harus 460.
Namanya ibu-ibu di rumah, harus belajar bahasa Inggris lagi, begitulah bunyinya. Buka software TOEFL bentar dah teriak-teriak aja mengulangi percakapan di latihan LISTENING. Lalu teriak lagi karena nggak ngeh dengan soal-soal grammar di latihan STRUCTURE. Cukup hening sejenak ketika belajar mengerjakan soal-soal READING. Kali ini nggak pake teriak :)

Berbagai doa, dzikir dan amalan menyenangkan hati ibu pun kulakukan agar bisa lolos tes TOEFL. Sehari sebelum tes, saya melipir ke rumah ibu dan memberinya sebatang coklat lalu minta didoakan. Jurus jitu lulus tes ala saya , hehehe.

Hari tes TOEFL kedua saya pun tiba. Tegangnya minta ampun. Saya kudu bolak-balik ke toilet sebelum pintu kelas tes dibuka. Peserta tes banyak bangeet, sekelas bisa 60 orang lebih. Dan hebohnyaa karena pada bete harus tes berkali-kali dan belum lulus dan bakalan mundur lagi wisudanya. Beberapa berteriak akan melakukan demo pada Direktur Pascasarjana Unesa, supaya dibolehin wisuda. Aduh bikin keki aja.

Lalu dimulailah tes TOEFL di kelas yang dingin banget (bagi saya, mungkin karena tegang). Saya berusaha konsentrasi seribu bahkan sejuta persen. Konseeen banget, apalagi pas Listening yang suaranya diperdengarkan dari speaker ruangan dan bukan menggunakan headset per orang seperti di Lab Bahasa. Satu demi satu lingkaran jawaban tes saya hitamkan. Tiap satu bulatan, saya baca Shalawat sambil berdoa sepenuh hati. Ini tips lulus tes saya yang ke#2, hehehe.

Dan alhamdulillah hasilnya adalah....


TOEFL ku LULUS

Skor TOEFL saya 487, artinya sudah melampaui batas minimal kelulusan skor 460. Saya berjingkrak-jingkrak kegirangan (dengan tega) di sebelah teman saya. Ups, lalu saya mengerem kegirangan itu, karena simpati dengan wajah lesu teman saya yang belum juga lulus tes toeflnya. Saya usahakan menyembunyikan senyum saya sekuat tenaga, walau rasanya pingin salto saja saat itu.

Jujur, beneran, suer. Baru kali ini saya ikutan tes TOEFL. Jadi baru dua kali dalam seumur hidupku ini, saya ikutan tes TOEFL.
Jaman S1 di ITB (1997-2001) tidak ada syarat skor TOEFL dan semacamnya. Hanya harus ikutan kelas bahasa Inggris saja sebentar di UPT Bahasa.

Pulang dari kampus pasca Unesa, saya merenung. Merenungnya dalem banget, sampai terik panas matahari pukul 2 siang itu tidak terasa. Sambil naik sepeda motor perlahan-lahan, saya bicara sendiri dalam hati, "gini ya susahnya tes TOEFL. Padahal tes ini jadi syarat masuk anak kuliahan S1. Gimana nanti anak-anakku ya? Ah, mereka kudu, wajib, untuk belajar bahasa Inggris lebih baik lagi demi masa depan mereka supaya tidak kena teror TOEFL seperti emaknya dan teman-teman emaknya." Amin.

Ketika berhenti di lampu merah, gumaman saya tak berhenti sampai disitu,
"biar pinter bahasa Inggris gimana caranya ya? siapa yang ngajari ya? apa kudu les? bimbel? "
"bimbel mana yang bagus? les mana? oh iya ada EF katanya bagus, tapi kan mahal bok, jutaan.."
dan seterusnya...begitulah namanya juga gumaman ibu-ibu :)

Sampai di rumah, sore harinya saya ungkapkan isi hati saya itu kepada anak-anak. Karena mereka semua anak laki-laki, saya panggillah "mas"

"mas, bahasa Inggris mama lulus loh, hebat to."
"Kalian harus lebih pinter bahasa Inggrisnya daripada mama, ya..!"

Jawab anak sulung, " aku udah pinter ma. Nih tiap hari aku lihat video youtube pake bahasa Inggris, ini namanya belajar."

Jawab adeknya,"aku juga tiap hari nonton Doraemon. Aku pinter bahasa Jepang!"

Mama : @$**&^%$@.... (melongo)


Karena masih kena efek teror TOEFL yang bombastis, saya pun lesehan sambil baca buku yang saya beli tempo hari, buku Jurus Kuliah ke Luar Negeri (#JKLN)

Konsep sederhananya kan, kalau bahasa Inggris anak-anakku bagus, mereka bakalan mudah kalau mau kuliah ke luar negeri.

Bakal gampang aja dapat beasiswa ke luar negeri.

Dan artinya itu juga menghemat pengeluaran (nah loh kan, ibu-ibu pikirannya duit belanja melulu sih!!!, hehehhe).

Setelah baca buku ini, wah asyik juga isinya ya. Ada tips persiapan kuliah ke luar negeri, ebook, video testimoni para pelajar. Saya buat review isinya di postingan berikutnya ya teman, biar khusus (pake makhraj 'kh').






Berbagi Tentang Google Drive dan Blog Di Panglungan Wonosalam

2 comments

Tepat di hari pahlawan, 10 November 2014, Senin, saya bersama beberapa teman ada di desa Panglungan, Wonosalam Jombang.

Kami memenuhi tugas mata kuliah PPL di semester 2, S2 Teknologi Pendidikan UNESA. Ini adalah pengalaman pertama saya melakukan PPL  ke desa. Jaman masih S1 di Kimia ITB, tidak ada mata kuliah semacam ini, PPL ataupun KKN. Tugas akhir hanya berkutat di laboratorium dan penelitian.

Menjadi Pemateri Tentang Blog

Sungguh pengalaman yang sangat menarik. Saya bersama teman, didapuk sebagai Penyaji Materi. Teman yang lain, lebih sibuk lagi sebagai fasilitator dan penyambung antara mahasiswa dan pihak sekolah. Mengurus surat menyurat dan keperluan birokrasi untuk laporan akhir.

Tema yang kami pilih setelah survey awal, adalah Optimalisasi Internet Sebagai Sumber Belajar. Yang intinya berisi materi memanfaatkan aneka aplikasi yang diberikan oleh Google secara gratis. Yaitu Gmail, Mailing List,  Google Drive, Google Form, Google Doc dan Blog.

Menyimak dengan Serius

Para Peserta sangat antusias. Terlihat begitu tertarik mencoba sendiri materi yang kami sajikan di laptop.

Kendala utama hanya pada koneksi internet yang sangat lambat. Segala cara kami coba, mulai modem router, tethering dari hp android dan modem biasa. Mulai dari smartfren, indosat, simpati dan XL. Semua sinyal internetnya putus nyambung. Apalagi cuacanya mendung dan kadang hujan deras sekali. Walau begitu kami masih semangat menanti loading demi loading dan menyelesaikan materi semaksimal mungkin.


Guru dan Kru PPL

Dari bincang-bincang ringan, akhirnya ketahuan kalau ada beberapa guru yang juga satu alumni dengan saya, yaitu di SMA Negeri 2 JOmbang. Beliau adalah Kepala Sekolah MTsN Panglungan Wonosalam, ibu Umi Khoiriyah. Dan satu guru perempuan lagi, saya lupa namanya. Dari cerita beliau, sebenarnya kompetensi para guru sudah cukup mumpuni untuk meningkatkan kinerjanya. Semuanya sarjana dan responnya baik secara akademik. Minim fasilitas saja yang masih jadi kendala pemerataan kualitas pendidikan di desa.
Heni - Hay

Saya berharap di pemerintahan pak Jokowi ini, ada peningkatan yang signifikan pada akses internet di Indonesia. Karena internet bisa mempermudah kinerja para guru dan murid. Tentu saja, penggunaan internet sehat pun harus selalu digaungkan dan menjadi tanggung jawab bersama. Keikutsertaan saya di PPL semakin memantapkan niat saya untuk lebih serius mengotak-atik e-learning, agar kelak jika internet di Indonesia sudah bagus, banyak situs berbahasa Indonesia yang berkualitas bagus dan bisa diakses untuk keperluan pendidikan. Semangat :)