Showing posts with label ibu rumah tangga satus persen. Show all posts

Jadi Makin Semangat Nih! Dengan PC All in One ASUS V200IB, Bisa Lebih Cepat Start Membuka Kursus

13 comments
3 tips sukses: Mulai dari hal kecil, Mulai dari diri sendiri, Mulai sekarang juga 

Membuka kursus atau lembaga pendidikan non formal, bukan hal baru bagi saya. Waktu saya SD, sekitar tahun 1990-an, kakak saya membuka kursus komputer, akuntansi dan bahasa Inggris di rumah ibu. Saya sempat "magang" jadi tukang ketik buku modulnya dan mendapat gaji 5 ribu :-D.

Sewaktu saya hamil anak pertama, saya sempat membuka bimbingan belajar untuk anak SD-SMP-SMA dan sebuah usaha jasa pengetikan. Walau usaha ini berhenti karena sesuatu hal, namun keinginan untuk membuat "usaha" serupa terus menyala di hati saya.

Waktu pun bergulir, sampai ilmu saya makin bertambah tanpa terasa. Iya, saya mendapat ilmu dari dunia online, dunia digital. Mulai membuat blog, menjadi blogger, menulis konten digital, membuat dan mengendalikan toko online, mengenal e-learning, digital learning di Teknologi Pendidikan serta terakhir saya belajar pemrograman di kursus Coding Mum.


Inspirasi Membuat Kursus Untuk Perempuan


Sewaktu presentasi di Coding Mum, saya menyajikan desain website Akademi Prasetyorini. Yaitu sebuah lembaga belajar untuk perempuan di ranah bisnis, kreatif dan digital. Rencana awal saya akan berkolaborasi dengan 2 teman lainnya. Namun ternyata ada perubahan. Teman saya pindah rumah, jauh dari saya dan sulit untuk meneruskan rencana. Tidak mudah mencari patner pengganti. Akhirnya saya fokuskan untuk bergerak di bidang digital aja. Memberikan kursus tentang materi digital, untuk membantu guru meningkatkan kinerjanya di sekolah dan mencetak calon perempuan pengusaha baru di dunia digital kreatif.

Dengan keputusan ini, maka saya harus maju sendiri. Jika melihat profil lembaga pendidikan serupa, sepertinya banyak sekali yang harus dipersiapkan dan itu mahal. Ajaib dan mustahil rasanya saya sanggup. Namun saya kembali ingat dua perempuan yang memberikan inspirasi.

Pertama, Bu Aisyah dan profil sekolah gratis khusus anak perempuan yang dikelolanya. Kalau tidak salah lokasinya di daerah Jawa Barat. Dari beliau sebuah nasihat saya catat, "Mendidik Satu Perempuan Artinya Mendidik Satu Generasi".

Kedua, bu Ratih dan kursus rias di Surabaya. Waktu itu saya berkunjung ke rumahnya atas rekomendasi kakak, ketika saya akan menikah dan mencari perias. Rumahnya kecil sekali, masuk gang kecil dan ruwet; bisa dibilang gang tikus. Di rumah kecilnya itu, penuh dengan etalase besar berisi baju pengantin dan perangkat make up. Space untuk tamu, hanya sebuah sofa kecil, itu pun ada beberapa blangkon disana. Yang menarik, di space kecil itu, saya sebagai tamu, harus berbagi tempat dengan dua pasang perempuan yang sedang belajar rias pengantin. Riasannya bagus dan cantik sekali. Menurut bu Ratih, mereka adalah peserta kursus. Dari beliau saya mendapatkan pelajaran, "Memulai Sebuah Kursus Bisa dari Tempat Yang Sederhana".

Dari sini saya mendapatkan inspirasi dan semangat, bahwa sekarang pun saya bisa mulai membuka kursus di rumah. Dengan bekal niat, sebuah netbook mini, televisi dan ruang tamu di rumah sendiri.


Kendala Yang Saya Hadapi

Namun ternyata, saya mempunyai kendala. Netbook saya ukuran layarnya sangat kecil. Dengan layar kecil, tampilan presentasi akan terbatas dan terpotong. Terlebih jika saya ingin membuat screenshoot tiap tahapan belajar sebagai materi tutorial/kursus. Saya butuh laptop yang lebih besar atau saya butuh komputer, begitu pikir saya.

Screenshoot Terbatas Karena Layar Netbook Saya Kurang Besar

Selain itu, beberapa kali netbook saya nge-hang karena "panas" jika dipakai untuk waktu lama. Teman saya yang programmer, menganjurkan jika di rumah lebih baik menggunakan komputer saja, karena lebih stabil. Namun suami saya bilang, kalau komputer itu butuh listrik yang banyak, juga tempat yang lumayan besar. Sedangkan ukuran space bebas di ruang tamu kami hanya sekitar 3x6 meter. Juga perlu pertimbangan modal keuangan kami masih terbatas dan harus dibagi dengan keperluan lain. 

Jadi gimana nih?
Apa niat harus berhenti karena berbagai kendala?
Saya sudah terlatih untuk terus maju walau fasilitas belum ada.
Bondo Nekad, Bonek, Modal Nekad, gitulah maksudnya. Jadi, ayo maju terus....!


Perangkat Komputer Penunjang Bisnis Yang Saya Butuhkan

Analisa kebutuhan komputer yang sudah kami bicarakan adalah, komputer yang spesifikasi-nya bisa untuk pemrograman dan desain grafis, layar lebar, audio bagus untuk merekam tutorial atau presentasi, hemat listrik, hemat tempat, harga terjangkau. 

Tabungan pribadi saya tak seberapa, maka harus sangat hati-hati memperhitungkan pengeluarannya. Setelah semedi dan browsing kesana-kemari, alhamdulillah akhirnya saya nemu satu perangkat yang tepat bahkan sangat tepat.

Perangkatnya adalah komputer model baru, canggih, keren, kompak, yaitu PC All in One ASUS Vivo AiO V200IB. PC All in One berbasis Intel Pentium Processor ini dibandrol dengan harga sekitar 5 juta-an. Nah, dari segi harga, sudah cocok, bagaimana spesifikasinya?.
Amaziingg...saya amazing melihat foto produk, video review dan spesifikasinya. This is it, inilah yang saya cari.















PC All In One ASUS Vivo AiO V200IB 


Vivo AiO V200IB
PC All in One ASUS Vivo AiO V200IB, 
gambar dari web https://www.asus.com/AllinOne-PCs/Vivo-AiO-V200IB/




Dari video review produknya, saya makin terkiwir-kiwir, jatuh cinta lahir batin, beneran sumpah.
Anak saya sampai heran, kenapa saya jingkrak-jingkrak sambil narik-narik sarung suami saya, saking senengnya. Loh kok sarung sih?
Hehehe, doski baru pulang dari masjid soalnya waktu saya nemu informasi tentang PC All in One ASUS Vivo AiO V200IB ini.
"Mas, mas, lihat lihat nih, cocok dengan yang aku butuhkan untuk bikin kursus!"


Semua Yang Saya Butuhkan Ada di PC All in One ASUS Vivo AiO V200IB



Jadi begini, PC All in One itu adalah PC yang CPU-nya udah jadi satu dengan monitornya. Sekilas penampakan seperti monitor saja, atau malah seperti televisi. Nah, PC All In One ASUS V200IB bentuknya kompak, stylish juga kokoh. Bisa diletakkan dengan rapi di rumah saya dengan satu meja panjang. Cukup deh bikin kursus di rumah saya yang mungil.


PC All In One ASUS V200IB ukuran layarnya gede juga; 19,5 inch. Dilengkapi layar LED-baklit yang menawarkan kecerahan sehingga gambar tampak hidup. Sesuai juga dengan kebutuhan saya, untuk membuat rekaman desktop atau merekam diri sendiri sebagai video tutorial. Juga enak untuk kelas digital dengan tele-conference atau video chat. Kursus online makin enak dilakukan dengan layar lebar. 


Keren nih, ada juga teknologi layar sentuh 10 jari. Kalau mau edit gambar mudah kan, nggak perlu beli drawing pad lagi. Peserta kursus juga pasti bakal suka. Untuk presentasi juga pasti mudah dan menarik. 


Gambar bagus kalau suaranya pelan ya kurang asik kan? jangan kuatir deh. Pakai PC All in One ASUS V200IB ini suaranya ciamik. Teknologi ASUS Sonic Master nya udah built in. Malah bisa diatur 5 mode loh, untuk music, movie, gaming, recording dan speech. Lengkap pokoknya.



Dengan Intel Premium Processor- ASUS V200IB hanya membutuhkan energi yang kecil (hemat listrik) tapi performa tetap bagus. Untuk multitasking juga kuat, perpindahan cepat dan halus. Mau browsing, sekaligus nonton animasi, sambil ngedit video...bisaaaa banget.  Ditambah lagi Advanced NIVIDIA Ge Force Graphic 930M yang digunakan. Menampilkan atau membuat video HD bisa lebih cepat. Juga hemat waktu kalau mau mengirimkan foto berkualitas tinggi. 


Yang amazing lagi, teknologi NFC nih. Dengan teknologi ini (dari video reviewnya diatas), kita bisa melihat gambar hasil jepretan henpon tanpa perlu kabel data. Cukup henponnya diletakkan seperti di gambar, maka log in dengan tap, dan bisa kita nikmati gambar atau file lain di henpon langsung ke layar monitor. Ajaib ya?


Pernah kagum dengan charger henpon wireless atau tanpa kabel? nah ini dia, di ASUS V200IB bisa dilakukan loh. Kita lagi kerja pake komputer kompak ini, sambil sekalian nge-charge henpon. Nggak pake repot, nggak pake kabel dan beneran meja kita jadi rapi jali. fiuuh, canggih banget sih ASUS..



Jika bekerja di bagian desain grafis, pasti butuh akses file gambar banyak. Juga untuk programmer, itu file codingnya juga gede banget. Biar aman biasanya disimpan di harddisk eksternal. Nah, port USB  dari ASUS V200IB ini ada banyak. Bahkan port HDMI juga ada, biar bisa disambungkan ke televisi dengan layar lebih besar, jadi kerjaan mengajar atau presentasi bisa lebih leluasa. 


Teknologi pembaca Smart Card juga keren. Biasanya kita nunggu transfer data sampai ngantuk..karena lama. Nah pake ASUS ya gpl deh, ga pake lama. 

Pokoknya kerjaan beress tuntass dengan ASUS V200IB



Spesifikasi PC All in One ASUS V200IB ini sesuai dengan materi kursus yang akan saya berikan:
  1. Materi Microsoft Office untuk bisa buka usaha jasa pengetikan
  2. Membuat Blog dan mengoptimasikannya
  3. Membuat konten digital untuk personal atau pengajar (guru)
  4. Membuat kelas virtual dengan platform digital learning (guru) 
  5. Membuat web design dan belajar front end programming
  6. Membuat aplikasi berbasis android 

Keenam materi digital itu, saya olah sedemikian rupa sehingga sesuai dengan tahapan pemula dan lanjutan (advance). Sementara sasaran peserta selain perempuan pada umumnya (ibu rumah tangga dan profesi lain), juga para pengajar (guru) dan penyelenggara bimbel yang ingin meningkatkan usahanya di ranah digital.

Strategi belajar juga akan menggunakan metode Blended Learning, yaitu kombinasi kelas tatap muka dan kelas online. Peserta bisa mengulang materi belajar secara mandiri di rumah, melalui website dan sumber belajar yang sudah saya siapkan.


Skenario Usaha Ada 3 Tahapan


Perkara perangkat sudah beres, saya tinggal memantapkan desain skenario usaha kursus yang ingin saya kembangkan. Karena harga produk juga sudah ada, mudah bagi saya menghitung rencana bisnis dalam jangka waktu 3-5 sampai 10 tahun ke depan. 

Skenarionya begini:
  • 1-3 tahun, Tahap Inkubasi. 
  • 3-5 tahun, Tahap Pemantapan.
  • 5-10 tahun, Tahap Pengembangan.




    Tahap Inkubasi 
    Masa ini, kursus dimulai saat ini juga, dengan perangkat yang ada. Rencananya, saya hanya membutuhkan perangkat berupa:
    1. PC All in One Asus untuk membuat konten digital/materi kursus dan presentasi (untuk saya pribadi sebagai pengajar).
    2. Kabel HDMI untuk menyambungkan PC All in One Asus dengan televisi
    3. Televisi (sudah ada)
    4. Ruangan (belajar dengan lesehan di lantai).
    5. Laptop dibawa oleh masing-masing peserta kursus
    6. Akses internet dengan wifi kabel (sudah ada)
    Dari masa inkubasi ini, evaluasi dilakukan untuk memantapkan fokus materi kursus, strategi pengajaran yang sesuai dengan peserta dan perangkat yang dibutuhkan.

    Tahap Pemantapan
    Modal untuk penambahan perangkat dikumpulkan sedikit demi sedikit untuk renovasi ruangan dan tambahan perangkat. Rencananya fasilitas yang akan diwujudkan adalah:
    1. 6-12 unit PC All in One ASUS untuk peserta
    2. LCD Proyektor
    3. Meja panjang untuk peserta dengan sudah disediakan PC All in One Asus
    4. Akses internet dengan wifi kabel (sudah ada)
    5. Lokasi masih di rumah
    6. Pengajar tambahan diambil dari alumni
    Tahap Pengembangan 
    Di tahap ini kursus sudah mapan, baik dari segi manajemen dan sistem usaha juga dari keuangan. Ada 3 hal yang ingin saya kembangkan dari sini, yaitu Franchise, Kredit PC All in One dan Cafe Coding. 
    1. Franchise adalah projek untuk mereka yang sudah punya modal dan memenuhi ketentuan yang kami berikan. Selain sistem usaha, kami juga menyediakan perangkat berupa PC All in One ASUS, LCD Projector, Kabel HDMI, dll. 
    2. Kredit PC All in One Asus, kami tujukan pada alumni yang ingin mulai membuka usaha sendiri di rumah dengan modal terbatas. Mengingat saya sendiri juga pernah mengalami kendala yang sama ketika akan memulai usaha. 
    3. Cafe Coding adalah projek entertainment dan komunitas alumni yang perlu dijaga loyalitasnya sehingga usaha kursus tetap bertahan lama. Cafe ini berisi spot makanan dan spot ngoding, salah satu materi kursus. Spot ini berisi beberapa unit PC All in One ASUS, yang bisa digunakan oleh pengunjung. Disini juga diberikan ruangan untuk presentasi bagi para komunitas yang ingin membuat workshop atau launching produk baru. 
    Mengapa 3 tahapan?
    Kalau melihat skenario bisnis saya, kesannya lambat ya? 3 tahun, 5 tahun, 10 tahun.
    Hal ini bukan karena saya kurang percaya diri, namun saya memang menyesuaikan langkah. Ibaratnya saya tidak tancap gas pol, melainkan perlahan tapi pasti. 
    Kenapa?
    Tentu saja karena saya masih harus menjadikan anak-anak dalam skala prioritas. Saya ingin bisa membimbing anak dalam belajar sampai di tahapan sekolah yang aman, minimal SMA, baru bisa saya lepas mandiri 100%. Sekarang anak terkecil saya masih berusia 10 tahun masih kelas 4 SD. Jadi 3 tahapan skenario itu saya buat, agar tetap seimbang antara bisnis dan keluarga. 

    Mengapa hanya perempuan?
    Sejak awal saya menyatakan, ingin terlibat dalam projek pengembangan perempuan, baik secara pendidikan dan kemandirian. Selain itu di tahapan inkubasi dan pemantapan, keduanya saya lakukan di rumah. Selain karena saya ingin berbagi untuk perempuan, saya juga harus menjaga kehormatan suami dan keluarga. Akan lebih elok jika interaksi intens terjadi sesama perempuan saja ketika di rumah. Jika usaha sudah berkembang, saya akan meng-handle-nya langsung bersama suami dan dua anak laki-laki saya, maka bisa lebih luas jangkauan peserta kursusnya.

    Mengapa di semua tahapan tetap setia dengan PC All in One ASUS?
    Dengan suami saja setia, kenapa dengan ASUS enggak?
    #eaaa....

    Saya sudah percaya dengan kualitas ASUS. Waktu kuliah pasca kemarin, dosen saya, pak B julukannya, sering memamerkan laptopnya pada kami. "Walau semua udah ganti, saya selalu setia sama ASUS. Nih laptop bandel banget!", begitu katanya. Dan beberapa teman juga memilih ASUS. Saya pun yakin takkan salah pilih untuk selalu menggunakan produk ASUS untuk kepentingan pribadi maupun usaha dan bisnis. Recommended windows desktop brand loh nih ASUS.  
    ASUS Desktops – Most recommended Windows desktop brand.


    Apalagi produk ASUS PC All in One yang canggih dan keren itu. Kekuatan komputasinya dapat menunjang bisnis tradisional dengan teknologi terkini berupa layar sentuh 10 jari, koneksi port serial (COM), modul NFC dan pembaca Smart Card untuk mendukung aplikasi bisnis. Juga, karena bodinya ramping dan kompak, menjadikan produk ini sempurna untuk bisnis yang memiliki keterbatasan ruang area kerja. Cocok sebagai penunjang rencana untuk memulai kursus di rumah minimalis. 

    Baiklah semua spesifikasi PC All in One ASUS V200IB sudah saya ulik sedemikian rupa. Dan hasilnya sesuai banget dengan kebutuhan saya membuat kursus. Alhamdulillah, untung saya ketemu ASUS. Sudah kebayang kelak kursus saya  pasti bisa berjalan asyik, seru, menarik dan maknyuuss. 
    *Sumber foto yang diedit dan sumber informasi diambil dari https://www.asus.com/AllinOne-PCs/Vivo-AiO-V200IB/

        keterangan:
        Artikel ini diikutsertakan dalam ASUSPRO Intel Writing Competition, dan alhamdulillah mendapatkan Juara 2 untuk kategori All in One. Semoga ASUS makin jaya, dan kursus saya bisa segera dimulai dengan materi belajar yang makin enak dibaca. Terima kasih dan sukses ya ASUS


        Menjadi Millenial Housewife dan Dampaknya Yang Menakjubkan

        3 comments
        "Bu Heni, ngajar dimana?", Seorang dosen bertanya. 
        "Saya bukan guru pak. Saya ibu rumah tangga digital". 
        "Hah? Maksudnya?"
        Dalam percakapan saat perkenalan di mata kuliah Metodologi Penelitian ini, Dosen saya tak paham, sedangkan teman saya tak henti ngikik tertahan.

        Hah? Ibu rumah tangga digital?
        Maksudnya ibu rumah tangga tanpa jarum panjang dan pendek?
        Itu jam dinding kali :)

         Lalu apa itu pengertiannya?
        Jujur nih, Sebenarnya waktu itu, saya cuma asal saja membranding diri sendiri sebagai ibu rumah tangga digital,ketika masuk lagi ke dunia kampus. Karena...awal kuliah, setiap ngaku sebagai ibu rumah tangga (saja), respon selalu kurang sreg di hati. Jadilah saya tambah kata digital dibelakangnya. Biar kelihatan rada keren? Iya juga sih, itu maksudnya.

        Sebenarnya tidak salah juga loh saya menambah embel-embel digital itu. Karena saya IRT yang aktif di dunia digital. Saya bikin blog, alias blogger. Saya jualan di internet, atau onlineseller. Saya aktif di fb alias fesbuker (loh judul acara TV).

        Millenial mom
         Millenial Housewife - Ibu Rumah Tangga Digital
        (Di samping laptopnya, ada setumpuk cucian kotor, hihihi)

         Saya IRT, namun di pertemuan pertama kuliah sudah siap dengan nama mailing list di GMail untuk teman sekelas saya. Saya membuatkan blog beberapa teman yang nggak ngeh sama sekali tentang dunia blog, ketika ada tugas dosen.
        Saya mengambil topik seputar elearning (pembelajaran menggunakan teknologi internet) dari tugas semester satu sampai tugas akhir tesis. Setelah lulus, saya semakin aktif di dunia internet yaitu sebagai blogger pro. Bukan pro Ahok,loh ya...*peace. Blogger Profesional, maksudnya.

        Pekerjaan, lalu lintas komunikasi, karya, belajar, bicara dsb semua melalui teknologi gadget digital. Nah, pantaskan saya disebut IRT digital?

        Sebenarnya, ini bukan masalah pantas tidak pantas. Tetapi bahwa ternyata ada peluang di luar sana yang menerima status ibu rumah tangga sebagai anggota baru. Di dunia digital.

        Saat ikutan acara AkberSby bersama lenovo kemarin, saya mengenal istilah Generasi Millenial. Generasi millenial adalah generasi dengan karakter khas, diantaranya adalah ia tidak mau berhenti belajar, terus bergerak, familiar dengan teknologi-gadget dan internet. Mereka bukan sosok individual tetapi butuh berkomunitas secara digital, sekaligus bisa berkarya secara digital. Menarik sekali. Gue banget tuh kan???

        Karena saya  (mantan) anak muda, maka sebutan yang pas adalah sebagai Millenial Mom atau lebih lengkapnya lagi Millenial Housewife. Nah keren kan, ibu rumah tangga digital jadi millenial housewife? :-D

        Saya pun berselancar mencari di dunia seberang sana, adakah istilah ini lazim dipakai oleh IRT yang aktif di dunia maya? Dan ternyata ada. Bahkan ada web khusus membahas millenial housewife ini. Di pinterest juga banyak yang membahas millenial mom. Akhirnya, gue dapat nama profesi yang keren didengar :-D .

         Apa itu tepatnya peran dan jobdes millenial housewife? Apa keuntungan dan kelemahannya? Dan mengapa lebih baik wanita (anak wanita/murid wanita kita siapkan sebagai milenial housewife?

        Saya merangkumnya singkat dengan kalimat begini. Profesi Milenial Housewife ini sesuai perkembangan jaman. Anak muda generasi Z, kelak akan dewasa, menikah dan mungkin memilih menjadi ibu rumah tangga. Nah, optimalisasi perangkat teknologi yang sudah biasa dipakai bisa dilakukan di momen itu.

        Dengan cara ini,  Perempuan tetap update, aktif, produktif. Bahkan ketika anaknya lahir, kehidupannya tidak berhenti. Secara menakjubkan malahan, mereka bisa menjadi saksi tumbuh kembang anaknya secara detil. Mereka bisa ada di momen berharga anaknya. Ketika pertama tampil di panggung playgroup, jadi pemain sepak bola, ikut olimpiade matematika atau ujian nasional.

        Di setiap tahap kehidupan rumah tangganya, bisa ditulis di dalam blog. Ditulis dari rumah dengan kualitas bernama 'pengalaman nyata'. Generasi millenial memang lazimnya suka berbagi cerita, seperti halnya berbagi status di sosmed tentang tiap detil kegiatannya. Jika cara ini dibina secara konsisten dan sepenuh hati, maka kelak aktivitas digitalnya itu bisa dijadikan peluang bisnis.

         Millenial housewife punya peluang besar jadi self employee dan pengusaha online yang sukses. Asalkan dua syaratnya terus dilaksanakan. Yaitu tidak berhenti belajar dan mempraktekkan hasil belajarnya. Jadikan itu sebagai siklus kehidupan yang menarik.

        Ayo, upgrade diri para ibu rumah tangga....!!!

        Beranjak Pagi

        No comments
        Ini terjadi padaku setiap kali aku selesai "curhat" atau "mengeluh", maka sepertinya mendadak aku sembuh. Yang semula malas, mendadak jadi rajin kerja lagi. Yang semula bosan, merasa banyak teman, hehehe. Dan pagi ini, aku coba untuk tidak mengeluh dengan urusan dapur. Ya, biasanya ketika membuka mata, maka yang membebani batinku adalah kewajiban untuk ke dapur. Untuk membuat sarapan. Untuk melihat tumpukan piring kotor yang belum dicuci. Untuk menginjak lantai dapur yang basah, karena bocornya pipa bak cuci piring. Piring kotor itu sering menumpuk karena aliran air PDAM beberapa hari ini tidak lancar dan kecil sekali. Agar air bisa naik ke tandon air, maka harus disedot dengan mesin pompa air. Demi hemat listrik, maka mengisi tandon dan mencuci piring sekaligus dikerjakan dalam satu waktu. Apapun yang terjadi, konsep harus menghemat masih terus dilakukan lho, :)

        Aku mengatur hatiku semaksimal mungkin untuk menerima semua itu. Dan pagi ini berjalan cukup lancar. Setelah rumah dan dapur bersih, serta ada sarapan sederhana untuk anak dan suami. Aku sempat melakukan peregangan tubuh di depan tivi sambil menemani suami yang siap berangkat kerja. Lumayan juga, sedikit keringat membuat segar tubuh. Aku pun berlanjut menyapu daun-daun kering di halaman luar. Hmmm...udara lumayan segar, karena  entah kenapa para tetangga seperti sepakat tidak memanaskan mobilnya pagi ini. Biasanya turun adzan subuh, langsung deh mereka bremm..bremm...bremmm.... memanaskan mesin mobil dan menjengkelkan tetangga sekitarnya yang ingin menghirup udara segar pagi. Hehehe, ya begitulah hidup bertetangga.

        Ketika menyapu halaman, mendadak ada telepon dari teman untuk ikut berziarah ke rumah alumni sekolah TK anakku yang kedua. Aku pun segera meluncur memberikan bela sungkawa bersama ibu-ibu lainnya. Singkatnya aku kembali ke rumah. Mencoba berdamai dengan kondisi rumah yang kosong dan sepi. Menyalakan televisi dan memutar iklan home shopping yang pasti ditayangkan berulang-ulang, acara yang kuanggap sebagai teman saja di rumah. Lalu membuka laptop dan ingin mengoprek lagi platform pendidikan online yang kemarin kutemukan ketika mencari data tentang penerapan e-learning di Indonesia.

        Platform itu adalah wiziq, course networking dan second life. Yup, harus move on dan move ooon :-)

        Comfortable Life

        2 comments

         Comfortable Life, dua kata ini diartikan dalam blog ini dengan gambaran orang yang melakukan rutinitas hidupnya dengan kebosanan. 



        Aduh, mau nggak ngakuu tapi kok ya sepertinya itu saya ya. Kena virus bosan lagi. Rutinitas yang membosankan dalam kehidupan sehari-hari. Ini sempat saya alami sejak menjadi ibu rumah tangga. Sampai pernah ada di puncak kebosanan yang begitu parah. Waktu itu saya sering menuliskan kata, "saya sedang mati suri", "saya sudah mati ketika masih hidup".

        Begitu membosankannya kehidupan saya saat itu. Hingga saya bereksplorasi kesana kemari [baca : di dunia online] untuk  menghibur diri.
        Eh, tapi rupanya berteman online tidak cukup, saya pun berusaha punya genk emak-emak untuk sekedar menghilangkan kebosanan, untuk curhat, untuk hepp-heppi lah ceritanya. Tapi ternyata lagi-lagi saya nggak cocok dengan tipe genk ibu-ibu gini. Akhirnya dikit-dikit kami ketemu. Saat mau sarapan, eh beli lontong mie bareng. Lalu mampir ke rumah seorang teman, "cangkrukan" sampai nunggu jam njemput anak datang yaitu di tengah hari. Sorenya kami ketemu lagi di tempat jogging sore. Habis jogging bisa aja lanjut makan bakso bersama. Hampir tiap hari begini, sampai urusan beberes rumah nggak selesai. Apalagi urusan ngerjain tugas saya di kampus.

        Saya pun berpikir ulang, dan menarik diri. "Berteman di dunia nyata, menghabiskan waktu" itu kesimpulanku saat itu. Walaupun aku coba mengakali membawa laptop ketika kumpul geng, tetep saja jatuhnya ya ngobrol ngalor ngidul dan pasti akhirnya gosip sana-sini. Akhirnya saya kembali ke laptop. Dan kehidupan kembali ke normal.

        Normal?
        Ya begitulah, hampir 90% waktuku ada di dalam rumah lagi. Benar-benar di dalam rumah. Saya hanya keluar ketika belanja sayur, antar jemput anak dan sesekali ke bank jika perlu.

        Saya yang aneh yaaa?
        Iya kayaknya aneh banget ya? tapi pasti tidak aneh karena sejak kecil, gaya dalam keluarga saya juga begitu. Dan eh ndilalah, gaya keluarga suami juga begitu. Cuma, beruntungnya, ibu mertua saya itu penjahit. Jadi walaupun nggak pernah keluar rumah, tiap hari bisa saja ketemu orang baru yaitu para pelanggan yang mau menjahitkan baju. Dan gaya hidup di desa itu, "rumah tanpa pagar", jadi bisa blas blus blusukan masuk ke rumah orang, dengan enaknya.

        Secara kalau hidup di kota besar seperti Surabaya gini, ya "rumahku rumahku, rumahmu rumahmu". Makin tinggi pagar orang, makin keren kali hehehe.

        Saya sering mengamati gerak-gerik beberapa emak2 di KEB. Asik bener, ibu-ibu bisa mampir ke kantor Google Indonesia-lah, bisa kopdar, bisa bikin workshop, aduuh menyenangkan banget ya.
        Hampir saya pastikan mereka lakukan semua kegiatan itu ketika anaknya sedang sekolah. Bahkan beberapa bisa membawa bayinya kesana kemari.

        Saya kok belum bisa kayak gitu ya?
        ini kebiasaan atau apa??

        Saya ingin berubah, SUMPAH deh.
        Saya sempat berharap besar dengan proses perjalanan saya ketika memutuskan kuliah lagi di pascasarjana UNESA. Pikir saya, akan dapat teman baru, bisa diskusi sambil nongkrong santai, bisa ikut seminar ini itu, dll. Ternyata jadwal kuliah saya cuma dua hari, jumat dan sabtu, mulai jam 1 siang - 9 malam jika full. Nah, saya berangkatnya mepet waktu masuk, karena harus selesai menjemput anak sekolah dan memastikan mereka aman di rumah ketika saya tinggal kuliah. Saya tidak punya saudara atau asisten rumah tangga untuk menitipkan anak-anak sejak pagi. Dengan waktu kuliah segitu, kapan saya bisa kenalan sama mahasiswa jurusan lain? hahaha, ternyata beda banget sama tahap sarjana dulu. Banyak waktu untuk kegiatan mahasiswa, atau ketemu ngobrol di musolla,  angkot atau kantin.


        Sebenarnya waktu pagi saya panjang juga loh. Karena anak-anak baru pulang jam 1 siang dan 3 sore. tetapi udah biasa kali ya, sejak kecil dilarang ketat main dan boleh hanya di rumah kalau nggak tidur ya belajar. Maka saya kok rasanya beraaat sekali mau keluar rumah. Misalnya ke mall, atau ke toko buku,dll. Yang kalau dihitung juga nggak terlalu jauh dari rumah pun ada. Belum berangkat nge-mall aja saya udah kepikiran, apa waktunya cukup? nanti saya sampai di mall jam 11 trus jam 12.30 harus sudah di parkiran sepeda motor lalu berangkat jemput anak.

        karena banyak pertimbangan gitu, akhirnya saya batalkan lagi.
        Atau jika saya ingin lebih jauh, misalnya ke pusat perbelanjaan surabaya PGS atau ke kampung ilmu tempat jual buku bekas yang jaraknya lumayan jauh dari rumah, tapi sejak pagi udah buka. Nah, belum berangkat saya udah kepikiran, kalau nanti mendadak ada telepon dari gurunya anakku dan dia harus dijemput misalnya sakit panas atau muntah, atau apa gitu, gimana? aku lagi jauh? nanti ngebut lagi jadinya dan bahaya...

        Nah kan, saya gitu melulu. Jadinya aman di dalam rumah saja. Tapi ya gitu, lama lama ya bosan lagi, walaupun akses internet sudah bagus.
        Duh, gimana ya enaknya?




        Di Semester Satu

        4 comments
        Jauh sebelumnya, saya berspekulasi sendiri bagaimana sih ritme kuliah pasca sarjana itu. Yang pada intinya, pasti lebih berat daripada kuliah di tahap sarjana. Pengalaman saya waktu di Kimia ITB itu, ada 2 x 8 jam ada di laboratorium tiap minggunya. Tidurnya hanya 3 jam. Tugasnya banyak. Bukunya tebal semua dan berbahasa Inggris. Dan capeknya sampai mimisan.

        waktu di laboratorium biokimia

        Ketika saat itu saya bertemu dengan kakak-kakak yang sedang pasca sarjana, sepertinya ritmenya seperti itu juga. Bahkan lebih ganas lagi. Contohnya saja, ketika saya sedang tugas akhir penelitian di gedung Biokimia Medis di PAU ITB, itu kakak kelas pulangnya jam 9 malam lebih. Bahkan subuh kadang harus kembali lagi untuk mengecek biakan bakteri, jamur atau mikroorganisme yang sedang diteliti.

        Nah, jika masuk pasca sarjana jurusan Kimia lagi, saya haqqul yakin, pasti akan mengalami ritme belajar dan kerja sekeras itu. Bahkan bagi saya yang sudah 12 tahun lebih jadi ibu rumah tangga, tentu makin gila-gilaan harus mengejar ketertinggalan sekaligus kelupaan terhadapa materi pelajaran kimia.

        Itulah yang mendasari, akhirnya saya meloncat pindah dengan nekad [sekali lagi] ke dunia baru yaitu Teknologi Pendidikan (TP). Paling dasar adalah saya yakin tidak bisa membagi waktu dan tenaga dengan baik, jika tetap ambil kuliah di kimia, dengan waktu untuk anak-anak dan rumah tangga saya.

        Singkat cerita, saya sampai di gedung kuliah Universitas Negeri Surabaya jurusan Teknologi Pendidikan. Seperti apa kuliah S2 di sini?

        Kebetulan, jadwal kuliah saya cuma dua hari, Jumat dan Sabtu. Mulai jam 1 siang sampai maksimal 9 malam. Intensif banget ya sebenarnya. Tetapi begitulah, saya tidak bisa memilih jadwal, karena sudah ditentukan dari pusat. Bagaimana dengan kurikulumnya? ternyata sama saja dengan waktu saya di Bandung itu, semua juga ditentukan oleh pusat. Jadi bahkan referensi kurikulum 2012 yang saya baca sebelumnya di website pasca TP UNESA tidak sama dengan kurikulum 2013. Untung alhamdulillah ada satu mata kuliah yang dihapus yaitu Statistik. 

        Kurikulum TP UNESA 2013, meliputi teori belajar, cara membuat dan mengembangkan kurikulum, teori dan praktek mengembangkan pembelajaran online, filsafat ilmu dan kebijakan ilmu pendidikan serta pembelajaran mandiri. 

        Ketika kuliah, para dosen yang terdiri dari para doktor dan profesor, memfasilitasi kami dengan membuka diskusi menggunakan slide power point. Beberapa menit mereka menjelaskan isi power pointnya, yaitu apa-apa saja yang perlu dipelajari, dan buku rujukan apa yang perlu dibaca [kadang perlu juga dibeli].

        Setelah itu, hampir pasti, kami langsung diberi tugas untuk mereview buku atau jurnal baik secara individu atau kelompok. Tugas itu berbentuk slide power point dan makalah. Kadang kami hanya perlu mengirim tugas lewat email, menulisnya dalam blog atau harus mencetaknya dalam bentuk handout dan makalah. Kebetulan UNESA belum menerapkan sistim pembelajaran online sepenuhnya, jadi perkuliahan harus ada bukti fisik berupa printout dari tugas-tugas.

        Kami tidak hanya mengumpulkan tugas, tetapi wajib wajib dan wajib mempresentasikannya di depan kelas. Kemudian mendiskusikannya dengan teman dan dosen. Begitu seterusnya tugas demi tugas diberikan.






        Kehadiran tidak dianggap penting, karena mayoritas mahasiswanya adalah para guru dan pekerja. Terutama bagi guru PNS, mereka sulit sekali untuk membolos saat ini. Karena ada ketentuan waktu minimal mengajar sebagai syarat cairnya insentif sertifikasi dari pemerintah. 

        Karena jarang bertemu, kami berkomunikasi lewat email, grup whatsapp dan sms/telpon. Untuk mengerjakan tugas juga mudah sekali, karena adanya internet. Buku rujukan juga beberapa berupa e-book, sehingga kami bisa jauh lebih hemat dan mudah. Walau sebenarnya jauh lebih nyaman membaca buku cetak daripada ebook.

        Dengan waktu kuliah hanya 2 hari, apakah itu mudah bagi saya?
        Oh ternyata diluar dugaan, saya sulit juga membagi waktu. Mengurus rumah, anak-anak, sesekali mengendalikan bisnis online saya, mengerjakan tugas kuliah dan belajar. Apalagi ketika kuliah itu, saya berangkatnya jam 12 siang dari rumah, naik sepeda motor di waktu macet. Sampai di kampus biasanya 1 jam kemudian. Penatnya luar biasa, terlebih di pagi harinya saya biasanya tidak istirahat. Karena harus ekstra memasak untuk anak suami di rumah, menjemput anak-anak, dan menyiapkan mereka agar aman ketika saya tinggal ke kampus. Sering waktu sampai kampus, saya lapar luar biasa karena tidak sempat makan siang. Untungnya saya selalu sempatkan untuk membawa bekal sendiri dari rumah. Jadi sayalah satu-satunya mahasiswi ibu-ibu yang selalu dengan cueknya makan di kelas sebelum kuliah mulai atau di waktu rehat. Cuek aja biar saya tidak kena sakit maag.

        kebetulan ga bawa bekal, beli nasi bungkus di kantin pasca


        Begitulah, mungkin jika kita ambil kelas pasca langsung setelah lulus sarjana atau ketika kita aktif bekerja sebagai pendidik atau di bidang yang sama, kesulitannya lebih sedikit daripada saya yang full ibu rumah tangga dan malah aktif ke bisnis dan craft. Namanya mendongkrak isi kepala agar bisa konsentrasi kembali itu luar biasa usahanya. Alhamdulillah sangat terbantu dengan deadline. Kalau sudah waktu mepet, eh selesai juga kerjaan saya, hehehe.

        ada teman asli dari Cina, miss Zhu, dosen bahasa Mandari, Univ. Petra Sby


        Dan alhamdulillah, berkat sebelumnya saya aktif membaca dan update diri secara online, maka ketika presentasi, saya bisa melebarkan topik pembicaraan yang relevan sehingga lebih menunjukkan faktanya. Di awal semester ini, intinya kami masih belajar di pusaran teori. Hobi browsingku sebelumnya juga membantu saya dengan cepat mencara referensi atau gambar yang sesuai dan menarik untuk power point saya. Apalagi ketrampillan blogging saya, sampai bisa bermanfaat untuk beberapa teman yang bahkan belum mengenal blog sama sekali. Begitulah kawan, semua ilmu pasti kelak ada manfaatnya untuk orang lain.

         Ini saja sharing saya kali ini, semoga bermanfaat. 
        Heni PR

        Dari Ebook ke Make Up

        1 comment
        Sabtu pagi berkutat memindahkan file ebook melalui SD Card atau kartu memori. Lalu coba baca sedikit garis besarnya.

        Ebook tentang Teori Pendidikan Online, dalam bahasa Inggris. Waduh lumayan lama nggak megang bahasa Inggris euy, lieur juga :)

        Ada 4 bagian, total 16 bab. Lumayan. Tetep semangat.

        Menjelang sore, ebook ditutup dulu, lalu menuju rumah ibu. Masih satu kota, di Surabaya juga. Perjalanan hanya 30 menit.

        Ada acara syukuran kakak dan arisan keluarga. Dasar saudara cewek pada narsis semua, jadi deh pengen foto-foto sebelum potong tumpeng.

        Kebetulan aku bawa palette lipstik dan bedak two way cake. Jadi deh make over si kakak plus masangin jilbabnya.

        Lumayan hasilnya, sayang jilbab itu modot morot alias lepas semua waktu kakak makan nasi tumpeng. Maklum, nggak siap, jadi kurang jarum pentulnya.

        Alhamdulillah, berkat kenal sobatan sama emak-emak perias pengantin. Jadi saya bisa belajar merias gratisan deh. Lumayan, bisa jadi hobi yang produktif nantinya.

        Nyari target, dirias, dijilbabi, lalu difoto. Hobi visualku yang asik sekali.

        Semoga menginspirasi
        Heni Prasetyorini
        Powered by Telkomsel BlackBerry®

        Untuk Jadi Emak Samson

        No comments
        Begitulah, ada beberapa alasan akhirnya aku dijuluki Emak Samson oleh temanku.
        1. Ketika pemasangan dan pelepasan alat KB implan yang dua jarum silikon itu, biasanya di jarum kedua, ibu bidan sulitnya minta ampun masang atau melepas jarum itu dari lenganku. Kata bu bidan, "aduh ibu ini di rumah ngangkat spring bed ya? ototnya kuat banget, susah ditembus". Dan iya itu benar.


        2. Setiap aku teriak-teriak ingin curhat karena galau, temanku emak-emak langsung tanggap dengan apa yang kulakukan. Yaitu mengubah letak perabot rumah. Ngangkat lemari, spring bed, mindah rak piring, dsb. Dan biasanya aku telat untuk ikut acara janjian kumpul emak-emak itu, dan mereka menggerutu sambil ngeledek, "emang dasar samson"

        Dan berbagai hal lainnya, termasuk ceritaku pada anak-anak, kalau waktu SD aku berani menantang teman laki-laki jika mereka mengganggu adikku. Lalu anakku berkomentar, "mama memang perkasa".

        Biarpun mudah termehek-mehek, ototku memang terlatih untuk nekad :)
        Tapi masih ada satu hal yang belum tercapai, dan aku masih belum merasa puas. Yaitu kemampuan berenang.

        Menurutku, perempuan terhebat adalah yang piwai berenang,berlari, bela diri. Pokoke super keren jika perempuan bisa rutin, istikomah bahkan ahli melakukan hal itu.

        Baiklah, satu persatu akan kulakukan untuk melengkapi predikatku sebagai emak samson. Pertama adalah berenang. Maka, mulailah aku belajar berenang. Beruntung sekali, adikku yang baru jadi guru playgroup punya koneksi les murah ibu dan anak sekalian. Di kolam renang dekat rumah pula, hanya 15 menitan. Syukurlah.



        Berangkat untuk renang ini perlu perjuangan luar biasa. Karena baru pertama kalinya ini menarik suamiku dari zona nyamannya, yaitu hanya ada di rumah seharian ketika libur kerja. Butuh perjuangan lahir batin deh. hehehe

        Tapi kali ini, aku nekad sekali. Tak mau mengalah karena matahari atau capek dan alasan apapun. Pokoknya harus les sampai bisa renang. Target, aku akan selamat jika kelak naik kapal lalu kapalnya terbalik kena ombak, bismillah itu tidak terjadi. Dan anak-anak cowokku bisa renang dengan baik.

        Renang dulu, baru nanti lari. Semoga dengan adanya kawat di kakiku untuk pengobatan retak di telapak kaki itu tidak terganggu dan aman saja dipakai berlari memakai sepatu kets. 

        Dari Kimia

        2 comments
        Saya atau Aku, 
        Maaf biasanya saya sering tertukar menuliskan diri sendiri sebagai aku dan saya berbarengan dalam satu tulisan. Jika itu terjadi di tulisan sebelumnya, mohon maklum adanya [seperti surat ijin absen sekolah hehehe].

        Ini adalah kisah singkat pencarian minat diri saya sendiri. Yang kalau ditelusuri malah nggak bisa diterima akal sehat. Harusya bisa diterima oleh iman yang sehat :)

        Ketika hampir akhir sekolah SMA atau SMU jaman sekarang, saya hampir yakin jika masuk kelas 3 Bahasa adalah pilihan saya yang tepat. Karena sejak SD saya suka sekali membaca dan menulis diary atau semacamnya. Pas masih kelas 2 SMA, sengaja nih kalau saya lewat kelas 3 Bahasa para kakak kelas, saya akan mengintip kegiatan mereka. Dan hati saya meledak-ledak begitu tertarik ketika membaca sebuah karya sastra yang ditulis seorang kakak kelas di papan tulis. Padahal pegel kan tuh nulis sastra di papan tulis pakai kapur?

        Namun apa daya. Keinginan saya distop oleh seorang kakak kandung saya, cowok. Yang mengatakan, "ngapain milih bahasa?"!
        Singkat cerita, akhirnya saya masuk ke kelas 3 IPA. Lalu lanjut sampai nyemplung ke kampus berlambang ganesha di gedung tua di belakang pojok dekat orang jual gudeg Jogja. Selama 4 tahun saya menjebloskan diri ke dalam meja kelas dan laboratoriumnya departemen Kimia Institut Teknologi Bandung. Luar biasa mati-matiannya saya belajar disini. Yang namanya MIMISAN waktu di lab atau di kelas, seperti hobi saja. 

        Mungkin karena hawa dingin Bandung yang ekstrim daripada Surabaya tempat asal saya. Atau mungkin juga begitu menyengatnya bau dari asam asetat, chloroform dan semacamnya yang merusak lapisan tipis pembuluh hidung saya waktu praktikum di laboratorium organik. 

        Luar biasanya juga saya nekad merantau di Bandung ini, sendirian. Tanpa saudara dari Jawa Tengah atau Jawa Barat. Tanpa teman satu sekolah dan semacamnya. Benar-benar sendirian. Hanya mengandalkan do'a orang tua bahwa saya akan selamat-selamat saja disini. Ups, mengandalkan juga gaya saya yang super tomboi agar nggak diganggu di perantauan. 

        Dari kimia saya berhijrah habis-habisan ke dunia ibu rumah tangga. Saya lepaskan peluang menjadi PNS di sebuah lembaga penelitian negara, karena ada si janin yang udah dititipkan di rahim saya. Begitulah, dunia ibu rumah tangga memompa jiwa raga saya habis-habisan. Betul-betul menjadi kawah candradimuka yang hampir saja membuat tulang belulang saya ikut larut menjadi bahan baku pembakar kawah itu.

        Menjadi ibu rumah tangga yang tidak bekerja di kantoran, membuat saya putar otak, putar badan untuk melakukan sesuatu. Dan pilihannya belajar membuat kerajinan tangan, belajar di dunia internet, belajar tentang parenting, pendidikan dan lain sebagainya lewat internet. 

        Dengan semangat otodidak, karena tak bisa meninggalkan rumah dan anak-anak serta untuk menghemat biaya, maka saya belajar banyak sekali hal baru itu. Membuat kreasi dari kain flanel, aksesoris manik-manik sampai yang lebih rumit yaitu membuat aksesoris dari kawat alias wire jewelry. 

        Kadang saya menertawakan diri sendiri juga sih, lulusan kimia kok pegangannya jarum jahit, kain, kawat, manik-manik dan tang. Dan sebenarnya yang menertawakan saya itu banyak sih, ya saudara ya tetangga bahkan orang yang baru kenal sekalipun, selalu berkomentar, "aduh sayang banget lulusan kimia kok jadi ibu rumah tangga saja".

        Ya begitulah, mau tidak mau saya harus menyimpan itu suara tertawa di dalam hati sambil mencari cara agar saya bebas dari rasa tidak enak seperti itu. Atau jika tidak bisa, maka saya cari saja motivator lain yang bisa membuat saya nggak minder-minder amat. Sekaligus bisa meningkatkan kemampuan saya baik dalam ketrampilan ataupun pengetahuan.

        Begitulah, saya jadi emak-emak browser, yang rajin browsing kesana kemari. Sampai akhirnya saya menclok di dunia komunitas penulis lepas, emak2blogger, ibu profesional dan lain sebagainya. Saya mengenal internet, jejaring maya dan sebagainya untuk mengasah ilmu bahkan sampai nekad berbisnis di dunia maya. Bisnis online. 

        Sampai tiga tahun menjalankan bisnis online, saya merasa masih ada kekosongan dalam hati yang belum terpenuhi. Saya kangen dengan sekolah, belajar, ujian dan kawan-kawannya. Saya yang suka sastra tetapi berhasil lolos di dunia IPA, itu karena saya suka sekali belajar. Dan ketika menjadi ibu rumah tangga, proses belajar saya belum mendapatkan tempat yang pas. 

        Merenung, merenung dan merenung, maka sampailah satu keputusan bahwa saya harus kuliah lagi. Masuk ke dalam sebuah institusi resmi lagi untuk mengupgrade kembali diri saya dan meletakkan saya kembali tepat di posisi dan konfigurasi yang tepat. Seperti elektron.

        Layaknya elektron yang tidak ada di konfigurasinya yang benar, maka dia akan gelisah dan masih ingin sekali lompat ke atas atau malah lompat ke bawah, ketempat yang baginya lebih stabil.

        Begitu juga saya. Maka dalam rangka mencari kembali konfigurasi saya yang tepat, saya memilih untuk meneruskan kuliah. Dari informasi yang diharmonisasikan dengan keadaan diri saya sendiri, maka saya pun memilih jurusan Teknologi Pendidikan untuk dipelajari sekarang.

        Maka sejak postingan ini, saya akan membagi cerita bagaimana seorang ibu rumah tangga menjalani hari-harinya menjadi mahasiswi pasca sarjana Teknologi Pendidikan. 

        Entah nanti bagaimana akhir dari proses saya ini, dari ingin menjadi sastrawan, masuk ke kimia, lalu jadi ibu rumah tangga, kemudian menjadi pebisnis dan emak blogger, kemudian menjadi mahasiswa lagi di dunia pendidikan. Apapun itu, niat saya hanyalah ingin menjadi perempuan yang mandiri dan bermanfaat di dunia dan akhirat. Amin.
        Semoga kelak kisah-kisah harian saya menjadi manfaat dan inspirasi, terutama untuk para ibu rumah tangga.

        Fashion No Mention

        24 comments
        Sebel nggak sih?
        Jika...
        Beberapa kali kumpul ibu-ibu, ada yang suka melototin kita dari ujung kepala sampai ujung kaki. Lalu dia mendekat pada kita, dan berbisik,

                              "nggak pantes banget sih jilbabnya"
        "wajahnya nggak dirawat ya? kusem banget"
        "pakai nih krim saya. jadinya alus dan mengkilat. nggak perlu pake bedak Jeng"
        "aduh gede banget sih bempernya. Nggak pernah ngaca ya?"
        "itu roknya beli dimana? pas banget ya sama gedenya badan"

        Saya nih, yang dari muda nggak peduli-peduli amat sama penampilan, kok ya lama-lama sebel juga mendengar hal itu ya?

        Jaman saya masih merantau dan sekolah jauh dari rumah itu, saya nggak menyediakan waktu buat mikiran fashion sama sekali. Kecuali  malah berusaha tampak gagah, macho, berani dan kuat. Tujuannya sih agar saya nggak diganggu siapapun jika di stasiun, di kereta api berjam-jam atau harus pulang jalan kaki dari kampus ke tempat kos di tengah malam.

        credit
        Celana jins longgar, kaos, jaket kampus, jilbab kaos, sepatu kets atau sandal. Sudah itulah senjata andalan. Make up paling banter bedak dan pelembab. Yang penting cuma, aku nggak bau badan dan bau mulut gitu aja deh, aman.

        Nah, jaman itu jadi tomboi masih aman-aman saja. Atau lingkunganku mendukung juga ya?
        Sekarang mulai membuka diri bergaul dengan ibu-ibu sekitar rumah, sekolahan dan sekitarnya kenapa malah saya jadi makin terintimidasi ya rasanya?

        Makin terancam oleh ulah Fashion.
        Jadi salting jika kumpul-kumpul. Takut dibilang nggak matching. Takut kelihatan gendut. "aduh jilbabku berlebihan gak ya? atau aduh salah kostum nih." 

        Perasaan yang muncul ini bikin saya sebel juga pada diri sendiri.
        "Kemana jiwaku yang merdeka dalam balutan celana jins belelku itu?'
        begitulah kira-kira teriakan dalam hatiku.

        Tetapi jika saya bertahan cuek beibeh juga kasihan sama suami saya. Mosok istrinya acakadut gitu sih? kayak nggak dikasih nafkah aja, kayak nggak diurus.

        Akhirnya saya mulai menerima kenyataan bahwa berdandan adalah kebutuhan perempuan. Saya mulai merawat diri. Memperhatikan baju dan kebutuhan pakaian lainnya. Iya, saya juga merasakan ada energi positif juga pada self esteem dan self confidence saya dalam bergaul atau tampil keluar.
        Tapi rasa terintimidasi itu belum hilang juga.

        sebagai kebalikannya adalah seperti ini,
        saya punya kenalan beberapa dosen perempuan. Bidang Kimia dan Matematika. Mbak-mbak ini [begitu saya memanggilanya, pakai mbak bukan ibu], konsisten banget dalam berpakaian. Kalau dari modelnya ya juadul banget. Bahkan jarang ganti baju. Artinya sering ketemu pakai baju yang sama. Tetapi kepintaran mereka luar biasa. Apalagi kebaikan hati mereka, sudah pantas jadi penghuni surga deh pokoknya. Mereka mending spend money buat mahasiswanya yang butuh uang penelitian daripada beli baju, gitu deh kasarannya.

        I adore them so much. Saya sangat memuja mereka. Dan saya yakin di lingkungan kampus, mereka tidak akan menerima bentuk intimidasi fashion seperti yang saya alami di dunia ibu rumah tangga. Mereka dihargai di lingkungan yang mendukungnya itu. 

        Memang sih, tidak semua ibu rumah tangga begitu. Hanya terkotak pada lomba update fashion semata. Unluckily lingkungan dekat saya begitu. Menghargai orang dari bajunya, tas-nya, sandalnya dan apalagi mobil dan rumahnya. 

        Walau begitu saya juga pernah mengendalikan sebuah bisnis fashion kecil-kecilan : Jilbab Orin. Sebuah keajaiban atau campur tangan Alloh SWT juga kali ya, untuk membuat  saya nggak tomboi terus seumur hidup. Sedikit care sama kecantikan gitulah. Dan memang berhasil juga, saya sedikit ngeh tentang fashion.

        Namun terus terang, jujur. Saya tersiksa sekali berbisnis di bidang fashion. Rasanya saya telat terus. Kuper terus. jadul terus. Dan ketinggalan jaman terus mengikuti putaran dunia fashion yang cepatnya minta ampun itu. Dan saya paling nggak nyaman kudu berdandan sesuai trend masa kini. jadinya saya nggak bisa jadi manekin berjalan untuk bisnis fashion saya itu. lama-lama saya menyerah deh. Fashion is not my passion. 

        Sebenarnya ibu saya, keluarga saya, bahkan bapak saya itu suka berdandan. Suka tampil rapi, modis dan trendi. Cuma saya aja yang nggak. Dari kecil lebih tenggelam di buku-buku. 

        Akhirnya saya mau ambil jalan tengah saja deh dari per-fashionan ini. Saya tetap akan meningkatkan diri untuk tampil lebih rapi dan pantas. Namun dengan gaya yang sederhana dan pilihan baju yang abadi sepanjang masa. 

        karena saya nggak mau repot update fashion. Saya mau lebih meluangkan waktu untuk hal lain. Saya nggak sanggup tampil lebih cantik lebih cantik versi banyak orang.

        Hhhh maaf ya ibu-ibu di lingkungan rumah saya. Saya terpaksa menjauh untuk menjaga energi positif diri saya sendiri. :DD

        do you ever feel the same, woman ? 

        Officeless Not Jobless

        4 comments
        Blogwalking ke "rumahnya" mbak Dina Begum (@dinabegum) membuat saya melek rasa. Mbak Dina adalah penerjemah. Cerita beliau tentang awal karirnya sebagai penerjemah membuat saya terinspirasi, bahwa ketekunan pasti membuahkan hasil.

        Yang paliing menarik adalah satu foto di sudut bawah blog. Foto mbak Dina sedang memakai laptopnya di meja teras Starbuck. Dibawah meja itu ada tulisan "Officeless Not Jobless".

        Kalimat itu kereeen sekali. Dan sepertinya itulah keinginan saya selama ini. Officeless [gak ada kantor tetap] not Jobless [bukan pengangguran, artinya berpenghasilan]. Dan benar, begitulah mbak Dina.

        Sebelumnya, saya dan suami sepakat memutuskan, bahwa saya berkarya dari dalam rumah saja. Kenyataannya pun benar-benar dari rumah saja. Di dalam rumah. Tidak kemana-mana kecuali ngantar jemput anak atau belanja dan ke ATM. Tidak ketemu teman. Jarang sekali ngobrol sama tetangga karena menghindari go-syip yang tak habis-habis. Begitulah, setelah rumah sepi, pada berangkat semua. Mulailah menyalakan tivi sebagai teman dan laptop untuk berkarya itu tadi.

        Lama-lama menjalani hari-hari seperti ini menghadirkan kejenuhan yang luar biasa. Benar-benar luar biasa efek negatif kejenuhan ini ya. Walaupun sudah berusaha keras menghadirkan penentram hati, bahwa yang saya lakoni ini sungguh mulia, tetapi saja rasa jenuh itu mendera.

        Kadang saya ingin seminggu sekali, atau sebulan sekali bertemu dengan teman baru dan belajar hal baru. Sempat saya lakukan dua kali saja di sebuah komunitas handycraft. Itu senangnya minta ampun. Tetapi akhirnya harus terkendala lagi, karena ketika weekend, suami saya pengen istirohat di rumah saja. Atau malah dia keluar kota. Kendalanya saya tidak bisa nitipkan anak-anak jika saya tinggal sekaligus tidak bisa mengajak mereka ke tempat pertemuan handycraft.

        Hal ini lanjut terus sampai saya pun tidak mengindahkan lagi adanya seminar, workshop dan lain sebagainya. Dan itu cukup menyebalkan, karena saya suka sekali ada di suasana "belajar" seperti itu.

        Memang sih ini juga proses. Pertama proses menunggu saya sampai anak-anak cukup gede untuk ditinggal. Dan proses lainnya sehingga suami, keluarga bisa nyaman ketika saya pergi sendirian tanpa mereka. Saya pun tenang meninggalkan mereka tanpa rasa cemas, kikuk, panik atau merasa bersalah. Ini proses.

        Makanya saya sempat irii banget pada seorang makpon KEB yang bercerita tentang acaranya di seminar blogger atau lainnya, sampai terbang kemana-mana. Pikir saya, kok suaminya ngijinin ya pergi kemana-mana sendirian hanya untuk komunitas "blogger" ?

        Yah, saya sadar diri juga, ada yang perlu dibenahi dalam keluarga kecil saya ini biar tidak melulu ada di dalam kotak. Begitulah, saya di masa kecil dilarang main hanya boleh belajar atau tidur dan saya nurut. Dan suami saya lebih parah lagi, tidak suka main dan hanya suka belajar di pesantren atau di rumah.

        Dulu saya enjoy saja belajar di dalam rumah, lebih banyak berteman dengan buku. Tidak banyak teman nyata, tidak masalah. Tetapi kok ya ada perubahan yang signifikan ketika saya sudah berumahtangga dan mungkin karena memilih tinggal di rumah saja.

        Saya merasa butuh sekali teman. Terutama teman yang nyambung diajak bicara dan suka mengajak saya belajar hal baru atau lebih produktif dan kreatif. Teman di dunia maya, tidaklah cukup juga rasanya. Karena sering terbatas oleh jumlah karakter dan waktu luang untuk online.

        Maka ketika bertemu emak-emak di KEB, sungguh terinspirasi sekali. Dan walaupun semula saya iri dengki terhadap mereka, hehehe, tetapi akhirnya saya bisa yakin kalau saya bisa juga seperti mereka.

        credit
        Pagi, setelah rumah sepi, saya ke tempat senam. Lalu berolahraga bersama teman. Pulang dari sana, kami mampir ke toko donat dan kopi terdekat, ngobrol sebentar. Lalu teman saya pulang. Saya tetap tinggal disana, dan aktif dengan laptop saya. Dan bisa berpenghasilan dari laptop itu. Mengetukkan jari di keyboard sambil menyeruput kopi dan menggigit donat manis. Minumnya, makannya dikit-dikit aja, biar awet, hemat, hahaha.

        Lalu alarm hp berbunyi. Waktunya saya menjemput anak-anak. Jika saya perginya naik mobil, maka waktu menunggu mereka keluar sekolahan bisa dipakai dengan buka laptop lagi di mobil. Atau jika sedang bosan laptop juga, saya bisa membuka alat-alat handycraft saya.

        Dan begitulah, menjadi Officeless, bisa pergi kemana-mana dan bekerja di tempat-tempat yang baru, pasti asik sekali rasanya.

        Ah, semoga bisa. Minimal, beberapa bulan lagi, in sya Alloh, di pelataran kampus atau di perpus, saya bisa asik berlaptop ria dan makin produktif ketika menunggu jam kuliah di mulai.

        Namun, jika Alloh SWT menghendaki hal lain, atau ga jadi kuliah. Saya sudah siap dengan gaya baru hidup saya, biar tidak monoton, tidak bosan dan tidak lagi menyalahkan istilah menjadi ibu rumah tangga yang di dalam rumah saja. #ayobelajarnyetirmobillagi :D

        Bismillah, semoga Alloh SWT memudahkan niat ini. Amiin.

        Eehh, bu Oling Mau Kuliah Lagi, Lho !!!

        No comments
        > "mbak, ngapain sih sekarang nggak pernah ngaji? bisnis baru ya?"

        Bu Oling, nyengir saja. Setengah mati menahan diri untuk tidak bercerita kepada banyak orang sebelum rencananya resmi dijalankan.

        > "mbak, besok kumpul-kumpul ya di rumah bu Rugi", ajak seorang ibu-ibu.

        Bu Oling salah tingkah, "aduh maaf, nggak bisa mbak."

        > "kenapa sih?"

        Bu Oling menjawab, "anu.aku ada yang dikerjakan"

        > "pesenan bros ta? duh sibuk bisnis aja sih. Nyari duit melulu"

        Bu Oling nyengir palsu, hehehe.

        # "Monggo ibu-ibu, kita akhiri pengajian ini dengan berdo'a. Semoga yang punya hajat bisa terlaksana. Bu Oling yang mau kuliah lagi, semoga lancar dan diberi kesabaran."

        amiinn... suara guru mengaji membuat hati bu Oling tenang dan besar. Didoakan tentu senang.
        setelah mendongak, bu Oling menyadari tatapan mata teman-temannya sesama ibu-ibu sedikit berubah. Serius, hanya satu orang yang nyengir lebar dan gembira mendengar rencananya ini disebutkan oleh sang guru. Hati bu Oling menjadi ciut kembali.

        > "ngapain sih mau kuliah lagi? pengen kerja ya? pengen kerja ya?"

        Sekali lagi bu Oling hanya nyengir palsu.

        Hadeeh, susah banget ya dapat dukungan tulus dari manusia di dunia nyata.

        60 juta

        2 comments
        "Eh prend, kan udah haji yak kemarin. Tolong do'ain ya, gue mau kuliah lagi nih. Do'anya pak Haji kan makbul tuh"

        > "Ha?? elu mau kuliah lagi?"
        >" eh, mikir dua kali deh Ling. Nggak sayang lu lepas jualan lu. Ini agenku ya, kemarin udah berhasil punya omset 60 juta pake belagak kuliah lagi segala. Sekarang bisnisnya berantakan"

        [bu Oling diam]
        Dia menyesal sekali memberitahukan rencana ini pada mantan teman kuliahnya dulu.
        "Aduuh ngapain siih diriku ini... sesumbar kesana kemari kalau mau kuliah lagi. Wong daftar aja belum."

        Tapi sebenarnya bu Oling ingin sekali menjawab kepada temannya itu,
        "apa salahnya aku kuliah lagi, bro?"
        "misalnya saja nih, yang punya niat ini istrimu, adik perempuanmu atau anak perempuanmu kelak. Apa akan kau jawab hal yang sama?"

        Kalimat itu hanya di dalam hati bu Oling, tidak tersampaikan. Karena dia memilih mematikan nada dering handphonenya, lalu memaksa untuk tidur.

        Ini adalah terakhir kalinya, aku meminta do'a dan motivasi dari teman, saudara, tetangga atau siapapun yang kukenal dan kuanggap lebih manjur doanya, lebih bisa memberiku motivasi.

        Sejak detik ini, biar aku berdoa sendiri, hanya meminta doa pada suami dan orang tuaku serta mertuaku. Dan tidak minta motivasi kepada siapapun lagi karena sesungguhnya yang bisa memotivasiku adalah diriku sendiri.

        Begitu tekad bu Oling


        Bu Oling Mau Kuliah Lagi

        No comments
        "ngapain kuliah lagi?"
        "mau ambil apa?"

        > "ambil kimia lagi kayak dulu, mas"

        "halah ngapain. ambil pendidikan guru aja, sekarang guru SMA gajinya besar. enak"

        glek.

        >"tapi. kayaknya aku ingin belajar biokimia lagi deh mas. kalau SMA kan cuma kimia dasar"

        "tujuanmu kuliah itu apa?!"
        "kuliah kok dijadikan hobi !"

        grrr... seisi ruangan tertawa.

        Bu Oling menghembuskan nafas kuat-kuat, mengendalikan emosinya. Lalu dengan terbata dia menjawab, "mmm...sebenarnya menekuni kimia sudah cita-cita dan keinginan sejak SMA. Pas lulus kuliah juga, sebenarnya sudah diterima jadi peneliti. Laluu..yaa...setelah menikah ya prioritas ke anak-anak dulu. Nah sekarang mereka sudah besar. Saya dan suami sepakat, saya kuliah lagi, moga-moga bisa jadi dosen atau peneliti atau kedua-duanya."

        Hffhhh nafas bu Oling dihembuskan kuat-kuat. Ingin sekali dia menggenggam erat tangan suaminya yang duduk disampingnya. Tapi itu tampaknya nanti terlalu lebay.


        Bu Oling menutup mata sejenak saja, tapi kelibatan beberapa peristiwa malah muncul dengan cepat. Jelas sekali, ya kalimatnya, ruangannya.

        "Eh...kemarin itu kamu kuliah ta? kirain ke Bandung cuma mau nyari suami"

        "Aduh, jangan kawin dulu anakmu itu. Sekolah saja terus sampai S3. Jangan niru tantenya, sekolah jauh-jauh cuma jadi ibu rumah tangga. Momong anak."

        "Ini anak saya. Iya mulai usaha pengetikan kecil-kecilan. Sebenarnya lulusan ITB. Tapi sekarang hamil, yaa nanti momong anak saja jadinya"

        "Aduh mbak, lulusan ITB? kok jadi ibu rumah tangga? sayang banget. Mbok bikin les bimbel gitu loh."

        "bikin ayam goreng aja gak bener. Katanya pinter. Sarjana ITB. halaahhh...."


        aisss...dah, bu Oling memukul kepalanya sendiri.

        credit






        Belajar Rias Gratisan

        No comments
        Lanjut dari mengabadikan momen teman saya merias teman saya yang satunya lagi. Saya pun belajar untuk merias wajah, dengan teknik standar dan warna yang standar. Supaya bisa saya terapkan untuk diri saya sendiri di rumah.

        Sehari-harinya, begini. Pelembab. Bedak Bayi. Lipstik tipis :-)

        Dan, setelah belajar make up  di rumah teman saya :




        Lalu penasaran, dan besoknya belajar make up sendiri di rumah :



        Alhamdulillah, lumayan bangetlah, Tahu teknik meratakan alas bedak, pake bedak, eye shadow, blush on, menyikat alis dan memakai lipstik.

        Saya geli sendiri juga nih. Jaman muda tomboy banget. Sekarang udah emak-emak, megang pensil alis. Tapi sangat menyenangkan juga rasanya bisa mendandani diri sendiri. Semoga suami saya lebih senang. hehehe

        Oh ya, untuk hasil make up teman saya, yang mengajari ini, sang guru. Namanya Diah. Mengelola jasa rias pengantin dan baju pengantin, di "Dee Rias Pengantin". Kami tinggal di Surabaya. Jika ingin kontak dan melihat sebagian hasil merias pengantin dengan saya kemarin, ada di entry dibawah ini ya.