Coding Mum day 4,5,6 Lanjutan CSS, HTML dan Intro Responsive Web

No comments
Temen Tinemu Telaten Musthi Panen

Nasehat almarhum bapak ini selalu kupegang erat. Temen Tinemu, kalau kamu temen (sungguh-sungguh) akan tinemu (ketemu jalanmu). Telaten musthi panen, kalau kamu telaten (tekun) pasti akan panen (mendapat hasil baik).

Mengikuti Coding Mum, bukan hal yang mudah baik untuk ibu rumah tangga maupun ibu bekerja. Jadwal pertemuan di siang hari, tentu menguras tenaga lebih. Karena di pagi harinya atau bahkan malam sebelumnya, aktivitas ibu tidaklah sedikit.

Begitu juga yang dialami peserta Coding Mum Surabaya batch-1 ini.  Profesi kami beragam. Ada guru, dosen, freelancer, blogger, pengusaha dan ibu rumah tangga yang pengusaha juga. Untuk guru dan dosen, beberapa kali terpaksa absen karena tugas kependidikannya. Untuk pengusaha dan pengelola komunitas tertentu, harus berjibaku dengan tanggung jawabnya. Beberapa ibu yang masih punya anak balita, harus rela meminta ijin absen karena anaknya sedang rewel, demam dan tak bisa ditinggal. Ada yang pamit karena merawat bapak yang sedang opname. Ada yang dia sendiri juga opname.

Begitulah dunia kita ya Mum 😊.

Syukurlah kesempatan ini datang ketika anak-anak saya sudah besar. Dengan "kelebihan" ini, saya membulatkan tekad dan berkomitmen untuk hadir setiap hari. Setidaknya ada peserta yang tak terlewatkan materi belajar, sehingga nanti bisa membaginya ke teman-teman ketika waktu mereka sudah longgar. Jauh-jauh hari saya berdoa agar saya, anak dan suami diberi kesehatan hingga tuntas pembelajaran. Amin.

Pertemuan Coding Mum hari ke 4 dan 5, masih seputar HTML dan CSS. Kita diminta membuat desain layout website sendiri, mengikuti aturan atau materi yang sudah disampaikan sebelumnya.

Tools yang kita pakai berasal dari website w3schools.com. Wah website ini ampuh bener buat belajar ngoding web design deh. Siapa ya yang bikin, kok pinter bener. Baik banget juga, karena bisa diakses gratisan. Bahkan ada file w3school offline, sehingga jika butuh materi kode, gak perlu online.

Di hari ke 6 , atau pertemuan ke-6, kami dikenalkan dengan responsive web layout.
Nah, ini yang saya tunggu-tunggu. Saya suka dengan tipe template blog responsive, karena nyaman dibaca di gadget ukuran kecil seperti hp atau tablet android.
Saya suka gemeees dengan blogger yang desain templatenya belum responsive. Emaan gitu, bagus isinya, tapi mata jadi pedih baca blognya karena tulisan kecil-kecil.

Kami pun praktek dengan seriusnya,

Ini serius beneran, bukan pencitraan :-D 

Saya membuat desain web Studio Belajar Doji. Rencananya saya ingin mengumpulkan aneka link sumber belajar untuk anak-anak, supaya mudah diakses siapa saja. Beberapa teman anak, ingin belajar bersama di rumah saya. Mungkin riuh rendah keceriaan mereka belajar akan saya rekam di web ini.

Desain sederhana

Desain web responsive

Jadi, dengan penambahan kode @media screen....dst di style CSS, kita bisa mengatur tampilan web sesuai ukuran layar. Contoh sederhana diatas adalah, ketika layar kecil kurang daei 400 pixel akan terjadi perubahan warna. Modifikasi ini bisa diatur sesuai kebutuhan.

Mas Toha menyarankan kami mencoba belajar membuat web responsive dari awal, dengan membuka link belajar yang sudah diberikan, yaitu :
http://entheosweb.com/website_design/responsive_web_design.asp

Belum selesai mencoba, mendadak ada perkenalan dari mas Dicky, sebagai mentor baru kami. Mas Toha dan mas Ainan akan di switch ke kelas TOT (Training of Trainer).

Siap ketemu bootstrap minggu depan ya bu, kata mas Dicky


Kaget juga ya..bahkan bu Lulus dan Aisyah, tidak rela ditinggal oleh mas Toha dan mas Ainan, :-D :-D :-D .

"Loh, nanti kita masih boleh nanya nggak ke mas Toha dan mas Ainan?", begitu rajuk mereka.
#eaaa merajuk, hehehehe.

" Bisa bu, kan sudah ada grup whatsapp," jawab mas Toha menenangkan, sementara seperti biasanya mas Ainan cuma senyum-senyum aja dari jauh.

Mewakili teman-teman, kami ucapkan banyak terima kasih pada mas Toha dan mas Ainan, yang sudah super telaten mengajari kami. Para ibu dengan berbagai tipe karakter dan kemampuan mengcoding-coding.
Mohon maaf jika duo coach ini sering mendadak berdiri dari kursi dan menghampiri ibu yang nanya. Kadang telat maksi karena kami. Semoga nggak sakit maag ya...
Dan semoga enteng jodohnya #eh.

Sampai ketemu di kelas berikutnya, semoga sehat selalu.

Salam Coding Mum
When cool mum meets code



Tak Lagi Memakai Bambu Runcing! Surabaya Siap Tempur di Ajang MEA dengan Senjata Bernama SCCF

2 comments
City needs creativity to retain the high performers who have lived there for years, as well as to attract new, interesting residents. [Charles Landry].

Sepakat dengan quote dari pakde Charles diatas?
Sebagai penggagas Creative City dan Urban City di negara seberang sana, quote pakde Charles ini patut diamini.

Sebelumnya harus disepakati bersama bahwa saat ini perkembangan dunia sudah bergeser ke ranah kreatif. Generasi millenial yang lahir di bawah naungan teknologi yang berkembang sangat pesat ini tentu mempunyai pola pikir dan perilaku yang jauh berbeda dengan generasi orang tuanya. Generasi ini lebih kreatif, bergerak dan berpikir cepat, penuh rasa ingin tahu, ingin selalu connected yang dimudahkan dengan gadget dan media sosial di internet. Dan satu karakter yang sangat menyolok adalah kecenderungan mereka untuk menjadi entrepreneur (wirausahawan). Melakukan bisnis, usaha ataupun berkarya sesuai potensi, minat dan kehendak mereka pribadi.

Sekitar 30-40 tahun ke depan, roda kehidupan, roda pemerintahan akan dikendalikan oleh mereka, generasi millenial. Maka akan menjadi keniscayaan bahwa prioritas pembangunan saat ini diarahkan pada potensi kreatif generasi millenial yang saat ini mungkin masih duduk di bangku sekolah dasar.

Mengapa gaung kreatifitas, bisnis kreatif, kota kreatif bahkan negara kreatif semakin gencar terdengar belakangan ini?. Tentu ini bisa dikaitkan dengan adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau lebih dikenal dengan ASEAN Economic Community (AEC).

MEA memberikan rambu-rambu kepada semua negara untuk bersiap mengerahkan semua potensinya yang ada, agar bisa bertahan bahkan berhasil bersaing secara global maupun internasional. Indonesia tidak bisa tinggal diam atau mundur sebelum berperang. Melainkan harus mempersiapkan diri semaksimal mungkin menghadapi kemajuan jaman. Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah memprioritaskan pengembangan industri, terutama industri kreatif. Bahkan Presiden Indonesia saat ini, bapak Jokowi, mempunyai visi menjadikan ekonomi kreatif sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia.

Salah satu cara mewujudkan visi tersebut adalah dengan membentuk Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF). Melalui berbagai program yang dicanangkan oleh BEKRAF ini, pemerintah bertekad memperoleh pendapatan sebesar 25% Produk Domestik Bruto (PDR) dari ekonomi kreatif. Program ini ditargetkan bisa berhasil tak lebih dari sepuluh tahun ke depan.

Sebagai bagian dari masyarakat kreatif, warga Surabaya menyambut kebijakan pemerintah tersebut dengan membentuk wadah khusus. Yaitu Surabaya Creative City Forum (SCCF), sebagai wadah untuk mendukung program pemerintah dan mengubah ide kreatif menjadi bisnis kreatif.  SCCF ini telah resmi berdiri tanggal 30 Desember 2015 dan dideklarasikan pada tanggal 4 Januari 2016. SCCF juga mengikuti Indonesia Creative Cities Conference (ICCN) di Malang Jawa Timur tanggal 31 Maret 2016 - 1 April 2016. ICCN ini menghasilkan harapan pada kota Jakarta, Bandung dan Surabaya untuk bisa berkembang menjadi kota kreatif.

Kota Surabaya layak disebut sebagai kota kreatif yang sejajar dengan kota-kota kreatif dunia lainnya. Pelaku industri kreatif di Kota Pahlawan ini cukup banyak dan sudah menghasilkan produk-produk kreatif dengan kualitas yang tidak diragukan lagi. Sebagai wadah pelaku bisnis industri kreatif, SCCF siap bekerjasama dengan siapa saja, asalkan tujuannya jelas, yaitu memajukan industri kreatif di Surabaya, dan bisa mewujudkan ide-ide kreatif menjadi bisnis kreatif.

SCCF sendiri beranggotakan simpul-simpul kreatif yang ada di Surabaya. Ada lima simpul kreatif yang ingin dikuatkan ikatannya melalui Deklarasi Kolaborasi Pentahelix. Yaitu simpul dari Akademisi, Bisnis, Pemerintah, Komunitas, Media. Deklarasi ini dilakukan di Harris Hotel Surabaya, pada tanggal 4 Mei 2016.

Sebuah anugerah tak ternilai ketika saya diundang ke acara ini oleh bapak Zaenal Arifin, penjaga gawang program Coding Mum yang sedang saya ikuti sampai saat ini. Dari profil beliau inilah saya juga mengenal adanya komunitas digital kreatif di Surabaya, seperti Dilo dan SUWEC. Keduanya adalah jenis komunitas yang memang saya cari dan saya butuhkan selama ini. Bukan untuk saya pribadi saja, melainkan sebagai langkah saya mencari wadah untuk menyalurkan minat dan bakat anak-anak saya di dunia digital kreatif.

Acara dimulai dengan presentasi dari tiga pihak yang bekerja di dunia digital kreatif yang telah berkecimpung di ranah pengembangan game, animasi dan board game. Mereka adalah pak Adhicipta Wirawan founder Waroong Wars Board games dan pemilik sekolah animasi Mechanimotion, mas Maulidan Rasyid founder dari Maulidan Games, mas Ufan  founder dari Jelasin.com.

3 pembicara dari simpul bisnis digital kreatif
Ketiganya mempunyai satu benang merah penjelasan yaitu dunia digital kreatif mempunyai prospek bisnis yang bagus. Terbukti dari pencapaian kerja mereka melalui studio masing-masing yang sudah menerima konsumen dari luar negeri. Kinerja tanpa batas di dunia digital, virtual atau internet mempermudah pengembangan bisnis mereka jauh lebih cepat dan lebih luas jangkauannya. Dengan berbagi pengalaman mereka menyampaikan bahwa proses mendirikan sebuah bisnis, tentu harus mau melewati semua prosesnya. Mulai dari ide, mengemas ide, membuat prototype, sampai melakukan promosi dan manajemen keuangan dibahas satu per satu. Bukan secara detil seperti di kelas kuliah, melainkan untuk memberikan gambaran kepada peserta SCCF yang hadir saat itu, bahwa poin-poin tersebut harus dijadikan catatan penting untuk memulai bisnis apa saja, terutama bisnis di bidang digital kreatif.

Selain game dan animasi, simpul kreatif yang menjadi pembicara adalah dari pihak INFIS (Independen Film Surabaya). Menyampaikan pesan tidak hanya dari musik atau gambar, tetapi juga bisa dari film adalah tagline Infis. Mengenalkan Tristan sebagai pembuat film termuda, video yang menjadikan anak lelaki berumur 6 tahun itu ditayangkan. "Namaku, Tristan, aku suka makan mie sama dorayaki." Kami terpana sejenak dan terhibur haru melihat anak sekecil itu mempunyai kepercayaan diri yang besar untuk membuat film sekaligus berbicara dengan lancar di depan umum.

Mau difoto dek?. "Ya!", jawab Tristan
Tristan duduk di sebelah kanan saya dengan cukup tenang. Sesekali dia menggambar serius. Ketika ada kalimat dari pembicara yang menarik, dia akan menimpali dengan komentarnya yang lucu.

Melihat Tristan, saya teringat dengan anak-anak kecil dan anak muda di Surabaya. Dimana mereka bisa menyalurkan kreatifitasnya? keingintahuannya? minat dan bakatnya? terutama di dunia digital kreatif?

Pertanyaan itulah yang saya sampaikan dalam sesi tanya jawab. Bahwa saya sungguh senang telah bersentuhan, berkenalan sekaligus terlibat dalam komunitas digital kreatif di Surabaya. Namun saya masih kesulitan mencari celah untuk menemukan komunitas dan kegiatan yang sama untuk anak-anak saya, yang notabene begitu tertarik dengan dunia tersebut. Mas Maulidan, mas Adhi dan mas Ufan menyampaikan bahwa rencana membuat kegiatan untuk anak-anak sebenarnya sudah digagas cukup lama. Karena mereka merasakan butuh menemukan anak-anak yang berbakat di dunia digital, untuk kemudian mereka bina dan diajak terlibat dalam proyek kerjanya kelak

Rumah Kreatif.
"Ini mbak Heni jawabannya," bu Ita Guntari menunjukkan dua kata itu dari halaman majalah CreateMagz yang sudah dibagikan di dalam goodie bag acara SCCF ini. Bu Ita adalah kepala sekolah sekaligus founder dari IC School. Sebuah sekolah non formal untuk anak SMA berbasis kreatif dan wirausaha.

siswa IC School sedang membuat desain grafis

Saya berkenalan dengan bu Ita, ketika tak sengaja menghampiri seorang anak gadis yang asyik bekerja dengan laptop dan drawing pad di pangkuannya. Dia sedang mewarnai sebuah gambar manga. Di sudut kanan belakang, mereka dan hasil karya siswa IC School ditampilkan.

portofolio dan hasil karya siswa IC School 
Menarik sekali ketika saya berbincang hangat dengan bu Ita tentang sekolah non formal yang awalnya beliau dirikan untuk anak kandungnya sendiri, yang bingung memilih sekolah sesuai minat dan bakatnya. Beberapa berkas portofolio hasil karya siswanya, disodorkan kepada saya.

"Wow ibu, amazing. Hasilnya bagus sekali,"celetuk saya saat itu.
Desain layout, desain grafis salah satu siswanya itu tampak modern, minimalis dan kekinian. "Beberapa orang berkomentar, hasilnya sebanding dengan kinerja mahasiswa loh bu," begitu respon bu Ita.
di tangan saya adalah karya siswa IC School

Ya, wawasan saya terbuka ketika bertemu dan sedikit berbagi pikiran dengan bu Ita. Bahwa ketika anak-anak sudah menemukan minat dan bakatnya, lalu disalurkan sesuai bidang itu, maka hasilnya akan tajam dan dahsyat sekali. Anak-anak itu akan sangat mengerucut keahliannya, sangat spesifik. Namun itu tidaklah masalah. Karena sekarang adalah jamannya berkolaborasi bukan berkompetisi. Semakin spesifik keahlian, semakin jelas posisi dan profesi yang bisa diasah kelak di masa depan.

Seperti halnya konsep SCCF yang ingin mengkolaborasikan lima simpul kreatif di Surabaya, maka dilakukan Deklarasi Kolaborasi Pentahelix. Bersama wakil Walikota Surabaya, bapak Wisnu Sakti Buana, deklarasi dilakukan.

Deklarasi Pentahelix SCCF
 Deklarasi Kolaborasi Pentahelix dan Penandatangan MOU 5 simpul kreatif Surabaya

Dalam pidato sambutannya beliau menekankan dukungan terhadap program SCCF.
"Saya dan bu Risma, mendukung sepenuhnya segala kegiatan kreatif dan apapun yang bisa memajukan kota Surabaya. Surabaya adalah Surabaya, bukan kota yang lain. Bahkan ketika Kali Brantas masuk ke Surabaya saja, namanya berubah menjadi Kali Mas. Itu menunjukkan kita punya karakter yang berbeda. Saya terbuka membantu apa saja, jika ingin memutar film dari Infis dan tidak punya tempat, silahkan diputar di rumah saya seperti tempo lalu."

Tentu saja, simpul kreatif yang digagas tidak hanya seputar dunia digital, game, film dan animasi. Karena banyak aspek yang bisa diangkat dari potensi warga Surabaya. Para pengrajin, pengusaha UKM, penulis, akademisi, media, bahkan blogger juga bisa aktif terlibat semaksimal mungkin untuk mengembangkan Surabaya. SCCF bisa menjadi tempat jujukan semua unsur dan elemen masyarakat Surabaya ketika ingin mengembangkan potensinya.

Jadi, tak usah risau lagi menghadapi MEA atau tantangan apapun di masa depan.  Melalui SCCF, kita kuatkan ikatan dan lanjutkan perjalanan. Menuju Surabaya menjadi Kota Kreatif Kelas Dunia.

sumber bacaan:
1. Website Surabaya Creative City, www.surabayacreativecity.com
2. Majalah 'CreateMagz', Surabaya Creative City Forum, vol: 001, 1 Mei 2016. Free magazine
3. Penggagas Kota-Kota Kreatif di Indonesia Berkumpul, Ada Apa?
    https://m.tempo.co.read/news/2016/03/17/072754657/penggagas-kota-kota-kreatif-di-indonesia-berkumpul-ada-apa       [diakses tanggal 13 Mei 2016, pukul 09.00 WIB]

Datanglah ke Bali dan Coba Rasakan Kelembutan Hati di Balik Proses Pembuatan Canang Sari

13 comments
Even the Simplest Things can be Beautiful

Ketika berwisata, sebagian besar orang datang ke destinasi wisata yang sudah terkenal. Namun saya lebih nyaman mempraktekkan tips wisata sederhana dan lebih 'ngena' di hati. Salah satu tips yang diberikan oleh teman dekat saya. Yaitu berwisata ke dalam hati para pribumi. Menelusuri kehidupan penduduk asli suatu daerah dan menyerap energi positif dari sana, apapun bentuknya. Seperti yang pernah saya alami saat berkunjung ke Bali.

Di salah satu sudut rumah di Bali, ada sepasang ibu dan anak perempuannya yang sedang asyik membuat sesuatu. Di tangannya ada beberapa helai daun kelapa muda (janur) dan sebilah pisau kecil. Tangan mereka cekatan sekali, mengiris, mengukir, melipat sehingga janur itu berubah bentuknya menjadi seperti mangkok kecil yang indah. Orang Bali menyebutnya Canang.

Canang sari

Ibu Ida Ayu dan putrinya Dayu Intan, sudah terbiasa dengan rutinitas pagi itu. Setiap hari mereka membuat Canang. Canang adalah wadah sesaji untuk banten (berdoa), bagi umat Hindu. Terbuat dari janur yang dihias indah, tampak diletakkan di beberapa tempat di Bali. Wadah itu berisi potongan tebu, bunga, beras, daun pandan dan beberapa tetes air.

Canang sari terbuat dari janur atau daun kelapa yang masih muda. Janur ini dihias sedemikian rupa, sehingga menjadi wadah yang cantik. Hampir setiap hari ada Canang Sari yang diletakkan di mana saja. Di atas pagar rumah, di jalan raya, di dekat pohon, dekat Pura, dekat tempat persembahyangan orang Hindu. Karena Canang sari digunakan ketika orang Hindu akan berdoa.

Canang sari ini tidak hanya ada di Bali. Orang Hindu di daerah luar Bali, juga menggunakan Canang sari. Jika tidak sempat membuat sendiri, atau kesulitan menemukan bahannya, mereka bisa membeli canang yang sudah jadi di Pura. Bahkan ada yang lengkap dengan isi sesajiannya, sehingga lebih mudah digunakan sebagai pelengkap peralatan berdoa.

Memang sekarang canang bisa dilihat di mana saja, tidak hanya di pulau Bali. Namun melihat pembuatannya langsung di Bali, membuat hati meleleh juga. Bukan hanya bentuknya yang cantik, atau tangan pembuatnya yang cekatan. Namun kebersamaan antara orang-orang yang membuatnya itulah yang begitu manis untuk dilihat.

Pemandangan seperti inilah yang paling saya suka ketika sedang berwisata. Menyaksikan langsung kehidupan sehari-hari orang asli daerah yang saya kunjungi. Jadi, selepas dari hotel, saya biasanya berjalan-jalan 'blusukan' ke kampung pemukiman warga. Di sana saya mencari orang yang bisa diajak ngobrol, mencari makanan khas kampung dan ikut serta kegiatan rutin. Hal itu jauh lebih membuat rileks daripada sekedar keliling pantai atau tempat wisata yang sudah terkenal di Bali.

Suara gamelan selalu bergantian terdengar di kampung Bali. Terutama ketika menjelang sore hari. Ada sekelompok anak-anak yang berlatih menari Bali. Dengan perangkat sederhana di halaman rumah seorang warga, mereka menari dengan khusyu. Liukan badannya, hentakannya dan tak lupa lirikan mata khas tarian Bali, tampak di sana.

Beberapa ibu yang sedang menunggui anaknya berlatih menari, berkumpul di sisi lain. Mereka bicara, bercanda sambil makan rujak kuah pindang dan membuat Canang bersama-sama. Kegiatan tanpa teknologi tinggi seperti inilah yang mulai terkikis. Ada juga beberapa ponsel pintar tergeletak di sekitarnya, namun mereka tidak fokus disana. Mereka lebih suka bicara langsung, menyentuh dan tersenyum.

Apakah yang bisa membuat hal tersebut begitu menarik perhatian daripada gadget?
Ah, saya tahu. Rasa kasih sayang, kebersamaan, sense of belonging yang tumbuh karena aktifitas bersama menyiapkan perangkat berdoa. Membuat canang sari.

Sedetil mungkin, seindah mungkin mereka membuatnya. Menunjukkan kesungguhan, kesabaran sekaligus pemberian yang seutuhnya untuk dipersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.


Sebuah hikmah yang luar biasa saya dapatkan, mempersiapkan segala sesuatu seindah mungkin, sebagai wujud syukur dan menghamba kepada Tuhan, adalah hal yang sangat baik untuk diteladani walaupun saya berbeda agama dan keyakinan.

Kebersamaan antara ibu dan anak, tetangga dan saudara itu juga prinsip kasih sayang kehidupan yang bisa membuat semua hal menjadi ringan, mudah dan damai. Pengawasan sosial mudah dilakukan, takkan ada lagi orang yang sendirian merenungi kesedihan karena selalu ada tempat berbagi cerita. Tak terdengar lagi kabar anak perempuan menghilang karena tiada merasa dekat dengan ibundanya. Betapa kegiatan sederhana yang dilakukan sepenuh hati bisa menjadi kunci peradaban yang mulia.


Pagi itu, adalah sebuah pengalaman berharga menyaksikan ibu dan anak puterinya membuat canang dari janur. Lalu terseraplah keindahan serta kelembutan hati yang menyertai di setiap proses pembuatannya. Sebuah kegiatan yang patut dicoba ketika anda datang ke pulau Bali.

lamun sira menek, meneka wit galinggang. sira bakal ketemu apa? Sira bakal ketemu janur, sing tegese jatining nur, ya Nur Muhammad. [Sunan Kalijaga]


artinya:
kalau kamu akan naik, naik saja pohon kelapa. Kamu akan bertemu janur, yang artinya jatining nur (cahaya sejati), yaitu Nur Muhammad (cahaya Rasulullah Muhammad SAW). 
sumber quote janur: Filsafat Jawa Sunan Kalijaga tentang pohon kelapa 'galinggang' dalam kehidupan.

Coding Mum Day 3 - Intro to HTML Dan Website Interaktif Untuk Mempelajarinya

No comments
Work Smart is Not How Hard You Work But How Much You Get Done
 Yes, sudah pertemuan ketiga kelas belajar pemrograman untuk ibu-ibu di Coding Mum Surabaya, kantor Dilo Telkom Ketintang. Pertemuan ini tergolong istimewa bagi jiwa raga saya, karena sebelum masuk kelas siang, paginya saya sudah ada kegiatan bersama SCCF (Surabaya Creative City Forum). Cerita lengkapnya di artikel selanjutnya ya.

Lihatlah perbedaannya, Kiri: foto pagi di Harris Hotel, Kanan: foto siang di Dilo Telkom
Setelah menempuh belasan kilometer menembus jalan A. Yani dan kemacetan Surabaya di Siang hari.
MENERJANG MATAHARI

Pelajaran di pertemuan ketiga adalah memperdalam lagi pengenalan terhadap HTML. Tools yang digunakan masih Bracket, sebagai aplikasi menulis kode html. 
Dan belajar mandirinya menggunakan dua website yang disarankan oleh mentor yaitu, 
www.w3school.com dan www.codeschool.com.

www.w3school.com

di setiap tahap lesson  ada contoh kode html dan hasilnya.

Menggunakan website W3School untuk belajar, lebih memudahkan karena ada teori di tiap tahap belajar. Ada contoh kode dan hasilnya di setiap perintah html yang diinginkan.
Kita tinggal meng-copy paste dan memodifikasi serta menyusunnya untuk membuat kode html tampilan website yang kita inginkan.

Selain W3School, mentor juga mengenalkan satu website interaktif lagi, Learning by Doing menggunakan website codeschool.com. Selain teori berupa teks, juga disediakan video yang memudahkan proses belajar.

www.codeschool.com

Tenaga saya terkuras cukup banyak di perjalanan dari jalan Bangka menuju Kantor Dilo Ketintang. Seperti biasa, itu dikarenakan 'my spasial weakness' alias kesasaaaaar melulu kalau kemana-mana. fiuhh, itulah saudara efek samping dari dilarangnya anak untuk 'maen' di jaman muda. Kalau tuh anak penurut banget, hasilnya ya seperti saya ini, kemana-mana kesasar. Walaupun asli Surabaya tapi nggak pernah hafal jalan Surabaya. Sekaligus mempunyai kecerdasan jauh di bawah rata-rata untuk membaca peta fisik maupun Google Map. Antara jalan yang divisualisasikan di otak saya dan kenyataan selalu berbeda. Sepertinya saya perlu berlangganan ojek online saja ya, tidak perlu nekad bersepeda motor sendirian seperti ini :)

Di kelas Coding juga sedikit hectic, mungkin karena cuaca juga panas sekali. Namun tetap seru karena yang datang lumayan banyak. Sepertinya hanya bu Lulus saja yang tidak hadir. Ibu-ibu rame. Komentar sana-sini ketika berhasil menyelesaikan satu demi satu tahapan belajar di web W3School. Bisik-bisik bisnis asyik juga terdengar di salah satu sudut meja.

sudut meja yang meramu bisnis baru Coding Camp Mum *LOL
[foto dari codingmumsby.wordpress.com]

"Eh, setelah Coding Mum ini selesai, harusnya diadakan lagi Batch 2. Kita harus meluangkan waktu full sepenuhnya untuk ngoding. Ya, sekitar 6 atau 10 hari gitu, di Bali."

Grr....suasana jadi rame dan seru. "6 hari? di Bali? maksudnya?" celetuk salah satu ibu-ibu.

"Ya, kita bikin Coding Camp!"
Wow, itu ide yang sangat bagus. Dan cukup mustahil dilaksanakan. Emang mau tuh suaminya ditinggal seminggu buat ngoding doang? :D

DSCN1905
Coding Mum Day 3
[foto dari codingmumsby.wordpress.com]
Salam Coding Mum
Where cool mum meets code



Coding Mum Surabaya Day 2 - Pengenalan Git/ Github

6 comments
Coding Mum pertemuan kedua. Ketika sampai di lokasi sekitar pukul 11.30 WIB, kantor DILO masih sepi. Peserta belum datang, yang ada pengurus Dilo. Ya, take time to selfie dulu di lobi Dilo :)



Setengah jam kemudian, peserta mulai datang, kali ini yang datang cuma setengah. Lainnya punya kepentingan yang tidak bisa ditunda. 

Mentor mengenalkan dua hal , yaitu penggunaan Git/Github dan Brackets yang sudah kami unduh di hari pertama. Beberapa peserta ada yang belum punya aplikasinya, dan mentor memberikan file unduhan dari flash disk. jadi bisa lebih cepat, langsung menginstall aplikasi Brackets dan Git di laptop. 

Git/Github.
Git/Github adalah sosmednya para developer, begitu kata mentor.

Mendengar kata 'developer', perasaan saya jadi gimana gitu. Rada GR, seneng-seneng manja syalala deh rasanya, hihihi. Padahal sebagai ibu-ibu, mendengar kata 'developer' itu sedikit meresahkan jiwa raga. Tau kan? kan?
Iya, itu maksudnya. Developer perumahan a.k.a kriditan rumah berbilang belasan tahun itu.
*aih curhat . Tenang dulu, tarik nafas panjang...dan lanjutkan.

Developer yang ini beda kali. Maksudnya 'developer' yang men-'develop' pemrograman, alias programmer alias mereka yang berkerja mengotak-atik code. 

Git/Github bisa diakses di www.github.com

Menurut mentor, kode html yang sudah kita buat di laptop itu sebaiknya juga diunggah dan disimpan di akun Github kita. Sehingga kelak kita bisa mengeditnya di mana saja, kapan saja, walaupun tidak sedang membawa laptop. Jadi prinsipnya menurut saya sih, seperti penyimpanan cloud computing ala Google Drive, Dropbox atau Evernote. 

jadi file yang kita simpan di program itu, akan bisa diakses dan dipanggil lagi secara online. Kemudian kita bisa mengeditnya dan menyimpannya lagi dengan aman. Selain itu file juga bisa dibagikan atau di share dengan orang lain.

Bedanya untuk Github ini, memang khusus digunakan oleh para developer web alias programmer. Mereka menyimpan kode html dan membaginya di sana. Bahkan untuk penyimpanannya bersifat terbuka. Kita bisa 'search' jenis kode html tertentu milik orang lain. Kemudian meng-copy paste-nya dan bisa kelak memodifikasinya sesuai kebutuhan kita. Dan ini sah-sah saja di Github,

Karena ini sudah masuk ranah programmer sungguhan, secara ibu-ibu yang perutnya sudah keroncongan ya mikirnya rada lola (loading lama), hehehehe. Apalagi banyak sekali pertanyaan seputar apa sih sebenarnya target terakhir dari Coding Mum ini. Saya bisa bikin web gini nggak coach? kalau web kayak gini? kalau internet marketing? kalau monetize blog?

Ya, mentornya pun senyum-senyum menerima pertanyaan dari kami. Saya malah jadi terbelalak ketika bu Prima bercerita, "dulu saya main internet marketing sampai bisa menghasilkan 30 juta loh."
Waaah...peserta Coding Mum ini super duper amazing. Kalem tampaknya. Namun isinya wow.
Saya langsung nyeletuk, "bu Prima nanti buka kelas internet marketing ya?" hehehe...
Biasalah modus dari anggota Asosiasi Pemburu Workshop Gratisan Indonesia.
Lah, itu komunitas apaa ???!!! 
*ngikik


Daripada terus dibombardir para ibu-ibu yang tersengat kata '30 juta', saya bagikan 'lunch box' yang sudah datang dari tadi. "Sudah coach, maksi dulu nanti pingsan malahan" :)
Kami pun melanjutkan belajar dengan lebih rileks. Setelah mengenal Git/Github, mulailah memncoba menulis kode html menggunakan aplikasi Bracket di laptop.
Aplikasi Bracket bisa diunduh di www.brackets.io

Dan ya, memang jauh lebih mudah dan menarik menulis kode html di Bracket daripada di notepad. Karena ada warna-warni kode, serta ada fitur otomatis kode dan gambar. Makin penasaran ikut kelas selanjutnya.


Salam Coding Mum
Where cool mum meets code.

Coding Mum Surabaya, day 1. Mengenal HTML dan Code Academy

4 comments
Belajar hal baru adalah salah satu cara untuk awet muda tanpa krim anti-aging.

Ini adalah mantra sakti bagi saya ketika mulai nekad mendaftar ke sebuah kelas belajar yang baru. Belajar bikin awet muda sudah terbukti ampuh untuk meningkatkan elastisitas kulit wajah saya yang hampir tidak pernah tersentuh krim anti-aging. Wihii...bisa digetok beauty blogger nih saya, hehehe.

Mengasah memori.  Oke baiklah jika belajar hal baru belum terbukti kebenarannya bisa membuat kulit wajah jadi kinclong. Tetapi kesaktiannya untuk mengasah memori kita itu jelas benar. Bisa dicari sumber literaturnya, bagaimana cara meningkatkan memori atau kemampuan mengingat. Maka belajar hal baru pasti masuk di salah satu daftar jawabannya. Mengasah memori, mendayagunakan otak yang katanya baru berfungsi 1% saja ini, adalah hal yang layak untuk dilakukan dan diperjuangkan sampai usia kapanpun. Termasuk belajar bahasa pemrograman di usia sedikit diatas 20 tahun ini, *haghag

saya berjilbab biru di sisi kiri. masih unyu kan?  :)

 Beruntunglah bersama 10 peserta Coding Mum ini, saya bisa blending dengan sukses. Tidak terlalu tampak tua kan? walaupun lebih banyak mahmud (mamah muda) disana.

Ya, bertempat di kantor DILO (Digital Inovation Lounge), yang terletak di dalam gedung Telkom Divre V di jalan Ketintang Surabaya, kami berkumpul untuk belajar Coding Mum. Pertemuan pertama dimulai hari Rabu, 27 April 2016, pukul 13.00 siang.

Dengan semangat baja, menerjang matahari, saya berangkat naik sepeda motor ke sana. Seperti nostalgia jaman kuliah pasca di Unesa kemarin deh. Saya senyum-senyum sendiri. Eh, mau kuliah lagi nih, tempatnya juga dekat dengan gedung Pascasarjana Unesa di Ketintang.

Setelah proses perkenalan dengan pihak Bekraf, Dilo, dan mentor dari Suwec (Surabaya Web Community), kami pun mulai pelajaran pertama. Yaitu mengenal bahasa html.

Penjelasan singkat dilakukan. Dengan mengetikkan kode html sederhana di Notepad. Kemudian kami dianjurkan mengunduh dulu aplikasi Bracket sebagai pengganti Notepad. Diunduh di www.brackets.io . Jika menuliskan kode html di Bracket akan lebih mudah, karena muncul warna dan otomatis muncul kode pembuka dan penutupnya.

Kami diberikan modul Coding Mum, namun isinya tidak banyak teori.  Sistim belajarnya, "Learning by Doing". Mentor hanya memberikan "kata kunci", peserta mencoba sendiri dan mentor memberikan bimbingan sesuai kebutuhan tiap peserta. Karena ternyata di internet sudah banyak sekali terdapat website yang menyediakan program untuk belajar mandiri secara interaktif. Belajar mengenal html, css, javascript dan lain sebagainya. Salah satunya adalah website www.codeacademy.com.

CodeAcademy.Com
Di Website ini, kita hanya tinggal registrasi membuat akun.
Lalu mengikuti langkah Make A Website. Disitu akan dikenalkan tahapan membuat kode html, css, javascript dan sebagainya.

Di langkah awal, saya mencoba tahap mengenal html dan css. Waktu 3 jam yang dialokasikan di Coding Mum kemarin, tentu tidak cukup. Jadi ketika pulang, saya langsung saja menghadap laptop semalaman, saking penasarannya.

Amazing dan Ohh Ahh Ohh, saja ketika saya berhasil mempraktekkan satu per satu tahapan coding di situ. Beberapa kode sering saya temui ketika mengotak-atik html template blogspot. Website ini mudah sekali diikuti loh, semua bisa mencoba asal paham bahasa Inggrisnya. Jika belum ngeh banget bahasa Inggris-nya juga gpp lah, bonek aja. Kan ada google translate :)

saya terpana lihat transformasi kode css menjadi bentuk visual :)

Begitulah pertemuan Coding Mum day 1. Saya mengenal HTML dan CSS. Serta mendapatkan bimbingan dari grup whatsapp yang juga berisi para mentor dari Surabaya dan Jakarta. Kapan pun ibu-ibu siap ngoding, mereka siap membantu. Bahkan mas-mas dari Dilo membuatkan blog khusus untuk program Coding Mum dari Surabaya, yaitu di http://codingmumsby.wordpress.com

Yah, masih ada 14 pertemuan lagi. Atau sekitar 12 pertemuan lagi, karena 2 pertemuan terakhir adalah untuk presentasi. Namun mengenal saja tentang pemrograman, front end, back end, html, css, javascript dan peluang kerja dibalik coding mengcoding ini, cukup membuat saya bersemangat. Alhamdulillah anak dan suami sangat mendukung. Semoga ilmunya ini bisa manfaat buat sebanyak mungkin orang yang membutuhkan. 

Salam Coding Mum

Coding Mum. Where Cool Mum Meets Code

2 comments
Everyone should learns how to code, it teaches you how to think. Steve Jobs
Sungguh diluar dugaan, tetapi benar kata seorang teman, "ketika seorang murid siap maka guru akan datang sendiri".

Hal ini terjadi juga pada saya. Sudah lama sekali saya ingin mempelajari bahasa pemrograman, coding sederhana, maupun ingin belajar membuat web atau web design.

Apalagi ketika terjun di dunia blogger. Juga saat mengenal konsep e-learning, learning management system, sewaktu mengerjakan tesis kemarin.

Dari sini saya sering kepikiran, bagaimana ya membuat website yang mudah diakses oleh guru dan murid, ketika mereka akan belajar sendiri di rumah? Bagaimana mengumpulkan link sumber belajar yang sudah saya dapatkan, dan dimasukkan ke satu website yang menarik, iconnya mudah, warna-warni dan ceria.

Puluhan bahkan ratusan kali mungkin, saya mencari jenis template blog (gratisan) yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan saya tersebut, tapi tidak ada. ya iyalah gratisan :).

Namun ketika mencari template berbayar yang ditawarkan pun, itu masih belum sesuai dengan kebutuhan saya tersebut. Sepertinya saya harus belajar membuat template sendiri, itu yang memenuhi benak saya selama ini. Namun belum menemukan jawabannya sampai akhirnya ada informasi tentang Coding Mum.

Syukurlah, keinginan saya terpenuhi. Diawali dengan postingan saya tentang kegalauan terhadap sekolah anak, apakah terus sekolah atau homeschooling?. Itulah yang malah mengantarkan saya berkenalan dengan salah satu ibu praktisi HS. Nah dari beranda facebooknya, saya mendapatkan informasi adanya program Coding Mum ini.



Jadi Coding Mum adalah salah satu program yang diadakan oleh BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif), sebuah badan yang baru terbentuk di era pemerintahan pak Jokowi.

BEKRAF ini mempunyai 3 sasaran, yaitu :
1. Meningkatkan pendapatan domestik bruto
2. Meningkatkan penyerapan tenaga kerja
3. Meningkatkan devisa negara

Dari ketiga sasaran itu, dibentuklah juga program pembelajaran bahasa pemrograman untuk ibu-ibu (ibu rumah tangga), yang bernama Coding Mum.

Coding Mum ini dibentuk dengan berdasarkan hasil pengamatan bahwa sebenarnya banyak ibu rumah tangga yang berpendidikan tinggi, minimal sarjana. Akan tetapi, karena situasi kondisi tertentu serta konteks sosial budaya Indonesia, mengharuskan mereka (hanya) tinggal di rumah saja.

Lepas dari para ibu rumah tangga yang sudah mempunyai aktivitas lain yang menghasilkan, misalnya onlineseller, blogger, trainer, dll. Coding Mum mencoba memberikan alternatif skill yang bisa dipelajari dan diasah di bidang pemrograman front end. Program ini bisa dilihat di website resminya, yaitu www.codingmum.id .

Saya beruntung sekali masuk diantara 10 peserta di session 1 Coding Mum Surabaya. Semoga bisa lancar, sehat sekeluarga sehingga bisa menyelesaikan rencana 15 kali pertemuan dengan baik. Apakah program ini sudah ada di kota anda?