Prolog Pagi Ini....
2011-Ku
Tak sengaja aku ketemu blognya seorang dokter dan penulis, mbak Agnes Tri H. waktu itu aku sedang mencari informasi tentang hyper menstruation dan pil KB. Salah satu hasil Google memunculkan blognya ibu dokter Agnes ini.
Aku menemukan hal menarik pada segmen di blognya yang diberi nama Diary Spiritual. Baru satu entry yang kubaca, yaitu List Pencapaian. Mbak Agnes menuliskan beberapa nomer pencapaiannya di tahun 2011. menarik sekali. Dia katakan, cara ini membantu mengembalikan dan meningkatkan kepercayaan dirinya. Aku jadi ingin menirunya.
Inilah pencapaianku :
aku berhasil terus menjalankan bisnis Jilbab Orin :
a. menambah jumlah follower
b. menemukan produsen jilbab dan ciput berkualitas yang baik dan akrab
c. menemukan suplier lain di Surabaya yang juga kualitas bagus
d. mendapatkan pelanggan setia dari luar Jawa.
aku mendapatkan posisi yang cantik di hati beberapa ibu-ibu rumah tangga, dan mereka sampaikan padaku melalui pesan inbox di facebook
aku ikut dalam komunitas bisnis TDA; walau tak terlalu aktif dalam milis dan aneka seminar yang mereka adakan
aku ikut BAZAR di IAIN. Walau kaget dan capek luar biasa, ini pengalaman yang mencerahkan
aku bisa bertemu dengan mbak Hany Von Gillern. Dan profilku ditampilkan di blog beliau di Pojok Utak Atik, sebagai salah satu dari Orang-Orang Kreatif.
Di awal aku online, aku dikirimi pesan email oleh Ganiyu Rijal yang mengaku sebagai sutradara. Dia mengatakan, cerpen yang kukrim di milis Penulis Lepas, berjudul Oeekk!!! sangat bagus. Dan ingin dia jadikan film. Hanya saja ini belum terlaksana, katanya dia masih mencari sponsor. Dan aku pun merelease cerpen itu secara bebas kemana saja. Oleh temanku sekelas waktu kuliah, Amaliah Sholehah, dia mengatakan cerpen itu dipakai oleh adiknya pada yayasan yang menkampanyekan ASI. Ah, senang sekali. Bangga. Dan sekarang entah itu cerpen ada dimana. Aku harus rela jika suatu saat ada plagiatnya. Semoga tercatat di akhirat nanti. Amin.
Aku berteman, bersapa dan kadang curhat kepada para penulis tenar. Seperti Pipiet Senja, udo Yamin Majdi, Eni Martini, Shabrina Ws, dsb.
Aku berhasil mempelajari beberapa ketrampilan craft baru : wire jewelry, sulam perca, menjahit tas.
Aku mendapatkan penghasilan dari ketrampilan baruku itu, yaitu wire jewelry. Ini sangat membanggakan, karena aku mempelajari semuanya secara otodidak. Bahan dan lain sebagainya, aku mengandalkan facebook, internet dan buku.
Di akhir tahun, aku mengikuti pengajian di pondok modern Darul Muttaqien, di dekat rumah. Dan disini aku sangat bahagia, sesuai dengan keinginanku dari dulu untuk belajar di pondok.
dengan kalimat singkat. 2011 adalah petualangan yang paling mendebarkan untukku dalam rangka pencarian kembali Citra Diri dan Jati Diriku yang sebenarnya. Dan sudah kutemukan di awal tahun 2012 ini. Tinggal nambah istikomah dan syukurnya lagi.
Seutas Benang dan Jarum Jahit
Sudah lama sekali, kira-kira sembilan atau sepuluh tahun yang lalu, aku mendengar cerita ini. Ada seorang penjahit sukses, yang kemudian karena sesuatu hal jadi bangkrut. Keluarganya berantakan. Lalu merantaulah dia dan anaknya ke Jakarta. Disana dia tidak punya dana sepeserpun kecuali untuk mengontrak satu kamar. Dia ingin mencari pekerjaan, tapi tidak punya kemampuan kantoran. Yang dia kuasai cuma satu, yaitu menjahit. Tetapi dia tidak punya apa-apa. Mesin jahit dia pinjam dari si pemilik rumah.
Yang hebat, beliau mencari jalan keluar. Jadi mendatangi rumah-rumah warga di sekitar rumah kontrakannya. Dia tawarkan jasa menjahit. Tapi dia pinjam uang dulu untuk beli jarum dan benang. Sementara kain sudah diberikan oleh calon konsumennya.
Dengan sepenuh hati, beliau kerjakan baju pesanan tetangganya itu. Dan jadilah. Tetangganya puas. Dari mulut ke mulut, berkembanglah usaha menjahitnya.
Pernah suatu saat beliau disuruh menjahit baju pengantin yang panjangnya bermeter-meter. Beliau tidak tahu caranya. Belum pernah les menjahit baju pengantin Eropa. Tetapi tidak putus asa. Beliau membeli majalah bergambar pengantin Eropa, lalu mondar-mandir ke toko baju pengantin Eropa untuk mengamati bajunya. Dan kemudian menjahit sendiri baju itu dengan sangat hati-hati.
Dengan sungguh-sungguh walau sempat tidak tidur, dia menyelesaikan satu demi satu pesanan jahitan. Dan sampailah akhirnya dia dikenal ahli menjahit baju pengantin yang cantik. Kalau saya tidak salah ingat, profil ini saya lihat di televisi. Profil pengusaha wanita sukses. Jadi dari nol, sampai bisa eksis di media tivi, itu adalah sosok wanita yang tangguh menjalani kehidupannya.
Dari situ, aku mulai termotivasi tak henti-henti. Agar tidak surut langkah hanya karena tidak punya uang untuk modal. Tidak punya modem bagus untuk online. Bahkan tidak punya kamera digital untuk memotret produk, ketika kuputuskan menjalankan usaha menjual jilbab secara online.
Adakalanya kenekadanku tidak didukung oleh orang lain. Bahkan orang terdekat kita sekalipun. Tetapi punya kekerasan hati pun bisa menjadi bahan bakar yang luar biasa. Maksudnya keras hati adalah, ketika orang berpikir mustahil kita sukses, maka kita keraskan hati kita, dan kita pantulkan kalimat itu kepada mereka kembali. Sehingga gaungnya kepada kita bisa berubah suara,”aku bisa sukses, walau tanpa bantuanmu sekalipun. Karena dibantu oleh YANG MAHA KUASA, itu lebih penting”.
Bersikeras untuk terus menjalani dengan semua keterbatasan dan hambatan, tentu tidak mudah. Ada airmata, ada keringat yang jatuh tak putus-putusnya. Ada pengorbanan. Bahkan mungkin mengorbankan keadaan nyaman untuk anak kita, sewaktu kita bersusah payah merintis usaha mulai dari nol.
Saya menuliskan hal ini, agar menjadi motivasi yang terhunjam di setiap hati para ibu. Yang galau, gelisah, dan panik karena tidak punya modal atau barang yang bisa mendukung keinginannya.
Ingatlah seutas benang dan jarum jahit itu. Beliau meminjam uang dari calon konsumennya, dan itu dipercaya. Kenapa? \
karena si peminjam percaya pada kemampuannya, pada ketrampilannya, pada life skill yang sudah dia miliki dan dia asah sebelumnya. Juga kegigihan yang pasti bisa meyakinkan calon pembeli.
Maksud saya, konsentrasilah penuh pada cara untuk menambah atau mengasah ketrampilan kita, kemampuan kita. Dalam berapa saja. Menjahit, meronce, melukis, menulis, memasak, dsb. Tinggalkan jauh perasaan, aku tidak suka menjahit, tidak cocok melukis, dsb.
Ingatlah artis Pepeng yang terbaring sakit, tapi bisa menjadi dosen, menulis buku dan menjadi web designer.
Menjadi web designer lho, padahal waktu sehat, dia tidak bisa membuat desain web apapun. Tentu dia belajar web design ketika sudah sakit kan?
Kata Pepeng, jadilah seperti anak kecil. Yang selalu ingin tahu. Ingin tahu. Ingin tahu. Maka anda akan panjang umur.
Betul kiranya,
saya yang berlatar belakang ilmu sains, semula tak begitu suka dengan dunia crat, menjahit, dsb. Tetapi saya selalu dianugerahi rasa penasaran yang luar biasa besar. Ketika orang bisa membuat kalung, hati saya akan gelisah, bagaimana ya caranya. Bahannya apa. Alatany apa. Bukunya apa. Begitu terus. Dan tidak akan berhenti, sampai aku bisa membuatnya. \
begitu juga ketika membuat kreasi flanel. Cara menjahit tusuk feston, kukupelajari dari ibu, yang seorang penjahit. Sementara di waktu SMA aku benci sekali jika disuruh ibu menjahit. Bahkan menjahit kancing pun aku benci dan tidak sabar.
Tetapi karena penasaran, aku lansung praktek. Bahkan lapar, tidak sarapan, tidak kuhiraukan. Baru setelah sebuah boneka tangan berbentuk gajah kecil jadi, barulah aku bisa makan dengan tenang.
Jadi jangan batasi diri, apa suka ini atau itu.
Selalulah ingin tahu dan ingin bisa. Maka tanpa sadar ketrampilan kita bertambah, bertambah dan makin bertambah. \\dan percayalah, ilmu apapun entah itu ilmu kimia, membuat gelang atau bahkan membuat tahu, tidak akan sia-sia, jika kita praktekkan. Entah untuk diri sendiri. Atau untuk kita amalkan , kita ajarkan kepada orang lain.
just believe on yourself
31 Desember 2011. 10:47 WIB. Indonesia
Yang hidupnya mengikuti arus air cuman DEAD FISH.
Jadi, sejak detik ini, saya memproklamirkan diri.
I'm Not a Dead Fish at all.
Saya akan :
membuat rencana
berdoa
melakukan rencana
berdoa
mengevaluasi
berdoa
memperbaiki rencana
berdoa
membuat rencana baru
berdoa
berdoa
dan
berdoa
Happy New Year 2012
Belajar Dari Ibu Kembar
Sri Irianingsih (Rian) dan Sri Rossiati (Rossi). Wanita yang akrab disapa Ibu Kembar ini menggawangi sekolah darurat 'Kartini', khusus bagi anak-anak putus sekolah yang hidup di kolong tol.
Belajar dari Ibu Kembar
Kemarin kulihat kembali profil ibu kembar dan anak didiknya di TV. Sebelumnya kubaca profil beliau di sebuah majalah jadul. Majalah Kartini edisi tahun 90-an. Dan sekarang, kisah kesuksesan dan kedermawanan mereka sering tampil di televisi atau media informasi lainnya.
Ibu kembar adalah sepasang ibu bersaudara, kembar, dan sama-sama cantik, plus sama-sama aktif dalam kegiatan sosial pendidikan. Mereka mendirikan sekolah dan kursus gratis untuk anak-anak dan ibu-ibu yang tidak mampu. Supaya anak-anak bisa mendapat pendidikan dan wawasan. Dan supaya para ibu mendapat ketrampilan untuk menambah penghasilan keluarga.
Yang kemarin membuatku heran. Bagaimana mungkin semua hal bisa diajarkan oleh beliau sendiri? Seperti yang tampak di tivi.
Dan ketika kemarin aku ke rumah ibu, aku kembali mengambil majalah, secara tak sengaja saja. Asal ambil saja. Dan ketika sudah kubaca, profil ibu kembar ada di situ. Dan membaca kisah hidupnya membuatku mengerti. Jadi begini ceritanya,
ibu kembar ini adalah anak yatim sejak kecil. Artinya ibu mereka adalah single mother. Single parents, yang harus bekerja sebagai ayah, dan mendidik sebagai ibu. Nah agar para anak kembar ini bisa mandiri, mereka diharuskan belajar banyak ketrampilan. Ibunya sendiri yang mengajar. Mereka belajar menjahit, merias, dll. Bahkan ketika mereka SMA, mereka sudah menjadi guru bagi ibu-ibu PKK. Dan ketika mendapatkan honor mengajar, honor itu disimpan untuk biaya kursus ketrampilan yang lainnya.
Salah satu ibu kembar, ingin menjadi guru. Sehingga kuliah di IKIP. Tetapi belum selesai kuliahnya, beliau sakit dan harus opname. Nah, ketika di rumah sakit inilah, beliau bertemu dengan dokter yang akhirnya menjadi suaminya. Karena suaminya adalah dokter bedah, yang pasti jarang berada di rumah, maka beliau melepaskan usaha salon riasnya dan kuliahnya untuk menjadi ibu rumah tangga yang tinggal di rumah. Ibu rumah tangga full time. Demi mendidik anak-anak.
Karena setelah anak sekolah, suami kerja, beliau merasa nganggur dan hampa. Akhirnya atas ijin suaminya, beliau membuka kursus salon gratis. Di lokasi dekat rumah sakit tempat suaminya berpraktek dokter. Kursus itu ramai, dan bahkan beberapa alumninya bisa mandiri dan membuka salon sendiri. Tetapi beberapa kali pula, beliau harus menutup kursus itu karena harus mengikuti suaminya pindah tugas.
Sampai suatu ketika, anak-anak beliau sudah pada besar dan kuliah. Akhirnya bersama saudara kembarnya beliau menggagas kegiatan sosial untuk mengentaskan kemiskinan dari pendidikan dan ketrampilan. Bermula dari pemukiman rumah kardus dibawah kolong jembatan. Mereka mengajarkan rias pengantin, dll. Bahkan selain mengajarkan anak-anak baca tulis,seminggu sekali beliau membawakan makanan bergizi, berupa susu , roti atau kacang hijau.
Sungguh cerita ini membuatku terperangah juga. Kupikir mereka berdua berasal dari keluarga kaya, yang iba kepada penderitaan si miskin. Ternyata mereka pun berasal dari kondisi yang sulit. Yang harus mandiri karena tiadanya figur bapak. Dan kebiasaan untuk mandiri : bekerja, bekerja dan bekerja itu malah tidak membuat mereka merasa, di masa tua, adalah masa untuk menikmati kesusahan bekerja di masa muda. Tetapi malah mereka ingin tetap berlelah-lelah ikut memotivasi dan mengentaskan kemiskinan melalu ketrampilan dan kemampuan yang mereka punya.
Membaca ini membuatku juga malu. Baru umur kepala tiga saja, aku sudah merasa di masa sekolah lalu aku sudah bekerja belajar dan berusaha begitu kerasnya. Dan ingin sekarang, mulai berleha-leha, beristirahat sebentar. Ingin bersenang-senang, melakukan semua hal yang dulu tidak bisa kulakukan karena tidak ada biaya, atau tidak ada waktu.
Masih umur kepala tiga. Sedangkan ibu kembar bersosial ketika berumur 50 tahun!
Malunya, malu aku.
Mulai sekaranglah, semua konsep lelah dan manja itu harus kuhapus benar-benar di kepalaku. Masih ada tugas demi tugas yang harus kuselesaikan. Ya untuk anak-anakku, ya untuk keinginanku berbagi ketrampilan yang kudapatkan karena aku memilih menjadi ibu rumah tangga full time itu.
Terima kasih ibu kembar. Mungkin aku punya beberapa keterbatasan. Tetapi aku yakin, setitik kemampuanku bisa jadi manfaat di tengah lautan.
aku pun teringat sebuah tulisanku setahun yang lalu, Pelangi Cita-Citaku. Di situ tertulis ada sebuah rumah belajar dan kreasi untuk ibu-ibu yang ingin kubuat, yaitu KARTINI EDUCARE.
yang tidak disangka, namanya mirip dengan sekolah dan kursus gratis yang digagas oleh ibu kembar, yaitu SEKOLAH DARURAT KARTINI,
sekarang belum bisa kulakoni. kalau ditilik posisiku, masih ada excuse, karena anakku masih kecil-kecil, sementara ibu kembar mulai berkiprah ketika anaknya sudah besar, sudah kuliah. Saat ini, kubuat diriku selalu ingin tahu, ingin tahu dan ingin bisa. entah itu ketrampilan tangan ataupun kemampuan di dunia digital. Bismillah, Biidznillah, Kartini Educare ini akan tercapai. Sebuah tempat belajar khusus kaum ibu, kaum putri, kaumku. Amin.
@ Pengajian Keliling : SALTUM

Bersama Aji, anak lelakiku 5 tahun, aku mengikuti acara pengajian keliling di rumah ibu Susannah, di daerah Kuwukan, Surabaya Barat.
Memalukan sebenarnya. Aku saltum. Harusnya disana pakai baju putih-putih semua. Lupa. karena lupa jadinya aku pakai baju warna biru, yang biasanya diseragamkan untuk hari Rabu dan Kamis.
Baru dua minggu lebih aku ikut pengajian ibu-ibu, rutin setiap hari, di sebuah pondok pesantren terbuka modern di dekat rumahku. Dan dekat sekolahan anak sulungku. Jaraknya hanya 2 km.
Dan hari ini, aku lupa sama sekali kalau ada acara pengajian keliling di rumah seorang santri ibu-ibu. Karena ketika menerima undangannya, aku sudah berencana tidak ikut. Jadwalnya mepet dengan waktu anakku sekolah, dan aku takut tidak bisa on time menjemput anakku. Ternyata hari ini, si Aji libur, karena gurunya sedang mengikuti lomba. Entah lomba apa.
Akibatnya, ketika sampai di pondok DM, aku terbengong heran. Sudah jam 8 pagi lebih, kok masih sepi. Beberapa menit kemudian, suara ustadzah E memanggilku, "ikut ke pengajian keliling bu? ayo bareng saya."
"Ha?? pengajian keliling?"
astaghfirullah, tepok jidat deh, "saya lupa bu. iya saya ikut"
sebelumnya aku berbisik kepada Aji, mau nggak ikut ke rumah teman mama, dan ngaji disana.
Berangkat kesana, deg-degan juga. Secara kostum saya santai pisan. Kaos katun, jilbab kaos, celana item, sandal jepit. Secara saya pikir nanti cuman pengajian rutin saja, berbaris mencatat tafsiran hadits dari pak ustadz. Jadi gemuruh dalam hati, aduh mak, lain kali, walau santai, rutin, mending pakai baju rada resmian dikit deh. Biar ruwet ngajak anak kecil, gpp daripada saltum gini. Siapa tahu nanti diajak takziah atau kemana gitu, kayak kemarin.
Oke selesailah urusan kostum
Singkatnya, di acara itu, anakku Aji berbisik, "mama. semuanya pakai baju putih kok mama nggak?"
dengan menebalkan muka dan minta maaf kesana sini, kutajamkan niat dalam hati, yang penting ngajinya, yang penting ngajinya. dan aku berusaha konsentrasi pada semua isi acara.
qona'ah versus life skill
Di status teman,beliau menjabarkan,jika seorang istri total fokus ngurus anak_keluarga pun,dan tak mencari uang,bukan berarti keliru,karena TAKWA menjadi pegangan.bahwa nafkah adalah urusan suami,dan istri bergantung pada ALLOH SWT bukan suami.
Ini akan manis,jika dalam hari ke hari,istri menambah life skill-nya,agar bisa siap menjadi sosok mandiri jika kelak dibutuhkan atau ada kesempatan. Istri mencari uang,tentu tak keliru juga,asal syariat kuat.
Golden Momen
No Mind
Mau Rezeki Lebih Baik : Jodoh, Peluang Menulis, dll? Sstt, Coba Hafalkan Quran!
Ibu dengan 7 anak yang menghafal Quran, rezeki tak disangka!
Aku, kita semua tahu mulianya para penghafal Quran. Tapi, motivasi untuk kesana sangatlah minim. Bertahun-tahun silam, waktu kami masih di Tegal, datang seorang ummahat bercerita (bahkan aku lupa namanya!). Sebut saja bu Annisa.
Bu Annisa seorang ibu, usianya saat itu lebih dari 40 tahun, berputra 7 , dengan suami yang sangat ngepas penghasilannya (kalau tidak bisa dibilang kurang alias miskin). Bu Annisa lemah fisiknya, merasa tidak berotak cerdas. Ia seringkali kelelahan dengan setumpuk pekerjaan rumah tangga dan kehidupan keluarga yang sepertinya mentok hanya disitu. Ya, mau apalagi? Menghidupi 7 anak bukan perkara mudah, padahal mereka yakin akan hadits Rasulullah Saw yang membanggakan ummat muslim yang banyak.
Bu Annisa mengagumi ustadzahnya yang dalam pandangan beliau ,”....luarbiasa sabar. Aku ingin seperti ustadzahku, supaya lebih sabar menghadapi kehidupanku yang seperti ini.”
Bu Annisa bertanya pada sang ustadzah, apa ya kira-kira kunci bagi perempuan supaya bisa lebih bersabar menghadapi sekian banyak ujian hidup?
”Cobalah menghafal Quran,” saran sang ustadzah.
Dengan tekad baja, di usia di atas 40 yang konon kabarnya semua fungsi tubuh mulai mengalami penurunan, bu Annisa menghafal Quran. Tujuannya saat itu hanya satu : ia bisa bersabar dengan tubuh yang lemah dan sakit-sakitan dalam membesarkan anak dan suami golongan elit alias ekonomi sulit.
Selang beberapa waktu, bu Annisa merasakan tubuhnya berangsur semakin bugar. Ia merasa otaknya lebih mampu berpikir jernih dalam memandang persoalan, tidak kusut dan ruwet seperti dulu.
Dan, suatu hari sang suami datang dengan hadiah,
”........Mi, Alhamdulillah aku dapat rezeki! Aku bisa beli mobil buat Ummi mengantarkan anak-anak sekolah!”
2. Gadis yang dipinang beberapa lelaki
Pada usia berapa seorang gadis mulai cemas untuk menikah?
25, 27, 29 atau 30? 32, 35?
Sebut saja namanya Dini, sama seperti muslimah lain yang mengkhawatirkan belum adanya seorang lelaki sholih meminang. Banyak lelaki sholih, tetapi merekapun punya standar tinggi : putih, langsing, cantik, mapan. Lho?
Orang seperti Dini yang biasa-biasa saja, dengan postur layaknya perempuan Indonesia : berkulit coklat, berwajah manis dengan hidung tak terlalu mancung, orangtua sederhana – mungkin dianggap (maaf) tak gampang laku . Gadis seperti Dini yang masih harus berjuang memapankan dirinya mungkin tak terlalu dilirik lelaki.
Dini akhirnya memilih berpikir positif.
“Daripada berpikir tentang jodoh yang masih misterius, mending meningkatkan kualitas diri.”
Dini menyibukkan dengan berdakwah, menambah ilmu pengetahuan...dan menghafal Quran. Konon, kalau sudah menikah (entah usia berapa) dan punya anak (entah usia berapa); akan lebih sulit lagi menghafal Quran padahal hafalan Quran penting sekali dalam mendidik anak-anak.
Nothing to loose.
Happy Dini menghafalkan Quran, dan ia merasakan suatu ketenangan.
Suatu saat, datang tawaran tak terduga. Ternyata di dunia ini masih banyak lelaki sholih yang memimpikan posisi pemimpin barisan pemuda mulia seperti Saad bin Abi Waqqah, Usamah bin Zaid, Imaad Aql atau Yahya Ayyasy.
Para pemuda ini mengajukan diri kepada ustadz, dan syarat mereka satu : mencari akhwat yang hafalan Qurannya lebih banyak dari mereka! Kenapa?
“Untuk menjaga diri,” begitu jawaban mereka rata-rata.
Para pemuda ini rupanya punya posisi ekonomi mapan sehingga mereka takut, jika wajah cantik tapi tak mampu melindungi diin bagaimana? Lebih baik mencari yang berkepribadian kuat! Pilihan mereka simple : gadis penghafal Quran!
Dini memang belum hafal 30 juz tetapi simak perkataannya,
“ betapa rizqi menghafal Quran datang sendiri. Ketika orang sibuk mencari jodoh, saya bahkan pasrah dan memilih meninggalkan kecemasan dengan menghafal. Alhamdulillah......justru rizqi berdatangan, saya memilih satu yang terbaik.”
3. Perempuan yang selamat dari api
Suatu saat, di sebuah distrik di Mesir mengalami kebakaran besar.
Lokasi dan tahunnya, saya lupa. Sebut saja ia bernama Hanna, seorang ibu. Kebakaran itu melalap habis rumah-rumah, menyisakan puing-puing dan mayat. Tentu saja, kebakaran itu terjadi saat orang tertidur nyenyak!
Di sebuah keluarga, seorang perempuan menangis terisak.
Suami dan anak-anaknya meninggal dalam kejadian tragis tersebut.
Tentu saja, Hanna , istri dan ibu itu bukan main pilu. Ditinggalkan sebatang kara di dunia, seluruh orang yang dikasihinya meninggal hanya satu malam. Harta bendanya ludes tak tersisia. Warga pun berduka melihat kecelakaan tragis tersebut yang sumbernya masih belum jelas diketahui apakah akibat listrik, gas atau kelalaian lain.
Seorang ustadz setempat menghibur Hanna. Sebelum menghibur Hanna, ia sempat mendengar kabar bahwa Hanna adalah seorang penghafal Quran (di Mesir penghafal Quran memang cukup banyak). Lemah lembut, sang ustadz menghampiri Hanna,
”....Nyonya, bergembiralah. Doakan saja suami dan putramu. Tahukah kau apa kabar gembira dari semua peristiwa ini?”
Hanna menangis dan menggeleng.
Kabar gembira apa yang mampu didengarnya di tengah selimut duka dan kepapaan hampa seperti ini?
”Lihatlah! Kau penghafal Quran dan selamat! Tidakkah kau lihat, api di dunia saja takut menjilat tubuhmu yang mulia, apalagi api Robb mu di neraka kelak?”
4. Kisah unik Existere dan Sakura
Aku tidak ingin sombong.
Sungguh!
Tapi aku ingin berbagi cerita dan memantapkan hatiku, juga hati kawan-kawanku.
Suatu saat, mb Dee –CEO LPPH- meng sms
”Goodnews Mbak, Existere dibeli oleh Pelangi Books Malaysia.”
Alhamdulillah, Subhanallah...
Senangnya hatikuuu!
Existere tak se booming Lafaz Cinta, The Road to The Empire, Reinkarnasi. Tetapi Alhamdulillah wa syukurillah, dilirik oleh penerbit Malaysia. Senin kemarin lusa, surat perjanjiannya kuterima.
”Malaysia tidak melihat best seller atau tidak. Mana yang cocok, mereka terbitkan.”
Hmmm.
Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Tapi sebagai manusia, aku selalu mencari hukum sebab akibat. Kalau aku salah, nanti hukumannya apa ya? Kalau aku berbuat baik, nanti balasannya apa ya? Ah, ya sudah...berbuat baik saja laaah sebanyak-banyaknya. Nanti pasti Allah SWT akan membalas.
Aku mencoba berbuat baik semampuku, menambah sedikit amalan-amalan yang mungkin akan menjadi pemberat timbangan di yaumil akhir kelak. Mengisi pengajian, bersodaqoh, mengajar menulis dsb. Tetapi dari mana aku yakin dan tahu bahwa salah satu rezeki sebagai penulis adalah dari menghafal Quran?
Awalnya, sebagai manusia, sempat ada perasaan begini,”....Alhamdulillah, akhirnya setelah sekian lama bukuku terbit, rupanya yang ke 40 lebih ini yang dilirik Malaysia. Wajar kan?”
Begitu perkiraanku.
Wajar sudah lebih dari 40 buku.
Wajar kalau kemudian dilirik dan diterbitkan.
Wajar lah sebagai penghargaan!
Tapi tunggu dulu.....! Benarkah betul-betul hanya upaya manusia yang menghantarkan Existere sampai ke Malaysia? Betulkah kehebatanku yang menghantarkan semua rezeki ini?
Sebuah berita semakin memantapkan diriku, dan membuatku menjadi orang kecil yang terhempas...bahwa aku bukanlah penulis hebat! Jauuuh, jauuh di atas kehebatan kita masih ada yang bertakhta, Yang Maha Mengatur Segala Urusan.
Bukan! Bukan karena buku ke 40 sekian itu yang menyebabkan Existere diterbitkan Malaysia.
Bukan! Bukan karena aku sering mengisi acara kesana kemari lantas buku itu diterbitkan.
Bukan! Bukan karena mb Dee pilih kasih lantas Existere dibawa-bawa ke Malaysia.
Sebuah berita mencengangkan datang berikutnya, dari Ganjar Widhiyoga yang memberitahukan,:
” Mbak Sinta...novel Nova Ayu Maulita, ”Sakura” juga diterbitkan dalam bahasa Malaysia lho..”
Aku tercengang.
Beristighfar atas semua kelalaianku telah merasa lebih baik.
Bersyukur bahwa aku mendapatkan jawaban atas semua ini
Tahukah kalian mengapa novel Sakura terpilih mewakili novel-novel lain untuk diterbitkan di Malaysia? Diterbitkan Malaysia, berarti mulai go international dengan harapan mendapatkan nama lebih luas dikalangan pembaca dan royalti lebih banyak, insyaAllah...(kesempatan untuk bersodaqoh lebih banyak insyaAllah..)
Padahal Sakura adalah karya pertama Nova Ayu.
Padahal Sakura bolak balik di revisi.
Padahal Sakura adalah debut pertama.
Padahal nama Nova Ayu belum banyak terdengar.
Sakura, karya pertama Nova Ayu, yang belum pernah mengisi acara pelatihan kepenulisan dimana mana : terpilih diterbitkan penerbit Malaysia.
Sinta Yudisia, baru karya ke 45 nya yang dilirik penerbit Malaysia.
Nova Ayu, karya ke 1 nya menggebrak.
Apa yang membuat NovaAyu Maulita jauh lebih baik dari kita semua? (semoga ini bukan “memengaal kepalamu “ seperti kata Umar bin Khaththab ya, Ayu...)
Karena hafalan Quran Sinta Yudisa baru juz 30, 29, 28 ( 3 juz ini sudah banyak yang hilang) dan aku baru mengikuti kelas tahfiz sejak November dan baru menambah juz 1 al Baqarah (belum sepurna juga...hiks).
Dan karena Nova Ayu, gadis belia ini, telah menghafal 30 juz Al Quran (meski katanya masih harus banyak di ulang...)
Subhallah...
orang boleh berkata keberuntungan.
orang boleh berkata anomali.
orang boleh berkata hipotesa.
”Ya....keberuntungan aja, hoki, yang bisa menimpa siapa saja termasuk Existere dan Sakura. Bisa aja kesempatan itu jatuh pada penulis lain kan? Toh banyak juga yang gak menghafal Quran tapi tetap lolos kok...”
Oke, bolehlah keberuntungan dadu itu jatuh pada karyaku, Existere. Dari sekian puluh buku, masa gak ada yang dilirik sih? Bisa saja penerbit Malaysia hanya mendengar namaku dan bukan kualitas bukuku.
Tetapi bagaimana dengan Nova Ayu?
Apakah hanay keberuntungan dadu?
Bahwa nasib melempar panah ke udara lalu menghujam pada takdir seseorang?
Apa yang Nova Ayu raih, membuatku semakin hormat dan takdzim pada para penghafal Quran. Mereka yang tidak terlalu dilirik, mereka yang lebih memilih amalan-amalan utama dan terkenal di kalangan penduduk langit, suatu saat, jika Allah SWT menunjukkan kekuasaannya :.....zzzt! Dunia berbalik.
Aku demikian terharu ketika meng sms ustadzku yang menuntun kami menghafal Quran, kuceritakan bahwa Existere & Sakura berhasil menembus penerbit Malaysia dan kami sama-sama penulsi yang tengah berusaha mnghafalkan Quran.
”Bu Sinta....itu bonus kecil dari Allah SWT. Percayalah, masih banyak pemberian dahsyat dari Nya bagi para penghafal Quran.”
Penulis dan Penghafal Quran?
Siapa berani?
Jangan takut namamu belum terkenal.
Jangan takut bersaing.
Jangan takut karyamu tak diperhitungkan.
Asah terus kemampuanmu, terus beramal baik entah itu shodaqoh, sholat malam , Dhuha, berbakti pada orangtua. Kita memang tidak tahu kunci mana yang sesuai dengan takdir kita tetapi aku yakin, jika tulisan mereka yang hatinya hidup oleh dakwah, sholat malam, amalan-amalan sunnah dan amalan utama seperti menghafal Quran pasti akan berbeda.
Dan tunggulah!
Yakinlah!
Allah SWT menyiapkan hadiah kejutan, tak terduga, yang akan membuatmu tercengang dan malu karena selama ini sudah berburuk sangka padaNya. Berbusuk sangka bahwa Ia tak sayang padamu dan tak mendegar doa-doamu.
sumber : notenya mbak Sinta Yudisia :
http://www.facebook.com/notes/sinta-yudisia/mau-rezeki-lebih-baik-jodoh-peluang-menulis-sstt-coba-hafalkan-quran/10150257298022744
Tas-ku Tak Berat Lagi
Dalam perjalananku ke desa mertua. Bicara dengan mulut, mata dan hatiku pada semua hal yang kudengar,kulihat dan kurasakan.
Lalu ke rumah ibuku yang kosong,membaca sebuah majalah dan menemukan profil wanita tangguh yang hidupnya jauh jauh lebih sulit dariku; memulai dan terus menjalankan usaha yg sering defisit demi menolong sesama penyandang cacat : AH, hidupku jauh lebih mudah darinya, maka bebanku jadi ringan saja :-)
Resign
Fantastik ya?!
Dulu aku berdarah-darah ketika memilih jadi ibu RT,kini jadi jujukan sesama ibu yang ingin jadi ibu RT.
Subhanallah, mimpiku dikabulkan oleh ALLOH YANG MAHA PENYAYANG.
Mimpiku dulu,ingin nekad membuktikan bahwa jadi IRT is the best, alhamdulillah sekarang sudah diberikan jalan untuk menjalani dan menunjukkan bahwa ibu lebih baik di dan dari rumah saja.
Ilmu Gambaru dari MILIS : SUka banget Tulisan Ini !!!

Tulisan bagus yang ditulis oleh seorang mahasiswi yg tinggal Jepang:
>
> ------------ --------- ---------
>
> Say YES to GAMBARU!
>
> By Rouli Esther Pasaribu
>
> Terus terang aja, satu kata yang bener2 bikin muak jiwa raga setelah tiba di Jepang dua tahun lalu adalah : GAMBARU alias berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan. Muak abis, sumpah, karena tiap kali bimbingan sama prof, kata-kata penutup selalu : motto gambattekudasai (ayo berjuang lebih lagi), taihen dakedo, isshoni gambarimashoo (saya tau ini sulit, tapi ayo berjuang bersama-sama) , motto motto kenkyuu shitekudasai (ayo bikin penelitian lebih dan lebih lagi). Sampai gw rasanya pingin ngomong, apa ngga ada kosa kata lain selain GAMBARU? apaan kek gitu, yang penting bukan gambaru. Gambaru itu bukan hanya sekadar berjuang2 cemen gitu2 aja yang kalo males atau ada banyak rintangan, ya udahlah ya...berhenti aja.
>
> Menurut kamus bahasa jepang sih, gambaru itu artinya : "doko made mo nintai shite doryoku suru" (bertahan sampai kemana pun juga dan berusaha abis-abisan) Gambaru itu sendiri, terdiri dari dua karakter yaitu karakter "keras" dan "mengencangkan" . Jadi image yang bisa didapat dari paduan karakter ini adalah "mau sesusah apapun itu persoalan yang dihadapi, kita mesti keras dan terus mengencangkan diri sendiri, agar kita bisa menang atas persoalan itu" (maksudnya jangan manja, tapi anggap semua persoalan itu adalah sebuah kewajaran dalam hidup, namanya hidup emang pada dasarnya susah, jadi jangan ngarep gampang, persoalan hidup hanya bisa dihadapi dengan gambaru, titik.).
>
> Terus terang aja, dua tahun gw di jepang, dua tahun juga gw ngga ngerti, kenapa orang2 jepang ini menjadikan gambaru sebagai falsafah hidupnya. Bahkan anak umur 3 tahun kayak Joanna pun udah disuruh gambaru di sekolahnya, kayak pake baju di musim dingin mesti yang tipis2 biar ngga manja terhadap cuaca dingin, di dalam sekolah ngga boleh pakai kaos kaki karena kalo telapak kaki langsung kena lantai itu baik untuk kesehatan, sakit2 dikit cuma ingus meler2 atau demam 37 derajat mah ngga usah bolos sekolah, tetap dihimbau masuk dari pagi sampai sore, dengan alasan, anak akan kuat menghadapi penyakit jika ia melawan penyakitnya itu sendiri. Akibatnya, kalo naik sepeda di tanjakan sambil bonceng Joanna, dan gw ngos2an kecapean, otomatis Joanna ngomong : Mama, gambare! mama faitoooo! (mama ayo berjuang, mama ayo fight!). Pokoknya jangan manja sama masalah deh, gambaru sampe titik darah penghabisan it's a must!
>
>
>
> Gw bener2 baru mulai sedikit mengerti mengapa gambaru ini penting banget dalam hidup, adalah setelah terjadi tsunami dan gempa bumi dengan kekuatan 9.0 di jepang bagian timur. Gw tau, bencana alam di indonesia seperti tsunami di aceh, nias dan sekitarnya, gempa bumi di padang , letusan gunung merapi....juga bukanlah hal yang gampang untuk dihadapi. Tapi, tsunami dan gempa bumi di jepang kali ini, jauuuuuh lebih parah dari semuanya itu. Bahkan, ini adalah gempa bumi dan tsunami terparah dan terbesar di dunia. Wajaaaaaaar banget kalo kemudian pemerintah dan masyarakat jepang panik kebingungan karena bencana ini. Wajaaaaar banget kalo mereka kemudian mulai ngerasa galau, nangis2, ga tau mesti ngapain. Bahkan untuk skala bencana sebesar ini, rasanya bisa "dimaafkan" jika stasiun-stasiun TV memasang sedikit musik latar ala lagu-lagu ebiet dan membuat video klip tangisan anak negeri yang berisi wajah-wajah korban bencana yang penuh kepiluan dan tatapan kosong tak punya harapan. Bagaimana tidak, tsunami dan gempa bumi ini benar-benar menyapu habis seluruh kehidupan yang mereka miliki. Sangat wajar jika kemudian mereka tidak punya harapan. Tapi apa yang terjadi pasca bencana mengerikan ini? Dari hari pertama bencana, gw nyetel TV dan nungguin lagu-lagu ala ebiet diputar di stasiun TV. Nyari-nyari juga di mana rekening dompet bencana alam. Video klip tangisan anak negeri juga gw tunggu2in. Tiga unsur itu (lagu ala ebiet, rekening dompet bencana, video klip tangisan anak negeri), sama sekali ngga disiarkan di TV. Jadi yang ada apaan dong? Ini yang gw lihat di stasiun2 TV :
>
> 1. Peringatan pemerintah agar setiap warga tetap waspada
>
> 2. Himbauan pemerintah agar seluruh warga jepang bahu membahu menghadapi bencana (termasuk permintaan untuk menghemat listrik agar warga di wilayah tokyo dan tohoku ngga lama-lama terkena mati lampu)
>
> 3. Permintaan maaf dari pemerintah karena terpaksa harus melakukan pemadaman listrik terencana
>
> 4. Tips-tips menghadapi bencana alam
>
> 5. nomor telepon call centre bencana alam yang bisa dihubungi 24 jam
>
> 6. Pengiriman tim SAR dari setiap perfektur menuju daerah-daerah yang terkena bencana
>
> 7. Potret warga dan pemerintah yang bahu membahu menyelamatkan warga yang terkena bencana (sumpah sigap banget, nyawa di jepang benar-benar bernilai banget harganya)
>
> 8. Pengobaran semangat dari pemerintah yang dibawakan dengan gaya tenang dan tidak emosional : mari berjuang sama-sama menghadapi bencana, mari kita hadapi (government official pake kata norikoeru, yang kalo diterjemahkan secara harafiah : menaiki dan melewati) dengan sepenuh hati
>
> 9. Potret para warga yang terkena bencana, yang saling menyemangati :
>
> *ada yang nyari istrinya, belum ketemu2, mukanya udah galau banget, tapi tetap tenang dan ngga emosional, disemangati nenek2 yang ada di tempat pengungsian : gambatte sagasoo! kitto mitsukaru kara. Akiramenai de (ayo kita berjuang cari istri kamu. Pasti ketemu. Jangan menyerah)
>
>
>
> *Tulisan di twitter : ini gempa terbesar sepanjang sejarah. Karena itu, kita mesti memberikan usaha dan cinta terbesar untuk dapat melewati bencana ini; Gelap sekali di Sendai , lalu ada satu titik bintang terlihat terang. Itu bintang yang sangat indah. Warga Sendai, lihatlah ke atas.
>
>
>
> Sebagai orang Indonesia yang tidak pernah melihat cara penanganan bencana ala gambaru kayak gini, gw bener-bener merasa malu dan di saat yang bersamaan : kagum dan hormat banget sama warga dan pemerintah Jepang. Ini negeri yang luar biasa, negeri yang sumber daya alamnya terbatas banget, negeri yang alamnya keras, tapi bisa maju luar biasa dan punya mental sekuat baja, karena : falsafah gambaru-nya itu. Bisa dibilang, orang-orang jepang ini ngga punya apa-apa selain GAMBARU. Dan, gambaru udah lebih dari cukup untuk menghadapi segala persoalan dalam hidup. Bener banget, kita mesti berdoa, kita mesti pasrah sama Tuhan. Hanya, mental yang apa-apa "nyalahin" Tuhan, bilang2 ini semua kehendakNya, Tuhan marah pada umatNya, Tuhan marah melalui alam maka tanyalah pada rumput yang bergoyang... ..I guarantee you 100 percent, selama masih mental ini yang berdiam di dalam diri kita, sampai kiamat sekalipun, gw rasa bangsa kita ngga akan bisa maju. Kalau ditilik lebih jauh, "menyalahkan" Tuhan atas semua bencana dan persoalan hidup, sebenarnya adalah kata lain dari ngga berani bertanggungjawab terhadap hidup yang dianugerahkan Sang Pemilik Hidup. Jika diperjelas lagi, ngga berani bertanggungjawab itu maksudnya : lari dari masalah, ngga mau ngadepin masalah, main salah2an, ngga mau berjuang dan baru ketemu sedikit rintangan aja udah nangis manja.
>
>
>
> Kira-kira setahun yang lalu, ada sanak keluarga yang mempertanyakan, untuk apa gw menuntut ilmu di Jepang. Ngapain ke Jepang, ngga ada gunanya, kalo mau S2 atau S3 mah, ya di eropa atau amerika sekalian, kalo di Jepang mah nanggung. Begitulah kata beliau. Sempat terpikir juga akan perkataannya itu, iya ya, kalo mau go international ya mestinya ke amrik atau eropa sekalian, bukannya jepang ini. Toh sama-sama asia , negeri kecil pula dan kalo ga bisa bahasa jepang, ngga akan bisa survive di sini. Sampai sempat nyesal juga,kenapa gw ngedaleminnya sastra jepang dan bukan sastra inggris atau sastra barat lainnya. Tapi sekarang, gw bisa bilang dengan yakin sama sanak keluarga yang menyatakan ngga ada gunanya gw nuntut ilmu di jepang. Pernyataan beliau adalah salah sepenuhnya. Mental gambaru itu yang paling megang adalah jepang. Dan menjadikan mental gambaru sebagai way of life adalah lebih berharga daripada go international dan sejenisnya itu. Benar, sastra jepang, gender dan sejenisnya itu, bisa dipelajari di mana saja. Tapi, semangat juang dan mental untuk tetap berjuang abis-abisan biar udah ngga ada jalan, gw rasa, salah satu tempat yang ideal untuk memahami semua itu adalah di jepang. Dan gw bersyukur ada di sini, saat ini. Maka, mulai hari ini, jika gw mendengar kata gambaru, entah di kampus, di mall, di iklan-iklan TV, di supermarket, di sekolahnya joanna atau di mana pun itu, gw tidak akan lagi merasa muak jiwa raga.
>
>
>
> Sebaliknya, gw akan berucap dengan rendah hati : Indonesia jin no watashi ni gambaru no seishin to imi wo oshietekudasatte, kokoro kara kansha itashimasu. Nihon jin no minasan no yoo ni, gambaru seishin wo mi ni tsukeraremasu yoo ni, hibi gambatteikitai to omoimasu. (Saya ucapkan terima kasih dari dasar hati saya karena telah mengajarkan arti dan mental gambaru bagi saya, seorang Indonesia . Saya akan berjuang tiap hari, agar mental gambaru merasuk dalam diri saya, seperti kalian semuanya, orang-orang Jepang).
>
> Say YES to GAMBARU!
>
[tulisan diambil dari milis Kimia ITB 97]
[gambar diambil dari sini :http://repetisimonolog.files.wordpress.com/2010/10/gambatte-ne-1.jpg]
>
>
>
Bisnis Itu....
adalah kata yang paling sering diucapkan banyak orang akhir-akhir ini, apalagi oleh mereka yang sudah tidak betah bekerja di kantor orang.
Pengen jadi bos bagi diri sendiri,. gitu.
Bisnis itu...
adalah jalan yang kutekuni dengan tidak sengaja. modal nekad, tanpa punya sandaran dan pengalaman apa-apa, kecuali, jalani jalani dan jalani gitu aja.
Saat ini, aku sudah memulai bisnis jilbab online, hampir setahun. Impianku adalah kelak jika semua sudah stabil dan mapan, aku akan membuka rumahku sebagai tempat pelatihan untuk membuat aksesoris atau penghias jilbab. Seperti inilah tampaknya rumahku nanti. foto itu kuambil di blognya tobucil. http://tobucil.blogspot.com

Dari perkenalanku dengan Tobucil dan komunitas hobinya, aku jadi semakin tertarik mengembangkan produk kerajinan tangan.
Warna warninya. Keunikan dan kebebasan yang ada didalamnya, membuatku mendapat tempat untuk mengekspresikan diriku sendiri.
Tapi ternyata, semua ini perlu proses yang tidak instan. Entah untuk berlatih membuatnya, atau untuk memasarkannya, memberi haga jual dan sebagainya. Aku tak tahu harus bertanya kepada siapa. KEmarin mbak KEnti memberitahuku sebuah buku dari Handmade Nation. Yang setelah aku cari di google, belum ketemu juga penjual buku onlinenya.
Lalu aku mampir ke blognya mbak Dini Estha, yaitu, http://kreasitha.blogspot.com
mbak Estha ini baiikk sekali. Mau repot-repot membagi pengetahuannya tentang buku dan tutorial termasuk free ebook kepada kami [para crafter pemula]. Dan hasilnya ada sebuah buku yang sepertinya akan sangat membantuku. Inilah bukunya.

Dan buku ini masih aku hunting kesana kemari. Aku harus mecari toko buku online yang sekali jalan. Maksudnya, ketika aku beli buku ini harus ada buku anak-anak yang bisa kubeli pula. Karena kedua anak lelaki kecilku akan protes dan kecewa, ketika ada kurir mengirim paket buku dan ternyata tidak ada buku mereka di dalamnya. Sementara aku coba pesan ke toko buku online langganan kami. Semoga dia ada.
Berlanjut ke Bisnis.
Semula aku ingin menjadi murni produsen. Lalu ada kendala.
Kemudian aku ingin jadi tokoserbaada online. Dan kemudian ada kendala lagi. Aku harus memutar otak dan mengevaluasi, apa yang keliru dalam menjalankan usahaku ini. Dan aku tidak bisa bertukar pikiran dengan suamiku saja ternyata. Karena dia sama sekali awam masalah ini. Dan aku tidak bisa hanya mengamini komentar teman yang tak pernah berkecimpung pada dunia bisnis. Teman yang hanya melihat dari sisi praktisnya sebagai pembeli.
Lebih baik, aku bercerita kepada sesama pebisnis. dan Ynag lebih berhasil dariku. Sebenarnya kemarin kami punya masalah yang cukup pelik. Untunglah, baik aku maupun dia berhasil menguasai emosi kami dengan baik. Jadi ketika masalah itu berlalu, dan manajemen masing-masing semakin bagus, kami bisa mulai saling bekerjasama lagi. Dan masih saling mempercayai. Alhamdulillah. Hal ini cukup meringankan isi kepalaku.
Dan hasilnya, insya Allah aku akan menjadikan beliau sebagai tim usahaku yang baik. Dan semoga produk kami kali ini, mendapat tempat yang cantik di hati para muslimah ceria di seluruh persada. Moga-moga juga bisa ekspor nanti ya. Amin.

Pelajaran moral terpenting adalah :
DALAM BISNIS, SOPAN SANTUN, KEPALA DINGIN DAN PRASANGKA BAIK, sangat membantu dalam usaha memajukan usaha kita di masa depan.
Dan dari bisnis juga, yang kemarin kupikir hanya berkutat seputar uang saja, ternyata aku dapat banyak pengetahuan bersosialisasi dan hidup yang nyata dari sini. Belajar bisnis bisa juga belajar kehidupan.
Surat Dariku Untukku Sebagai seorang IBU
Kata diatas seperti mengisyaratkan kepasrahan yang mudah dilakukan.
Ternyata, sebelum mencapai proses itu, saya terutama, dan kita - mungkin jika apa yang anda rasakan sama dengan yang saya rasakan - mengalami kepahitan dulu sebelum bisa mencapai kata penerimaan.
Kepahitan itu berupa, perasaan mempersalahkan diri sendiri atas kekurangan diri kita sendiri pula.
Contoh,
saya gemar sekali mencari tahu blog atau website para pelaku homeschooling. terutama yang berasal dari Indonesia. Karena ketika mereka bercerita, kebanyakan dengan bahasa Indonesia, jadi saya lebih mudah mencernanya.
Nah, ketika berkunjung ke blog mereka itu. Atau ketika berkenalan di jejaring sosial, maka saya mengetahui sedikit banyak konsep dan cara hidup mereka.
Yang tampaknya begitu sempurna, cerdas, menyederhana dan kembali ke alam banget. Perfecto.
Terkadang, cara mereka menerapkan konsep belajar di rumah mereka, tampak begitu HEBAT. jadi saya ingin sekali menirunya. dan menerapkannya dalam keluarga saya. TEtapi, karena satu dan lain hal, termasuk kekurangan saya pribadi. kebiasaan keluarga saya. sifat dan karakter kedua anak lelaki saya. maka, peniruan itu biasanya tidak bisa berjalan dengan sempurna. atau tidak bisa berlaku saat itu juga. singkat kata, saya merasa gagal meniru mereka. gagal mendidik mereka sebaik sebagai ortu yang cerdas atau smart parent.
rasa gagal itu malah menjadi penyebab saya mudah sekali emosi, terutama kepada anak-anak saya. dengan batin saya yang mengatakan, "kenapa sih nak kamu tidak bisa seperti anak-anak mereka!, walaupun kalian sekolah, kan bisa saja secerdas mereka."
atau batinku berkata lainnya, :kenapa sih Hen kamu tidak bisa disipilin, kreatif, dan istikomah mengajari anak-anakmu di rumah?!, kan kamu lulusan sains, suka belajar, kata orang kamu pinter. Mosok gak bisa ngatur waktu dengan baik. lakukan pekerjaan rumah tangga ketika mereka sekolah dong. lalu nulis dan jualan ketika mereka tidur dong. dan dampingin mereka, stimulasi mereka, motivasi mereka tepat ketika mereka ada di dalam rumah....dst...dstt..."
panjang lebar sekali kalimat yang bisa kubentuk ketika memaki kekurangan diri sendiri.
kemudian, tepat hari ini, ketika sudah berhari-hari dan berbulan-bulan di dera rasa gagal. ada selintasan hatiku yang mengatakan bahwa,aku ingin menghapus segala jejak pertemanan dengan para ibu HS ini, supaya sekalian saja aku tidak tahu menahu apa yang mereka kerjakan. jadi aku tak perlu merasa bersalah.
tetapi, ada lintasan hati juga yang membisikkan, bahwa, kenapa aku harus begitu? bukankah mereka benar?
bukankah apa yang mereka lakukan baik untuk ditiru?
dan Hen..ketika kau tidak bisa menirunya sekarang, ya tetap saja mereka masih baik dan patut ditiru.
jadi biarlah informasi itu kau terima, dengan syarat, terimalah dirimu dan segala perbedaanmu itu juga apa adanya. bisa tidak bisa meniru, jelas-jelas kau berbeda dengan mereka. jadi tak perlu risau.
suatu saat, jika kau mulai menerima semuanya dengan lapang dada. dan mulai mengerjakannya sesuai karakter keluargamu sendiri dengan tetap terbuka terhadap masukan yang baik, maka insya Alloh lambat laun, kau akan menemukan bentuk yang paling menarik dan sesuai khusus untuk keluargamu sendiri.
dan pada masa proses itu, tetaplah berbagi dengan ceria. bercerita dengan apa adanya. dan tak usah merasa terbebani lagi ketika ada seorang ibu/kenalan baru yang mneyapamu di fb atau dimanapun berada, lalu seperti berkonsultasi atas kebaikan yang telah kau tuliskan. karena, nanti jika sudah mulai chattingan atau kirim inbox, katakan saja sejujurnya, apa yang kau tahu dan yang tidak. dan katakan juga, saya ibu yang belum sempurna. masih sering marah, membentak anak dsb, tetapi saya berani meminta maaf kepada anak dan mengatakan pada mereka, inilah kekurangan mama sebagai ibumu. mama mohon maaf.
dengan begitu, melangkahmu kini akan lebih ringan.
POMPA BALIK
Ketika usaha keras berbagai rupa, tidak mendapatkan penghargaan yang seharusnya kami terima sebagaimana mestinya.
Ketika rasa bersalah, bersalah dan sangat bersalah terus mendera dan mendera.
Ketika, kesulitan tak berani kami ungkapkan dan harus kami telan bulat-bulat, karena rasa bersalah itu tadilah yang tidak mengijinkan.
Aku, terutama, pernah masuk dalam lembah keputus-asa-an yang paling putus asa yang pernah kualami sendiri.
KEtika aku berharap, di kala pagi aku membuka mata, maka rohku akan berpindah tempat. Entah bagaimana caranya. Mungkin saja dengan tercabutnya rohku oleh sang malaikat maut. Atau dengan cara magic yang sangat tidak masuk akal. Terserah. Yang penting aku tak mengalami tekanan pada saat itu.
Namun, dalam semua keputus-asa-an itu, satu-satunya yang mencegahku berbuat bodoh adalah ANAK-KU. terutama ANAK PERTAMAKU.
Lalu bergulirlah waktu.
Dengan fase yang tak secepat kita merebus mie instan dan menghidangkannya.
Tetapi begitu panjang. BErgolak
Lama
Air mata masih ada
Amarah masih ada
Hanya satu yang terus menerus berusaha kutiadakan.
yaitu
KEINGINAN UNTUK MEMBALAS DENGAN KESAKITAN YANG SERUPA.
Semakin sakit hatiku, semakin aku tak ingin mereka mengalami hal yang sama.
Dan ternyata, niat itu, dibaca begitu mulia oleh ALLOH SWT.
ALLOH SWT, akhirnya memberi kami, kekuatan serupa POMPA BALIK.
Jadi, sekarang kami tak hanya mampu menelan kata-kata pahit.
Tetapi, kami bisa membalikkan kata-kata itu menjadi manis lalu memompakan energinya kedalam dada kami. Bahkan ke urat nadi kami.
Dan itu takkan berakhir, sampai kami bisa mengajarkannya kepada anak-anak kami. sejak saat ini.
INI CUMA DUNIA
TIDAK ADA YANG BISA ADIL
TIDAK ADA YANG BISA SEMPURNA
INI CUMA DUNIA
SEHARUSNYA BUKAN HANYA DUNIA YANG MEMPENGARUHI HIDUP KITA
BUKAN HANYA TENTANG DUNIA
DAN ITU PUN BISA DILAKONI DENGAN CARA YANG MENENTRAMKAN HATI
SEMOGA MEREKA YANG MEMBUAT KAMI TERLUKA, AKAN SELALU MENDAPAT TAMBAHAN KEBAHAGIAAN SEBAGAIMANAPUN BENTUK DAN RUPANYA
AMIN
My Hijab Journey
Kata ini terasa begitu...."mahal".
Terasa begituu....*SULIT*
Rasanya takkan mau menghampiri diriku ini, yang dari kemarin-marin, masih begini-begini saja.
Biasa-biasa saja :
sholat sekedarnya 5 waktu.
tak lanjut bergegas sholat tahajud ketika alarm berbunyi jam 3 dini hari
tak segera menghabiskan hutang puasa di bulan ramadhan
standar
gituuu saja.
Namun, hati kecil ini sering sekali merasa nggak puas dan memarahi diri sendiri.
karena aku ingin sebenarnya meningkatkan keimanan dalam bentuk apapun. Ya ibadahnya , ya menutup auratnya.
Aku ingin menjadi seperti sosok yang menawan di hatiku :
seperti istrinya AA Gym [Teh Ninih]- yang bagiku beliau adalah wanita yang lembut, tangguh, tahan banting sekaligus selalu maju ke depan, apapun yang terjadi. Aku terkesan ketika beliau menjadi mentor di acara Kajian Muslimah ITB, beberapa tahun yang lalu, ketika aku masih menjadi mahasiswi Kimia ITB.
Aku terkesan dengan bajunya, terus terang. Walaupun tutur kata, tatapan matanya yang teduh, suaranya yang pelan - yakin dan teratur, sungguh juga mengagumkan. Tapi aku masih sangat terkesan pada cara beliau berpakaian. Gamis panjang lebar berlapis, dengan kerudung khas Daarut Tauhid berwarna senada. Manis dan anggun sekali tampaknya. Ingin sekali aku berpakaian seperti itu, feel so free, gitu deh rasanya.
Maka ketika masih kuliah itu pun, aku mencoba-coba dan meniru-niru. Pertama aku coba beli jilbabnya di daerah Dipati Ukur, kalau tidak salah. Di gerai Rabbani - saat itu belum sebesar ini merk Rabbani. Itu sekitar tahun 1999. Wow, 11 tahun yang lalu ya...!!! nggak kerasa.
Aku memakai Jilbab Teh Ninih. Ukurannya gede banget. Sebenarnya nggak cocok dengan gaya berpakaianku yang bercelana panjang. Maka aku memakai rok panjang yang dibuatkan kakakku dari Surabaya.
UUhh...rasanya ribet banget deh. Maklum saja, sejak kecil aku sudah dibiasakan oleh ibu untuk memakai celana panjang. Begitu juga dengan keempat saudara perempuanku lainnya. Alasan ibu waktu itu, karena biar aman. Maklum saja kami tinggal di kota besar, di Surabaya. Notabene banyak kejahatan yang bisa terjadi pada anak perempuan, jika kita tak ekstra waspada menjaga diri.
Nah kebiasaan itu terus terlaksana sampai sekarang. Sampai dua anak lelakiku sudah berumur 8 dan 4 tahun. Aku masih setia bercelana panjang kemana-mana. Jilbab juga makin pendek karena milih praktisnya. Kadang juga repot kudu berjilbab, main meluncur saja ke warung atau toko tetangga untuk membeli krupuk.
Dan..berjalannya waktu...
Kenangan atau bisa disebut sosok seorang Teh NInih ini masih terpancang kuat di mata batinku. Betapa tenang rasanya beliau. Sering aku berangan, kapan ya bisa seperti beliau? dalam hal berpakaian. Entahlah, pakaian ini yang masih saja menjadi PR besar buatku,
Pernah, suatu hari aku bercakap dengan temanku Nora, ketika sama-sama aktif di masjid Salman ITB. Nora ini mahasiswi UNPAD. Gaya berpakaiannya persis Teh Ninih. Dia pun kulihat mempunyai ketenangan air muka yang sama,
aku curahkan isi hatiku pada Nora ini, aku katakan "ingin sekali bisa berpakaian seperti kamu Nora. Rasanya aman dan damai banget deh"
Dan malah dia menjawab dengan kalimat yang diluar dugaanku.
"Hen, harusnya bukan baju yang jadi prioritasmu. Perbaiki dulu ibadahmu dan rasamu kepada Allah SWT"
Aku tercengang beberapa saat, dan itu berlanjut sampai sekarang.
Aku pun melepaskan diri dari angan-angan untuk bergamis dan berjilbab lebar. Aku pun semakin mensahkan diri sebagai perempuan tomboy. Terlebih anakku laki-laki semua , klop deh. Semakin orang mengomentariku, "gagah, kayak cowok, tomboy" hatiku semakin senang.
Pun ketika aku mulai membuka usaha Jilbab. Itu aneh sebenarnya. Karena aku tak peduli dengan berdandan. Bergonta=ganti jilbab, baju, dll, cuek deh. Jaket, kaos oblong, jilbab pendek, celana jins, itu saja seharianku.
Lalu ada beberapa hal yang menelisik hatiku sedikit demi sedikit.
Ketika aku lewat di depan kaca jendela sekolah atau rumah orang dan melihat siluet badanku, aku merasa.."ih, kok kelihatan banget gitu ya...lekuk tubuhku..."
ada rasa malu menyergapku diam-diam. Dan ketika ini kuutarakan kepada suamiku, dia hanya tersenyum.
Semakin hari semakin waktu...
rasa malu itu semakin bertambah besar. Apalagi ketika mendengar komentar anak sulungku, ketika aku berpakaian sedikit pas di rumah, dia sudah protes, "mama kok bajunya malu se?"
Dan...
Hidayah itu pun datang. Terutama ketika aku semakin yakin, bahwa perintah dari TUHAN itu hanya untuk kebaikan MAKHLUK=NYA semata. PAsti.
Sekarang...
Tanpa disuruh siapapun..
Tanpa dipelototin suamiku...karena dia lebih suka aku sadar karena kemauanku sendiri. ...
Semakin hari, aku semakin membenahi busanaku...
Baju, kaos, jilbab yang pendek dan rada ngepas, sudah aku wariskan ke adik iparku.
Kuganti dengan yang ukuran lebih panjang.
Dan itu sekarang kupakai dengan nyaman saja. Tidak merasa ribet sama sekali. Pun ketika di rumah aku sering memakai rok dan gamis. Subhanallah, inikah namanya hidayah itu?
Aku senang dengan perubahan diriku sendiri. Terutama ketika aku ingin sekali agar anak-anakku bisa punya keimanan dan kebiasaaan ibadaha yang lebih baik dariku. Maka aku sering merasa , kalau harus lebih dulu membenahi diri. Apapun itu. Ya sholat, ya bicara, ya semuanya. Aku semakin haus ilmu. Aku semakin ingin menerapkan ini itu. dan Hidayah itu datang
Aku pun sekarang berjilbab lebih baik daripada kemarin.
KEtika belanja, aku berjilbab. Ketika duduk-duduk di teras , aku usahakan berjilbab
Dan ketika berjilbab, aku sudah merasa biasa saja. Tidak merasa gerah dan segera melepas jilbab seperti sebelumnya.
Dan..
ketika kemarin aku sibuk memikirkan, apa komentar tetanggaku nanti ya?
kemarin aku sore-sore nyuapin anak, dengan berpakaian biasa, tanpa jilbab.
Trus aku berjilbab, jadi sok gimana-gimana jangan-jangan nanti aku dianggapnya?...
ternyata...
tidak ada satu pun reaksi negatif kepadaku...setidaknya yang kudengar.
Atau juga karena aku sudah tidak menghiraukannya lagi, karena aku sekarang lebih sibuk untuk membenahi diriku sendiri, agar semakin pantas menjadi teladan untuk anak-anakku.
Oh semoga, kelak anak mantuku bisa lebih baik dariku dari segi keimanan...
semoga kedua anak lelakiku mendapatkan istri yang shalihah dan baik kepadaku dan suamiku.
HARGA YANG HARUS DIBAYAR
pertama : sosok istri dosen yang menggendong sendiri anak bayinya. Kemudian, mahasiswa dan mahasiswi berbisik-bisik, "istrinya itu lulusan s2 lho, ketemu di Australia, dan sekarang jadi ibu rumah tangga (saja)". sosok itu pun masuk ke dalam mobil. dan pak dosen kami yang masih muda, masuk ke dalam gedung jurusan.
kedua : seorang dosen cantik sedang duduk di depan mahasiswanya di meja bundar. untuk membimbing mata kuliah LitKim alias Literatur Kimia. Panjang lebar seputar materi, akhirnya sampai pada sesi menceritakan pengalaman beliau pribadi. Tentang bagaimana usahanya untuk bisa lulus UMPTN, dan kuliah sehingga tidak dipaksa berjualan di toko keluarganya. Kemudian usahanya mencari beasiswa ke luar negeri, supaya bisa sekolah bareng dengan suaminya yang juga akan belajar di negeri yang sama. keluar dari perpustakaan universitas kalau mau ditutup, jarang tidur, minum kopi kental campur garam supaya tetap bisa terjaga. dan usaha keras lainnya. dan kemudian bu Dosen cantik itu pun mengatakan satu kata emas, yaitu " ya..itulah HARGA YANG HARUS DIBAYAR. kalau kalian ingin sukses, atau kalian iri dengan kesuksesan orang, amatilah berapa besar harga yang harus dibayar untuk meraih semua itu."
Dua fragmen tadi tidak sempat terlupakan. Terlebih ketika satu demi satu, keputusan harus diambil dari beberapa pilihan yang ada.
Dan sampailah pada titik jalan ini. Dimana, predikat ibu rumah tangga menjadi sebutan bagi perempuan yang tidak punya institusi/kantor.
Memutuskan profesi ini tentu ada harga yang harus dibayar. kurangnya akses untuk bertemu banyak orang secara langsung, sulitnya bepergian untuk ini itu karena harus mengantar jemput anak, dan usaha tak henti-henti untuk mengingatkan diri sendiri bahwa setiap kegiatan rutin itu berharga di mata Alloh SWT; adalah salah satu dari harga yang harus dibayar.
Dibayar untuk apa?
Untuk kesehatan anak, suami yang bisa dikelola dengan baik
Untuk waktu luang yang bisa dimanfaatkan mempelajari skill lain dan ilmu agama
Untuk kesempatan memberikan bimbingan parenting pada anak sebaik mungkin
Untuk anak yang melambaikan tangan dengan gembira, ketika kita sudah sampai di depan pintu kelasnya
Untuk mereka yang sibuk di atas kasur, satunya membaca buku tebal tentang alam dan tubuh manusia, satunya sibuk menata potongan pizza penghapusnya serta kartu bergambar dora. Sibuk belajar berkonsentrasi
Untuk orang tua dan mertua yang tenang karena cucunya diasuh dengan baik dan ibunya selalu ada
Untuk baju, celana, mukenah dan sarung yang bisa dipastikan suci dan layak untuk dipakai beribadah. Tidak dicuci dan dicampur dalam bak cucian sekenanya saja oleh PRT.
Untuk deretan empat sajadah hijau, ketika maghrib, kemudian bersama melafalkan doa untuk orang tua dan doa kebaikan di dunia dan di akherat, dipimpin oleh anak sulung, dan diikuti oleh anak bontot yang hanya bisa menggumam konyol, "Nyo..nyo..nyo.."
Untuk anak dan suami yang riuh rendah bersilat di atas kasur ketika suami pulang kerja, dengan tawa dan jurus-jurus baru
Untuk mudahnya merawat anak yang sakit, sehingga bisa lekas sembuh, juga mengajari mereka, bahwa jika bisa rela untuk sakit dan berdoa minta sembuh,maka dosanya bisa digugurkan oleh Alloh SWT
Untuk ada di samping anak, ketika mereka bertanya, "Ma, yang daging buahnya paling banyak itu buah apa ya?, dan kita bisa menjelaskannya panjang lebar
Untuk satu-dua kalimat baru yang bisa dikatakan oleh anak balita kita. Dan kita menyambutnya dengan girang, memeluknya dan mengatakan, "horee...sudah bisa bilang RRR"
Untuk beberapa hal lain yang bikin penuh halaman jika dituliskan
Juga sebaliknya,
kemudahan mencari nakah ketika meninggalkan rumah dan anak dalam pengasuhan orang lain. Lebih banyaknya akses teman ataupun rejeki. Sehingga kita bisa menyenangkan hati saudara, keluarga dan teman dengan rejeki kita.
Lalu sesampainya di rumah,
anak hanya sebentar tersenyum, lalu menangis meraung-raung meminta ini itu. Dan kita tidak punya pilihan lain kecuali menurutinya. Karena badan kita pun sudah lelah tiada tara.
Atau anak dan suami begitu bahagia setelah food delivery datang, sebelum kita pulang kantor.
Itu juga termasuk harga yang sudah kita bayar.
Satu hal mudah
Satu hal sulit
Akan menjadi kurang bijak, jika kita menginginkan hal yang sama terjadi. Atau dengan kata lain, "Benda" yang sama akan kita peroleh. Padahal harga yang harus kita bayar itu berbeda jumlahnya, bentuknya juga kualitasnya.
Kurang bijak juga jika kita menilai orang lain lebih "patut dikasihani" karena tidak mendapatkan "benda" seperti kita. Sebelum tahu alasannya yang paling tepat. Karena tujuan hidup yang dipahami semua orang, umumnya, tidak sama.
Seperti kata orang bijak, lakukan apapun terserah kamu. Asal ingat, kelak kau akan dimintai pertanggungjawaban atas semua yang kau lakukan;
Jadi, tentukan tujuan hidup yang ingin kita capai. Lalu lakukan semua hal yang bisa mendukungnya. Apapun yang menyertainya, kesusahan, kemudahan, dsb, adalah harga yang harus kita bayar.
Dan ALLOH SWT tidak pernah tidur.
Dan akan membayar kontan dengan "barang" terbaik yang diberikan sesuai seberapa "besar" harga yang telah kita bayar. Walaupun hal itu tidak nampak kasat mata di hadapan manusia lainnya.
Selamat memilih tujuan hidup ini kawan
TOMBOne ATI
Aa menjawab,
Hidup ini adalah rahasia Alloh. Dan Alloh paling tahu mana yang terbaik untuk kita. Jikalau kita belum mendapat jodoh, Alloh pun tahu bagaimana rasanya hati ketika sedih melihat kawan sudah pada menikah dan menggendong anak. Bagaimana hati begitu sakit, ketika orang tua, saudara dan lingkungan bertanya, “kapan nih menikah?”. Atau betapa pedihnya hati ketika teman yang lama belum bertemu kemudian bertanya,”hei sudah berapa anaknya?”. Padahal menikah aja belum, boro-boro punya anak.
Rasa sedih, nelangsa, perih dan sebagainya itu adalah rasa yang diciptakan oleh Alloh. Untuk membuat manusia teringat lagi, bahwa kepada Alloh-lah manusia itu harus kembali. Dan jika kita ikhlas, lapang dada menerima semua rasa yang tidak enak itu sebagai bagian dari episode hidup kita; serta berusaha keras untuk tetap ada di jalan yang benar dan disukai oleh Alloh, maka ketidak enakan itu bisa menjadi PENGGUGUR DOSA-DOSA KITA. Bahkan ketika ada duri menusuk kaki kita pun, asal kita ridho, itu pun menjadi penggugur dosa kita.
# # #
Formasi ruang yang baru saya ubek-ubek di rumah, ternyata bisa menjadi hawa baru. Menyenangkan, karena radio gede yang selama ini membisu di ruang tamu, menjadi ramai setelah saya pindah di kamar belakang. Yang kami tetapkan sebagai kamar orang tua. Suara radio ini menemani saya di dapur yang berjarak satu kepal saja dari kamar. Alias dibatasi oleh sekat pintu tripleks buatan suami saya sendiri dan jendela kaca bekas bongkaran ruangan lama.
Shubuh itu, radio Delta FM kembali saya putar. Di waktu biasa, lagu-lagu Indonesia diputar nonstop. Nyaris tanpa jeda. Jarang sekali ada iklan atau penyiar yang berbicara. Full music Indonesia. Asyik deh. Nah, kalau shubuh ternyata ada siaran langsung dari Aa Gym, juga pembicara lain yang kala itu adalah ustadz Hilman Rosyad.
Topic yang disampaikan Aa Gym, seperti biasanya yaitu motivasi untuk beribadah lebih baik. Nah kemudian ada sesi Tanya jawab. Aa Gym membacakan surat yang ditujukan kepada beliau. Jawabannya sangat mengena dan menghibur hati saya. Seperti yang saya tulis di ataslah lengkapnya.
Dua kalimat kunci :
1. rasa sedih dan sejawatnya itu adalah rasa yang sengaja diciptakan Alloh untuk membuat kita teringat pada-NYA
2. jika kita ikhlas akan kepedihan itu dan tetap berusaha di jalan Alloh, maka kepedihan itu bisa menjadi PENGGUGUR DOSA kita.
Dua kalimat itu menjadi titik pencerahan untuk saya. Bahwa, beberapa kepahitan yang harus saya telan di masa lalu. Yang tersembunyi dari pandangan manusia lainnya. Ternyata pasti diketahui oleh Alloh. Dan rasa itu, yang ketika sudah mencapai puncak pahitnya, membuat saya akhirnya menyerah dan menerima episode ini. Kemudian ternyata menyerah bukan berarti kalah.
Setelah saya menyerah, dibukakanlah beberapa hal baru yang malah lebih “gue banget”. Jadi, tugas saya selanjutnya adalah, berusaha tetap berada di jalan yang diridhoi Alloh, sehingga kepedihan di masa lalu itu bisa menjadi penggugur dosa saya itu.
Tentang dosa, pahala, Alloh yang Maha Melihat dan Adil dalam memberikan balasan atas perbuatan kita, akan saya uraikan dalam tulisan selanjutnya. Semoga bermanfaat.
CANTIK
Di masa remaja, aku panas dingin dan marah ketika ada mata lelaki yang memandangku tanpa berkedip. Apalgi sampai SKSD, Sok Kenal Sok Dekat.
Dan karena aku ingin pintar. Dan pintar tidak perlu cantik. Atau kalau perempuan sudah pintar, otomatis akan terlihat cantik. Maka aku mengtasbihkan diri sebagai perempuan pintar yang tidak peduli dengan kecantikannya.
Alhasil, aku tidak peduli juga dengan ini itu yang harus dilakukan setiap orang agar tampil cantik. Make up, facial, creambath, dll yang menguras uang dan tenaga.
Efek buruknya, aku keterusan merasa tidak cantik. Dan ketika menikah, tanpa kusadari aku ingin disebut cantik. Dan mereka, kaum perempuan yang merasa dirinya lebih cantik dari aku, juga sudah terbiasa menertawakanku ketidakcantikanku itu. Akhirnya aku sedih, kok aku tidak cantik.
Maka aku berusaha untuk memperbaiki diri. Aku beli alat make up yang praktis, karena aku masih tidak suka repot. Aku mencoba merawat sendiri kulit wajahku, karena aku juga masih pelit untuk mengeluarkan aneka rupiah untuk hal-hal selain buku bagus. Aku tidak malu dengan bajuku yang jadul alias nggak ganti-ganti, itu-itu juga. Yang penting bersih dan halal, itu prinsipku.
Karena aku tidak terbiasa berdandan, maka acara menjadi cantik pun hanya berjalan sebentar. Gerah. Sumuk. Tidak nyaman. Aku tidak suka cantik. Kalau itu merepotkan. Tapi suamiku bersiul-siul dan matanya berbinar ketika aku berdandan. Yah,terpaksa aku harus kembali cantik.
Tapi, mereka, burung kutilang yang suka mematukkan pelatuknya pada hati perempuan sepertiku, masih enggan berhenti. Mereka masih suka mencerca. Menertawakan pilihan warna bajuku, warna lipstick dan bedakku. Dan menjulukiku seperti topeng yang baru saja makan singa hidup-hidup. Ah, kenapa aku tidak jua cantik ya? Aku kembali sedih karena tidak cantik.
Dan kesedihan itu membuatku malas bertemu para burung kutilang pesolek itu. Aku sempat memperhatikan mereka. Rasanya, aku jauh lebih cantik daripada mereka. Bahkan ketika aku tidak bersolek. Namun suara ejekan mereka lebih riang daripada suara batinku. Dan aku semakin yakin bahwa aku tidak cantik. Aku jelek.
Lalu, datanglah seekor burung gagak. Dia tentu tidak cantik. Tapi anaknya mirip sekali burung Nuri. Anaknya cantik. Ibu Gagak dan Anak Nuri ini memujiku dengan tulus. Bahwa dari sejak dulu, mereka memuji kecantikanku. Dan malah menyebarkannya ke seantero hutan, bahwa akulah yang paling cantik dalam trah keburungan. Aku cantik dari lahir. Tanpa perlu bersolek.
Untuk pertama kalinya aku tersenyum. Lalu menerima pantulan wajahku di cermin dengan lebih senang hati. Eh iya, benar, aku memang cantik.
